Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 16-11-2011 | 21:22:14
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : BERSIKAPLAH REALISTIS
Mateus 11:25-27, Rabu, 13 Juli 2011

Berdasarkan sikap dan kebiasaan, manusia dapat dikelompokan dalam dua kelompok; kelompok pejuang, orang-orang yang realistis dan kelompok pemimpi, orang-orang yang berpikir yang muluk-muluk tanpa memperhitungkan kemampuan diri sendiri. Lalu mengapa mesti bersikap realistis? Karena dunia kita yang dibanjiri aneka iklan telah membawa kita memasuki satu dunia lain, sehingga mental kitapun telah dipengaruhi oleh iklan-iklan yang ada. Bersikaplah realistis; satu pernyataan yang cukup menarik, tidak saja menantang tetapi juga mengajak kita bermenung sejenak; kritik sekaligus ajakan bagaimana kita menempatkan diri dalam dunia dan dalam kebersamaan. Kritikan karena banyak dari kita sudah tidak lagi hidup di dunia real/nyata; banyak bermimpi tetapi tidak mau beranjak dari mimpi untuk mengubahnya menjadi kenyataan. Kita terlalu mengada-ada, tidak puas dengan apa yang ada. Ajakan karena kecenderungan ini adalah sikap mental yang bisa disembuhkan. Dunia iklan bukanlah dunia kita, dunia ini telah membuat kita lupa akan kekuatan yang kita miliki dalam menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya. Kita bukan hidup dalam dunia mimpi tetapi dalam dunia yang nyata yang mengharuskan kita perjuangan demi hidup. Kita mesti bertolak dari kenyataan diri kita menuju perwujudan impian kita.

Bila kita cukup realistis kita akan menyadari bahwa kita adalah orang-orang istimewa dalam kehidupan ini. Mungkin kita tidak memiliki apa-apa tetapi kita memiliki hidup. Banyak orang bersyukur karena apa yang mereka peroleh dalam hidup tetapi hanya sedikit saja yang bersyukur karena mereka punya kesempatan untuk hidup. Bila hidup tidak kita miliki kita tidak memiliki apa-apa bahkan kita sendiri hidup. Hiduplah yang memungkinkan kita memiliki embel-embel yang sedang melekat pada diri kita. Bila kita cukup realistis, apapun situasinya kita harus selalu punya alasan untuk bersyukur karena boleh jadi yang kita miliki tidak dimiliki oleh sesama, yang kita alami tidak dialami oleh sesama. Pola pandang yang tidak melihat hidup sebagai harta yang paling berharga dalam hidup, yang membuat kita banyak mengeluh dan suka mengada-ada. Inilah yang menjadi sebab mengapa beban hidup ini semakin hari semakin berat ditanggung. Hidup bukan lagi sebagai kesempatan untuk dinikmati tetapi sebagai persoalan yang mesti dipecahkan. Berpikir bahwa apa yang kita miliki lebih berharga dari pada hiduplah yang membuat manusia hidup dalam rangkaian soal yang tak pernah akan selesai; kekerasan, ketidakadilan, ketidakbenaran dan keangkuhan sepertinya menjadi warna dasar hidup kita. Kehadiran sesama tidak dilihat sebagai teman seperjalanan tetapi sebagai musuh yang mesti disingkirkan. Bila hidup menjadi pusat segalanya kekerasan bukanlah jalan keluar, ketidakadilan dan ketidakbenaran akan dengan mudah disembuhkan. Dan kerendahan hati mempersatukan aneka perbedaan karena dalam kebersamaan orang bertemu sebagai saudara yang mesti saling membantu bukan sebagai saingan/musuh yang harus ditaklukkan. Sebagai orang-orang yang telah dibaptis dalam Kristus, kehadiran kita mestinya berdampak positif bagi sesama. Sesama bukan saja melihat bahwa kita berarti bagi mereka tetapi juga menyadari ataupun disadarkan bahwa mereka juga mempunyai nilai positif bagi orang lain, bagi kita. Kesalingan ini mesti menjadi warna utama dalam kebersamaan. Sesama percaya bahwa kehadiran kita tak pernah akan mengecewakan mereka dan mereka pun yakin bahwa mereka dapat melakukan sesuatu yang bernilai bagi kita. Apakah hal seperti inilah yang kita saksikan dalam keseharian kita? Kita ingin hidup dalam kebersamaan tetapi kita tidak tahu bagaimana hidup dalam kebersamaan itu. Sampai di sini, Yesus sang guru, hidup dan ajaranNya dapat kita jadikan cermin. Untuk itu kita mesti menyebrang keluar dari diri kita sendiri. Ternyata di hadapan cermin Yesus, hidup kita mesti ditata ulang, kekristenan kita perlu dibaharui.

Tidak sangguopkah kita memberi makna bagi kehadiran kita? Mungkinkah hal ini terjadi karena kita lebih bergantung diri pada apa yang kita miliki bukan pada hidup yang sedang kita jalani; kita tidak realistis dan terlalu banyak mengada-ada. Mestinya kita bersyukur atas hidup yang kita miliki bukannya atas apa yang kita peroleh dalam hidup. Kalau kita sulit sikap realistis biarlah belajar untuk tidak mengada-ada. Kalau kita tidak bisa jadi seorang Yesus yang siap meringan beban sesama biarlah kita berusaha memiliki kerendahan hati. Bila tidak janganlah kita memperpanjang barisan orang yang suka mengada-ada. Yang terpenting bagi kita adalah kesediaan kita untuk bersikap realistis, beranjak meninggalkan dunia iklan dan hidup dalam dunia nyata. Bila ini kita lakukan ada banyak mukjizat yang bisa terjadi dalam hidup kita.

“Bersikap realistis berarti berusaha melihat kenyataan dan mempertentangkan kenyataan itu dengan kemampuan diri sendiri dan memperhitungkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi”.
[ back ]