Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 22-03-2015 | 21:38:41
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : ‘HENDAKLAH KAMU SALING MELAYANI’

Yoh 13:1-15; Kamis, 2 April 2015

Kesalingan mestinya menjadi warna dasar sebuah kebersamaan. Tetapi mendengar topik ini, “Hendaklah kamu saling melayani”, kita perlu bertanya diri ada apa dengan kebersamaan kita. Dalam kata-kata ini tersirat kenyataan bahwa dalam hidup harian kita, kesalingan telah kehilangan gaungnya entah karena situasi atau karena kita makin individualistis. Dalam hubungan dengan pelayanan, kita belum saling melayani atau kita lebih suka dilayani dari pada melayani; pelayanan kita bukannya mempersatukan tetapi sebaliknya menciptakan kotak-kotak tidak kelihatan dalam kebersamaan itu. Lebih parah lagi hal ini terjadi bukan karena ke-betulan tetapi karena perencanaan yang sistematis, bahkan telah berubah menjadi kultur yang sedang kita hidupi. Kita malah berpikir semakin banyak orang yang melayani kita semakin bertambah prestise kita. Menjadi orang besar tanpa ada pelayan akan disangsikan, menduduki posisi tinggi tanpa ada yang melayani di sekitarnya dianggap sebagai hal yang ganjil dan tidak dapat dimengerti. Posisi-kedudukan tidak lagi dilihat sebagai kesempatan untuk melayani sebanyak mungkin orang tetapi dijadikan peluang untuk dilayani tidak sedikit orang. Tak heran bila ada yang geleng kepala bila seorang bos melakukan tugas yang seharusnya dikerjakan oleh sang pelayan.

Kita tentu punya banyak kenangan dan berbicara tentang kenangan boleh jadi hal ini membangkitkan kembali kenangan anda akan saat-saat indah yang pernah anda lalui ataupun membuat anda teringat akan situasi suram yang pernah melukai hati dan hidup anda. Kenangan tidak akan pernah mati walaupun kita telah tiada, dia bernilai abadi.Tanpa mengabaikan kenyataan ini, di sini hendak dikatakan bahwa selain punya kenagan, setiap orang ingin dikenang. Dan cara untuk dikenangpun berbeda dari orang ke orang, didasari dengan motivasi yang tampil dalam beragam wajah. Yohanes mencacat bahwa ketika makan bersama para muridNya, Yesus menanggalkan jubahNya lalu membasuh kaki pengikut-pengikutNya. Kemudian Dia meminta agar para muridNyapaun melakukan hal yang sama,‘Kalau kamu mengasihi Aku, kamu harus melakukan apa yang kutunjukkan kepadaMu, hendaklah kamu saling melayani’. Dala hal ini, kesalingan untuk melayani punya nilai ganda; sebagai bukti bahwa para murid punya kasih satu terhadap yang lain, demikian juga terhadap Yesus dan di sisi lain sebagai bukti bahwa mereka adalah muridNya/bukti kemuridan. Para murid diminta untuk menampilkan semangat hidup yang berbeda dari apa yang dihidupi dunia. Bila dunia menghidupi semangat dilayani, para pengikut Yesus mesti menghidupi spiri-tualitas pelayanan, mengabdi dengan hati tanpa pengkotakan. Siapa dan apapun posisi yang kita miliki, setiap kita adalah pelayan tanpa kecuali. Bagi Yesus apapun kedudukan yang kita miliki, hal itu harus dilihat sebagai kesempatan untuk melayani sebanyak mungkin orang bukan sebaliknya. Di sini pelayanan menjadi bukti kasih kita kepadaNya, bila tidak kasih kita tak jauh berbeda dari sebuah iklan yang masih harus dibuktikan kebenaran kata-katanya. Karena kasih terhadap Tuhan hanya bisa dibuktikan lewat pelayanan, pengabdian kita terhadap sesama. Mengasihi Tuhan tetapi enggan melayani sesama, ini satu bentuk pengkhianatan terhadap rasa kasih, Tuhan hanya mungkin dilayani, dikasihi lewat pelayanan dan kasih kita kepada sesama. Mengasihi Tuhan tetapi menuntut untuk dilayani, ini satu hal yang bertentangan semangat Yesus sang guru yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Kadar kasih kita diukur oleh kesediaan dan kualitas pelayanan kita terhadap sesama. Semakin besar kadar kasih kita terhadap Tuhan mestinya semakin tinggi kualitas pelayanan kita. Kasih dan pelayanan adalah dua hal yang berbeda tetapi dalam perbedaan itu keduanya saling mempengaruhi. Perpaduan, keserasian antara keduanya menjadi bukti kualitas seorang murid. Seorang murid mesti punya rasa kasih yang mengabdi dan kesediaan untuk mengabdi berlandaskan kasih. Bila kesalingan untuk melayani merupakan satu kebaikan, jangan takut untuk berbuat baik, karena kebaikan anda bernilai abadi, anda akan tetap hidup setiap saat kebaikan anda diceriterakan walaupun anda telah tiada.

Anda dan saya, kita punya hati, punya kasih tetapi apakah kita punya kesediaan melayani siapa saja tanpa pengkotakan masih harus dipertanyakan. Kasih dan pelayanan adalah dua hal yang berbeda yang sulit dipisahkan. Kasih menentukan mutu pelayanan, memberi warna special pada sebuah pelayanan dan pelayanan menjadi ungkapan rasa kasih yang kita miliki, apa yang kita lakukan mesti menjadi ekspresi kasih yang kita miliki. Dunia tempat kita mengais hidup membu-tuhkan kehadiran orang-orang yang tidak saja memiliki rasa kasih tetapi juga punya semangat melayani. Dunia kita yang terluka, kebersamaan kita yang terkoyak-koyak dan kasih kita yang dipertanyakan akan disembuhkan bila kita siap untuk melayani satu sama lain karena kita adalah murid-muridNya. Jangan berhenti menunjukkan kasihmu lewat pelayananmu terhadap sesama karena saat anda berhenti mengasihi dan melayani, di saat itu jantung kemuridan anda berhenti berdetak.

 

[ back ]