Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 10-01-2012 | 23:57:01
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : TAHUN BARU
Luk 2:16-21, Minggu, 1 Januari 2012

Angka tahun telah bertukar, yang lama perlahan menjadi masa lampau walaupun bukan untuk dilupakan. Satu tahun lagi kita tapaki, satu kesempatan baru diberikan kepada kita. Untuk itu, “Selamat tahun baru”. Mungkin anda baru saja selesai melayani tamu yang datang berkunjung ataupun baru kembali ke rumah setelah seharian keluar untuk menyalami tetangga dan sahabat kenalan. Selamat tahun baru; kata-kata ini merupakan kata-kata yang sudah biasa kita ucapkan entah langsung, melalui kartu dan SMS kepada mereka yang kita kenal. Kata-kata ini sering kita ucapkan sambil mengulurkan tangan, memberi rangkulan dan ciuman. Kata-kata ini dengan segala ekspresinya mengisyaratkan; luapan syukur karena kita telah melampaui tahun lama dengan baik dan boleh memasuki tahun yang baru. Kata-kata yang sama mengungkapkan keterbukaan dan kerelaan kita untuk melepaskan tahun yang lama dengan segala pahit dan manisnya. Kita siap menyongsong tahun yang baru yang masih menyimpan 1001 teka-teki yang mesti diungkap. Selain itu, di balik kata-kta ini terbersit harapan setiap kita; semoga tahun yang baru ini membawa berkat dan keselamtan. Si penerima dan kita sendiri memperoleh sejahtera di tahun yang sedang mulai kita tapaki. Lebih jauh dari itu; mau diungkapkan kenyataan bahwa sudah tidak ada lagi rintangan yang menciptakan jurang pemisah antara saya dengan anda. Sebagaimana berlalunya sang waktu; tidak ada lagi saling marah, iri, dendam, cemburu dan rasa-rasa lain yang memisahkan kita dengan kita. Yang lama mau kita tinggal tanggalkan dan kita coba mengenakan manusia baru; manusia-manusia yang dikuasai oleh kasih yang menyatukan segala perbedaan; manusia-manusia yang kehadirannya membawa selamat. Ungkapan ini jadi basa-basi bila masih ada rintangan antara saya dengan anda, kita dengan mereka. Kita lakukan ini hanya sekedar pamer dan mengarus.

Perputaran sang waktu membawa banyak perubahan dalam hidup kita; musim berganti, cuaca berubah dan tahun bertukar. Itulah Yang menyebabkan tahun baru yang kita nantikan sedang kita tapaki dan sebentar lagi akan menjadi masa lampau ketika kita kembali masuk dalam rutinitas kita. Banyak perubahan terjadi di sekitar kita, adakah perubahan inipun berdampak bagi diri kita; adakah sedikit perubahan dalam hidup kita? Ataukah kita sendiri tidak bergeming seperti sebuah patung yang tidak mampu berbuat apa-apa? Bagi kita orang beriman yang penting bukan barunya tahun, berubahnya angka tetapi adanya perubahan dalam diri kita. Mestinya dari tahun ke tahun hidup dan relasi kita menjadi semakin baik; yang kauh perlahan mendekat dan yang dekat semakin merekat. Kita mesti merasa terpanggil untuk memberi warna baru bagi tahun yang lorong-lorongnya mulai kita telusuri. Apa artinya perubahan angka tahun bila hidup kita sendiri tidak berubah? Pakaian baru yang kita kenakan, makanan dan minuman yang kita siapkan tidak banyak berarti bila semuanya ini tidak mampu meruntuhkan tembok-tembok tidak kelihatan yang selama ini memisahkan kita dengan kita. Kepada Harun, Allah berkata; bangsa Israel akan menjadi bangsa yang terberkati, dilindungi dan damai sejahtera akan dilimpahkan kepada mere-ka. Tetapi untuk semuanya itu mereka terlebih dahulu harus membuka diri, membiarkan berkat dan rahmat itu punya tempat dalam hati dan hidupnya, merasuki jiwanya. Dan ini hanya mungkin bila mereka bersedia meninggalkan masa lalunya, segala yang selama ini menjadi perintang. Seperti Allah yang bersedia memberkati semua orang; demikian juga mereka mesti menjadi berkat bagi sesamanya; bukan cuma dalam kata melainkan lebih dalam hidup. Di tahun yang baru ini, seperti Harun, kitapun diingatkan untuk menjadi berkat bagi sesama; karena bila dahulu Allah berbicara melalui para nabi dan PuteraNya; Pada jaman ini, di tahun ini kitalah yang dipanggil Allah untuk berbicara atas namaNya. Tetapi untuk itu kita mesti belajar bagai-mana beriman seperti yang ditunjukkan Maria, wanita yang dipilih menjadi bunda Allah, penebus kita. Dia dipilih menjadi bunda penebus dengan alasan yang sederhana, dia terbuka terhadap kehendak Allah. Kita dapat menjadi seperti dia, pengaruh ucapan selamat yang kita sampaikan akan terlihat dalam cara hidup, tutur kata dan laku kita; di mana kita hadir di sana sesama merasa diberkati, menikmmati kedamaian dan mengalami suasana selamat.

Banyak hal yang sudah kita lalui, tidak sedikit utang yang mesti kita tuntaskan di tahun yang baru ini. Dan kita sedang menikmati suasana tahun baru, ada kegembiraan, ada pula kecemasan karena karena tahun yang baru ini ibarat sebuah rimba yang harus dijelajahi, sarat rahasia dan penuh teka-teki. Kita butuh kompas penunjuk jalan. Gereja telah memilih orang yang pas untuk tugas ini. Bila kita seperti Maria; rendah hati dan terbuka terhadap rahmat Allah, ucapan selamat tahun baru bukanlah satu ucapan sekedar basa-basi tetapi sungguh bermakna karena kita sungguh mau menjadi pembawa berkat dan selamat bagi sesama. Selamat tahun baru.

“Perubahan angka tahun mestinya melambangkan perubahan dalam hidup dan relasi kita dengan Tuhan dan sesama sehingga uluran tangan yang kita berikan punya arti bagi kita dan mereka yang menerima”.
[ back ]