Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 10-01-2012 | 23:59:40
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : BERTERUS TERANG
Yoh 1:19-28, Senin, 2 Januari 2012

Mendengar topik ini dan coba menelusuri makna yang diwakilinya, saya berpendapat bahwa kata-kata ini sebenarnya mengungkapkan kecenderungan ataupun kebiasaan kita untuk berputar-putar, tidak langsung pada pokoknya dalam menyampaikan sesuatu sehingga kita sendiri sulit dimengerti dan apa yang mau disampaikan tidak gampang dimengerti bahkan sampai membi-ngungkan; antara suka dan tidak suka tidak jelas; menerima ataupun menolak; selalu menggan-tung. Yang terjadi, kita berharap lawan bicara kita dapat memahami sendiri apa yang kita sam-paikan padahal kita sendiri tahu bahwa tidak semua orang punya kemampuan untuk membaca apa yang kita maksudkan. Selain itu kata-kata ini juga mengungkapkan bahwa berterus terang bukan satu pekerjaan yang mudah, kita harus bergulat dengan diri kita sendiri; ada aneka alasan dan beragam pertimbangan untuk itu; kita takut bersikap terbuka atau mungkin kita terlalu perasa atau mungkin kita punya pengalaman buruk dengan hal yang satu ini. Lebih dari itu pernyataan ini bisa menjadi jawaban mengapa kita menemukan banyak soal dalam kebersamaan; kata-kata kita sering tidak menjadi wakil yang baik dari apa yang ada dalam hati kita atau tidak meng-ungkapkan keadaan yang sebenarnya. Karena itu, kata-kata inipun dapat dijadikan dorongan agar kita lebih bersikap terbuka; menga-takan apa adanya tanpa meng-ada-ada bila kita menghendaki ceritera hidup ini berubah. Bila hal ini kita lakukan banyak soal dapat dihindari, tidak sedikit masalah dapat diatasi. Tetapi untuk itu kita mesti mengalahkan diri kita sendiri.

Perayaan natal mulai menjadi masa lampau saat kita menjejakkan kaki pada gerbang tahun baru, tetapi mestinya tidak demikian dengan pesan-pesan natal yang kita rekam selama perayaan ini berlangsung. Harusnya pesan-pesan ini sudah mulai nampak dalam keseharian kita, mempe-ngaruhi hidup kita dalam membangun relasi dengan dunia. Ini berarti saat ini mesti menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa kita sungguh memahami makna dari pesta kelahiran yang kita rayakan karena perayaan itu tidak dengan sendirinya membawa perubahan bila kita sendiri tidak mengartikannya. Tahun yang baru bukan sekedar perubahan angka tetapi lebih se-bagai satu perubahan kebiasaan hidup. Ada tanda-tanda bahwa di tahun baru ini kita juga bersedia hadir sebagai manusia-manusia baru; manusia-manusia yang mau berterus terang; memberi kesaksian bahwa yang lahir bukanlah Yesus tetapi diri kita-lah yang dilahirkan baru. Salah satu cara untuk membuktikan hal ini adalah dengan mengurangi kebiasaan berputar-putar dalam menyampaikan sesuatu. Dalam hal ini, kita mesti belajar dari Yohanes Pembaptis. Saat banyak orang mempertanyakan siapa dia; dengan terus terang ia mengatakan bahwa ia bukan mesias yang dinantikan; ia hanya pewarta yang menyiapkan kedatangan mesias. Di sini kata sikap ‘berterus terang’ menjadi nada dasar pesan ini. Berterus terang berarti tidak berputar-putar; mengatakan apa adanya tanpa mengada-ada; apa yang kita katakan sesuai dengan apa yang ada dalam hati kita. Tekanan ini merupakan awasan bagi kita untuk berhati-hati dengan kecen-derungan kita yang lebih berdampak negatif ketimbang positif. Kita cenderung menari dengan irama lain di bibir lain di hati. Sikap terus terang memung-kinkan kita terhindar dari salah paham atau salah tafsir terhadap apa yang disam-paikan. Yohanes dengan tegas dan jelas menyatakan siapa dia; dia hanya bersaksi tentang orang yang mereka nantikan tetapi dia bukan orang yang mereka nantikan. Seperti Yohanes, kita dipanggil untuk menjawabi kebingungan sesama atas keha-diran kita; kita harus menunjukkan bahwa kita orang-orang kristen bukan dalam kata-kata tetapi dalam hidup. Hidup kita harus menjadi bukti kesejatian kita sebagai orang-orang kristen; orang-orang yang bersaksi tentang Kristus lewat hidup.

Kita ingin menjadi orang-orang benar dan kita semua punya kerinduan untuk menemukan kebenaran. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa dewasa ini wajah kebenaran semakin sulit dilukiskan; yang fakta bisa jadi fiktif dan yang fiksi bisa jadi fakta dan fatwa. Inilah yang menjadi sebab kemapanan hidup kitapun semakin menggelisahkan ataupun digugat. Sebagai orang-orang yang mengimani Allah yang adalah sumber kebenaran, kitalah yang mesti merasa terpanggil untuk mengumpulkan serpih-serpih kebenaran yang tercecer, membangkitkan sema-ngat untuk berterus terang tanpa mengada-ada. Tetapi untuk itu, kita mesti siap mengalahkan diri sendiri agar apa yang kita katakan sesuai dengan apa yang ada dalam hati ataupun benak kita. Kalau kita tidak bisa berterus terang biarlah kita menjadi orang yang mau belajar dari sesama bagaimana hidup apa adanya tanpa mengada-ada. Bila tidak, jangan suka berputar-putar karena dunia yang sudah bingung akan semakin bingung oleh sikap kita.

“Kita tidak suka akan kegelapan tetapi kita belum mampu berterus terang, seandainya mental ini dirubah banyak soal dalam hidup ini bisa dihindari”.
[ back ]