Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 27-02-2015 | 21:53:53
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : KEMBALILAH KE YERUSALEM

Kita semua mendambakan kebahagiaan, kita menghendaki perubahan dalam hidup. Dan yang menentukan dinikmati tidaknya apa yang kita dambakan, apa yang kita kehendaki adalah diri kita sendiri. Kebahagiaan kita tidak ada di luar sana, perubahan tidak harus dicari di atas gunung. Kitalah sumber kebahagiaan itu, kitalah agen perubahan itu. Masa puasa adalah saat berahmat untuk. (Mrk 9:2-10)

"Suatu malam dalam tidur saya bermimpi tentang kebahagiaan, menjelang pagi ketika terbangun, saya menemukan kenyataan bahwa kebahagiaan yang diimpikan harus diperjuangkan. Kebahagiaan, kesuksesan dan keberhasilan ada untuk kita semua tetapi tidak semua kita akan menikmatinya. Yang mencarinya akan bertemu dengan dia, yang mengetuk pintunya akan masuk ke ruangnya. Di sini hendak ditegaskan bahwa bermimpi saja tidak cukup untuk sebuah perubahan. Perubahan hanya milik mereka yang berusaha untuk berubah. Saya tidak tahu apakah mimpi ini pernah mengusik tidur anda atau tidak. Tetapi satu hal saya tahu pasti kita semua mengimpikan kebahagiaan apapun situasinya. Yang membuat kita gagal untuk meraih apa yang kita impikan adalah sikap mental kita yang tidak mau beranjak dari mimpi; yang kita punya adalah mental pemimpi bukan mental pejuang. Karena itu perubahan akan terjadi kalau mental kita dirubah, dibaharui. Kebahagiaan tidak akan datang bila tidak diundang, diusahakan dan dia akan pergi bila kita tidak berusaha mempertahankannya. Abraham hanya mungkin memasuki negeri yang dijanjikan ketika dia bersedia "mengorbankan" anak tunggalnya.


Kita sedang menjalani masa puasa, saat berahmat untuk membangun kembali kebahagiaan yang hilang, menemukan kembali tempat kita di hati sesame dan di hadapan Tuhan. Kuncinya ada pada diri kita bukan jauh di luar sana ataupun di atas gunung. Kesediaan Abraham untuk menyerahkan anak tunggalnya telah membuat dia menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Pengorbanan Yesus mendamaikan kita manusia dengan Allah. Lalu tempat di mana kita ada dan mengais hidup adalah arena di mana kita bisa menikmati suasana Tabor dan mendapat tempat di hati Tuhan dan sesama. Banyak kejadian di sekitar kita yang membuat kita terpana, bila itu mengesankan kita ingin menikmatinya selama mungkin atau bila mungkin selamanya. Hari ini kita diundang untuk menyaksikan peristiwa Tabor. Kejadian di atas gunung Tabor membuat Petrus terpana. Suasana yang jarang direkam mata membuatnya memberikan reaksi spontan dan menganjurkan agar mereka membangun kemah di sana. Reaksi Petrus adalah reaksi yang sangat manusiawi, reaksi yang mewakili kecenderungan kita untuk bertahan pada posisi yang menyenangkan sedapat dan selama mungkin. Yang menarik adalah diamnya Yesus dan gunung menjadi medannya. Ada banyak gunung yang kita kenal dan ribuan tempat tinggi yang kita saksikan, mungkin juga kita adalah orang gunung. Gunung punya aneka arti; sindiran bagi mereka yang ketinggalan jaman; orang gunung. Bagi orang kampung gunung adalah tempat diam wujud tertinggi/arwah para leluhur. Gunung juga lam-bang kemegahan, lukisan keangkuhan manusia yang lupa dari mana mereka berasal. Gunung bisa juga lambang dari satu titik akhir perjuangan. Bagi Yesus penampakan ini mengisyaratkan situasi masa datang sesudah misiNya di dunia ini berakhir karena itu turun dari gunung adalah satu keharusan. Tempat mereka bukan Tabor, mereka perlu kembali ke Yerusalem medan di mana situasi Tabor dapat dipateri jadi kenyataan. Bagi Yesus bagaimana kita menghadapi hidup harian kitalah yang akan menghantar kita mengalami situasi Tabor; menjadi orang-orang yang berkenan dalam kebersamaan. Sedangkan penampakan itu hanyalah pesona yang menggerakkan dan menjadi jiwa seluruh perjuangan kita ke Tabor. Kesediaan Abraham dan sikap Yesus menandakan bahwa situasi Tabor dan berkat melimpah bukan satu anugerah cuma-cuma melainkan mahkota dari satu perjuangan panjang di Yerusalem keseharian kita. Bagi Petrus, dari pada turun gunung lebih baik pertahankan situasi penampakan itu dengan berkemah di sana. Sikap Petrus merupakan representasi sikap kita yang ingin terus berada pada situasi mapan dengan cara apapun. Menariknya, tanpa banyak kata, Yesus beranjak perlahan-lahan menuruni gunung itu menuju Yerusalem.


Siapakah kita dalam kebersamaan ini; Yesus yang melihat penampakan di gunung sebagai satu isyarat bahwa segala sesuatu yang kita inginkan perlu diperjuangkan atau Petrus yang ingin menikmati situasi penampakan tanpa harus bersusah payah turun ke Yerusalem dan bergerak lagi dari sana. Cita-cita dan kerinduan kita harus menjadi jiwa dari seluruh aktivitas kita. Untuk menjadi manusia baru, manusia yang berkenan dalam kebersamaan, kita mesti kembali ke kenyataan keseharian kita dan melihat segala kemungkinan bagaimana menemukan langkah baru yang memungkinkan kita kembali berada dan mengalami situasi penam-pakan, menjadi orang-orang yang punya tempat dalam hati sesama. Bila kita telah mengalami situasi penampakan, jangan lupa melihat kembali situasi Yerusalem tempat banyak orang masih tertatih-tatih untuk mengalami situasi ini. Ada banyak orang yang sedang bermimpi tentang hari esok yang lebih baik, kita mesti merasa terpanggil untuk mengubah impiannya menjadi kenyataan. Bila kita tak sanggup membantu mereka, jangan pernah tegah membuyarkan mimpi mereka.

"Kebahagian, kesuksesan, perubahan, hidup baru hanyalah milik para pejuang…diri kita, Yerusalem keseharian kita adalah arenanya."

 

[ back ]