Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 17-11-2011 | 23:12:25
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : BACA TANDA YANG ADA
Mateus 12:38-42,Senin, 18 Juli 2011

Ada banyak tanda yang kita temui dalam hidup ini dan ada banyak tanda yang sudah kita terima dari tidak sedikit orang karena apa yang kita lakukan atau karena pengabdian kita bagi satu karya kebersamaan; tanda-tanda, tanda mata, tanda jasa, tanda alam, tanda konvensianal dan tanda yang menjadikan seseorang khas dalam kebersamaan. Dan hidup menyatu dengan alam, memungkinkan kita me-mahami rahasia di balik gejala-gejala alam sehingga ada-ada saja tafsiran tentang aneka kejadian alam. Satu kejadian dapat ditafsir dari aneka aspek; boleh jadi ia mewakili realitas sebenarnya, mungkin juga menjadi duta satu realitas lain. Kejadian itu mengisyaratkan sesuatu. Itu satu tanda. Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain. Wajah cemberut duta sebuah hati yang suram. Bunga yang dikirim mewakili hati sang pemberi, selembar foto menjadi tanda ketakterpisahan relasi dua hati meski jauh dalam jarak. Suara yang terkirim via telepon adalah detak kerinduan orang yang berada di sebrang. Pendek kata kita diingatkan untuk berhati-hati/bijak menanggapi kejadian-kejadian di sekitar kita; jeli melihat realitas lain di balik apa yang ditangkap mata, pandai membaca yang tersirat di balik kata-kata yang tersurat dan sigap mendengar apa yang tidak dikatakan di balik kata-kata yang terucap.

Kita tahu bahwa hidup kita tidak terlepas dari tanda dan hidup kita dikelilingi aneka tanda. Karena tanda itu sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain maka tanda bisa dijadikan bukti; data yang dapat memperkuat satu kesaksian. Sampai di sini dan berhubungan dengan perikop injil hari ini ada satu pertanyaan yang mesti kita jawab; ’apakah anda membutuhkan tanda/bukti untuk bisa percaya pada sesuatu atau seseorang?’ Di sini harus kita akui bahwa dalam situasi tertentu ada hal-hal tertentu di mana bukti/tanda dibutuhkan untuk meyakinkan dan ada pula yang tidak membutuhkan tanda/bukti karena orang percaya akan kebenaran apa yang disam-paikan. Bukti/tanda dibutuhkan saat orang berada dalam keraguan, kebimbingan akan sesuatu/seseorang atau supaya orang mendapat alasan untuk bisa menolak atau mempersalahkan orang lain dan membenarkan tindakan sendiri. Lebih dari itu, tanda/bukti dipakai untuk me-nyakinkan atau untuk menggugat fakta. Kenyataan menegaskan bahwa kita tidak selalu mem-butuhkan tanda/bukti untuk bisa percaya/diyakinkan. Bila semua hal mesti difisikkan, dengan standar apa kita dapat mengukur kedalaman sebuah cinta atau keyakinan? Dapatkah anda bayangkan bagaimana jadinya dunia ini bila segala sesuatu mesti didasarkan pada tanda/bukti? Kepercayaan adalah soal kualitas jiwa, keterbukaan diri dan kesediaan hati untuk menerima ke-nyataan yang ada bukan banyaknya tanda. Ketika orang-orang Yahudi meminta tanda supaya mereka bisa percaya, Yesus berkata bahwa mereka hanya bisa diberi tanda nabi Yunus, nabi yang menobatkan orang-orang Niniwe. Orang-orang Niniwe berbalik haluan karena melihat tanda yang diperlihatkan Yunus. Bagi Yesus kepercayaan mestinya merupakan sesuatu yang harus muncul dari dalam diri manusia bukan sesuatu yang lahir karena dipaksakan dari luar, diyakinkan oleh sebuah tanda atau bukti. Kepercayaan adalah soal kebebasan menentukan sikap, kehadiran tanda merupakan paksaan. Kenapa Yesus tidak memberikan tanda selain tanda nabi Yunus? Karena Yesus tahu untuk apa mereka meminta tanda dariNya. Mereka meminta tanda bukan supaya mereka dapat percaya kepadaNya tetapi supaya mereka dapat menemukan alasan untuk membenarkan penolakan mereka terhadap diriNya. Di sin kita menemukan bahwa keselamatan ditawarkan kepada setiap pribadi dan tawaran ini mesti dijawab secara bebas oleh setiap pribadi. Kepercayaan yang dipaksakan dari luar tidak berakar; yang tumbuh dari kedalaman jiwa akan abadi. Karena itu setiap orang bebas menentukan sikap karena konsekuensinya pun sangat personal. Katakan terus terang bahwa anda menolak tidak perlu tanda untuk dijadikan alasan.

Iman/kepercayaan bukan soal banyak tidaknya tanda yang diterima tetapi soal hati. Hebatnya tanda tidak akan mampu mempengaruhi bila orang tidak punya hati. Ini tidak berarti kita tidak membutuhkan tanda. Karena beriman tidaknya seseorang sulit diukur hanya bisa dideteksi dari apa yang kelihatan, hidup kita. Hidup kita sendiri menjadi tanda terbesar beriman tidaknya kita. Kehadiran kita dalam kebersamaan mesti menandakan kehadiran Allah yang kita imani. Apakah memang demikian? Mungkinkah kehadiran kita mampu meyakinkan sesama untuk mengimani Allah yang kita imani dan menggugah hati mereka untuk berubah? Bila bunga adalah tanda sebuah hati, apakah hidup yang sedang kita jalani adalah tanda iman yang kita miliki?

“Bila orang meminta tanda pada diri anda, ingatlah bahwa mungkin kehadiran dan hidup anda kurang meyakinkan”.
[ back ]