Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 17-11-2011 | 23:09:12
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : JANGAN SIA-SIAKAN KEBAIKANNYA
Mateus 13:24-43, Minggu, 17 Juli 2011

Hidup adalah perjuangan mengalahkan kejahatan dalam diri dan peluang memperbesar wilayah kebaikan. Kita selalu bergerak antara dua kutub ekstrim ini; kita punya peluang untuk menjadi orang baik, kita juga punya potensi menjadi jauh lebih buruk. Kita punya dan diberi kesempatan yang sama; 1001 satu kemungkinan tersedia di hadapan kita, kitalah yang mesti menentukan kemungkinan mana yang mesti kita tempuh yang memungkinkan kita punya tempat di hati sesama dan bernilai di mata Tuhan. Yang menjadi soal adalah apakah kita jeli atau tidak dalam melihat peluang yang ada untuk menjadi jauh lebih baik ataukah kita menutup diri terhadap peluang yang ada karena kita enggan meninggalkan kegelapan hidup ini yang kadang begitu mempesona? Di sini kita mesti ingat; karena hidup dalam kebersamaan kita tidak dapat begitu saja mengabaikan pengaruh kehadiran sesama. Mereka juga punya peran menjadikan kita baik atau buruk, demikian pula kita terhadap mereka. Sejauh mana kita terlibat dalam hidup mereka dan seerat apa kedekatan kita dengan mereka? Pengaruh macam mana yang saling kita sharingkan? Adakah kehadiran kita berdampak positif bagi sesama ataukah kitalah ilalang dalam ladang hidup mereka yang mesti dikumpulkan dan dibakar?

Yang kita taburkan dan tumbuhkan di lading-ladang kita adalah tanaman yang dapat memperpanjang hidup dan membawa kesejahteraan bagi diri kita; ubi-ubian, sayur-sayuran, jagung, padi, gandum dan masih banyak lagi. Untuk itu huma dan ladang kita siapkan. Sebagai orang-orang yang tidak asing bagi dunia para petani dan mungkin juga kita anak petani, dalam dunia pertanian baik tradisional maupun modern; tidak dibenarkan ilalang dibiarkan tumbuh bersama dengan gandum. Pertama, bersih tidaknya lading atau kebun-kebun kita, darinya orang dapat menilai petani macam mana kita ini. Kedua, membiarkan keduanya tumbuh bersama memunculkan paling kurang dua kemungkinan; ilalang dengan kekuatan liarnya dapat mematikan, merusak tanaman yang ada ataupun kehadiran ilalang yang dibiarkan berkembang dapat mempengaruhi hasil panen yang kita impikan. Melihat dan mempertimbangkan kenyataan ini, setiap petani, siapapun dia, menghendaki ladangnya bebas ilalang dan tidak akan membiarkan ilalang tumbuh bersama gandum. Anehnya petani yang satu ini menabur dengan harapan mem-peroleh hasil yang berlimpah tetapi tidak menginginkan ilalang dicabut dari antara gandum. Baginya bukan hasillah yang menentukan nilai gandum yang ditaburkan tetapi yang terpenting bahwa apa yang ditaburkan dapat menghasilkan buah. Kisah ini hendak menunjukkan bahwa pikiran Tuhan jauh berbeda dari pikiran kita. Kalau kita tidak sabar seperti para pekerja, Dia tidak akan berubah karena bukan Dia yang membutuhkan kita tetapi kitalah yang membutuhkan Dia. Tuhan memberi setiap kita kesempatan yang sama untuk hidup dan menghasilkan buah. Iman kita kepadaNya mesti diberi kesempatan untuk bertumbuh dan sedapat mungkin mempengaruhi seluruh pola hidup kita seperti ragih. Dengan iman yang kita miliki, kita diharapkan dapat menjadi penabur gandum kebaikan dalam hidup. Kehadiran kita mesti menjadi cermin bagi sesama untuk menata hidupnya dan bertanya diri siapakah mereka dalam kebersamaan; penabur benih gandum atau penabur ilalang; gandum atau ilalang; biji sesawi yang bertumbuh menjadi besar dan menjadi tempat lindung sesama atau ragi yang mempengaruhi hidup manusia dari dalam dan tak kelihatan. Mengapa Tuhan membiarkan gandum dan ilalang tumbuh bersama? Karena kesejatian benih gandum diuji oleh kehadiran ilalang tantangan dan soal. Ilalang akan tetap ilalang tetapi manusia selalu punya kemungkinan untuk berubah menjadi jauh lebih baik. Yang terpenting adalah kesediaan manusia untuk menya-dari diri dan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berubah.

Ladang adalah tempat tumbuh gandum dan rerumputan. Siapakah kita di ladang dunia ini; penabur benih kebaikan ataukah pembawa petaka dalam hidup? Apakah kita adalah gandum ataukah rerumputan yang mesti dikumpulkan dan dibakar? Dalam kebersamaan, kita diminta untuk memberi arti bagi kehadiran kita; seperti tumbuhnya sesawi dan pengaruh ragih bagi adonan kehidupan ini. Setiap kita diberi peluang yang sama dengan potensi yang sama menjadi baik atau buruk, menjadi penabur kebaikan atau sumber soal yang mesti disingkirkan. Sebagaimana setiap petani mengharapkan panenan yang melimpah, Tuhanpun menghendaki kita menjadi sumber kebaikan bagi sesama. Sekali hidup mesti berarti dan sesudah itu tiada.

“Gandum, sesawi dan ragih adalah kebaikan yang mesti ditumbuhkembang, menghasilkan buah atau memberi warna baru bagi hidup ini, membuat hidup dan kehadiran kita lebih berarti bagi sesame”.
[ back ]