Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 17-11-2011 | 23:02:12
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : JADI CERMIN BUKAN ALAT UKUR
Mateus 12:1-8,Jumat, 15 Juli 2011

Ada begitu banyak soal dalam hidup kita yang singkat ini; entah itu berhubungan dengan diri kita ataupun berhubungan dengan orang-orang di sekitar kita. Lebih dari itu, kadang kita justeru mempersoalakn apa yang sebenarnya bukan soal lalu mengabaikan apa yang sebenarnya harus dipersoalkan. Lalu apakah anda punya soal? Kalau ya, anda tidak perlu merasa rendah karena anda hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang punya lebih banyak soal. Hidup kita sendiri sebenarnya merupakan satu soal sehingga kita tidak perlu menambah soal-soal yang tidak perlu. Lagi pula hidup kita sendiri tidak menjamin bahwa kita akan bebas dari soal; hidup hanya menyediakan kemungkinan-kemungkinan bagaimana meredam ataupun mengatasi soal yang ada. Kitapun mesti menyadari bahwa kadang kita sendiri terkecoh dengan soal-soal yang kita buat sendiri. Kita mempersoalkan keseragaman dan melihatnya begitu positif tanpa menya-dari bahwa keseragaman dapat mematikan keunikan setiap pribadimenutup kemungkinan orang dapat mengekspresikan dirinya apa adanya; dan di sisi lain hal ini memberi peluang bagi orang tenggelam dalam masa. Berhubungan dengan kewajiban kita dalam kebersamaan, soal muncul karena kita mau apa yang kita lakukan, dilakukan pula oleh orang lain. Kita tidak melihat manfaat dari aksi kita untuk diri dan abgi mereka yang ada di sekitar kita tetapi kita menggunakannya untuk mengukur kehidupan sesama. Menghindari soal mestinya kita paham bahwa apa yang kita lakukan seharusnya dibiarkan menjadi cermin hidup bagi yang lain bukan dijadikan alat ukur bagi orang lain. Patut dicatat motivasi yang picik merusak luhurnya nilai dari apa yang kita lakukan.

Tuntutan hidup ini kadang membuat orang berlaku nekad melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang atau berpikir sesudah sesuatu kita lakukan. Karena itu kita perlu bersikap awas dalam menilai hidup sesame. Tindakan ini hanya bisa kita pahami kalau kita mau meninggalkan kemapanan kita dan coba merasakan apa yang dirasakan sesama. Hanya dengan memasuki dunia sesama kita dapat memahami mengapa kenekadan itu terjadi. Mateus berkisah bahwa ketika melintasi ladang gandum, karena rasa lapar yang tidak tertahan, para murid nekad melakukan apa yang sebenar-nya tidak diperbolehkan hukum sabath. Memper-hatikan hukum yang berlaku, kenekadan ini memunculkan aksi protes dari kaum Farisi yang melihat bahwa tindakan para murid melanggar adat istiadat Yahudi. Anehnya, tanggapan Yesus justeru biasa-biasa saja ketika ulah para muridNya dilaporkan kepadaNya. Sebaliknya protes ini dijadikan kesempatan oleh Yesus untuk menyadarkan orang-orang jamannya akan makna adat istiadat dan pelaksanaannya dalam kebersamaan. Yang terpenting bukan pelaksanaan hukum tetapi kesadaran dan keter-bukaan manusia untuk menerima kenyataan bahwa hukum punya nilai bagi diri sendiri dan bagi sesama. Pelaksanaan hukum/adat istiadat, apapun bentuknya, harus dilandasi kesadaran bahwa hal itu pertama-tama bermanfaat bagi yang melaksanakannya dan punya dampak positif bagi sesama. Selain itu apa yang kita lakukan tidak perlu dijadikan alasan untuk mengukur kehidupan orang lain karena kita tidak punya hak menilai hidup sesama. Di sini motivasi kita menentukan nilai dari tindakan kita. Melakukan sesuatu dengan intensi mengukur kehidupan sesama, me-rusak, merendahkan luhur-nya nilai dari apa yang kita lakukan. Lebih dari itu kita tidak perlu banyak bicara tentang apa yang kita lakukan karena ada bahaya apa yang kita katakana bisa mengurangi atau melebihkan apa yang sebenarnya. Kita harus memberi waktu kepada apa yang kita lakukan untuk berce-ritera tentang kita. Banyak soal muncul dalam hidup karena kita cenderung membuang banyak waktu berbicara tentang apa yang kita kerjakan ketimbang memberi banyak waktu agar apa yang kita kerjakan berbicara tentang kita. Di sini kita perlu ingat bahwa apa yang kita lakukan akan lebih banyak berkisah apa adanya tentang diri kita ketimbang kita sendiri yang melakukannya. Dan apa yang kita lakukan dengan sendirinya akan dijadikan cermin oleh sesama untuk menata hidupnya. Hati dan tindakan kita mesti sejalan.

Melihat kenyataan ini, kita bertanya, ‘apa yang mesti kita lakukan suapaya kehadiran kita dalam kebersamaan berwarna khas? Apakah hidup kita sudah jauh lebih baik dari pada kaum Farisi ataukah kita adalah kaum Farisi jaman ini bahkan lebih buruk dari mereka? Bila kita jujur, kita harus mengakui bahwa kita baru berada pada tahap mengetahui adat istiadat yang berlaku tetapi belum memahami mengapa kita mentaatinya dan menghidupinya. Mungkinkah kita adalah para murid yang suka melanggar adat yang berlaku entah itu disadari ataupun tidak? Siapapun kita, seperti Yesus, kita pun mesti siap untuk membawa pulang sesama yang kurang memahami bagaimana seharusnya hidup bersama. Yang terpenting bagi kita adalah biarkan apa yang kita lakukan berbicara tentang kita, dijadikan cermin hidup sesama uantuk menanta dirinya dan jangan pernah melakukan sesuatu hanya untuk menilai hidup sesama, bila ini terjadi kitalah yang merusak luhurnya nilai dari apa yang kita kerjakan.

“Jadikan apa yang kita hidupi, kita lakukan cermin yang hidup bagi sesame untuk menata hidupnya. Jangan jadikan apa yang kita lakukan ukuran untuk menilai hidup sesame karena mungkin kita sendiri tidak jauh berbeda dari mereka”.
[ back ]