Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 16-11-2011 | 21:19:10
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : SIMAK HIKMAHNYA
Mateus 11:20-24, Selasa, 12 Juli 2011

Mungkin saja anda masih gelisah, marah, tidak puas ataupun kecewa lantaran tanpa alas an anda dikecam, apalagi ahl ini dilakukan di hadapan publik. Dengan cara ini, sepertinya orang itu hendak mengumumkan kekurangan anda. Makin banyak waktu ayng anda habiskan untuk memikirkannya, kata-kata kecaman itu makin nyaring terngiang di telinga anda dan bayangan orang yang mengecam anda seperti sedang bermain di pelupuk mata. Mengapa? Karena anda lebih memikirkan kata-kata itu dan menghadirkan wajah tak bersahabat itu dalam benak anda ketimbang memikirkan mengapa hal itu terjadi dan apa makna di balik kata-kata kecaman yang sempat anda rekam. Tidak mudah bagi kita untuk menimbah ataupun mengambil hikmah dari kata-kata tajam yang dilontarkan kepada kita. Kenyataan menunjukkan bahwa kadang memasang telinga untuk apa yang diucapkan orang saja begitu sulit apalagi harus menyimak maknanya. Dalam hubungan dengan sikap mendengarkan, munculnya persoalan dalam hidup disebabkan oleh dua hal faktor; pertama kita tidak bersedia mendengarkan apa yang dikatakan orang lain. Kedua, kita hanya mendengarkan apa yang dikata-kan tetapi tidak berusaha menangkap maksud dari apa yang kita dengar. Yang pertama soal kesediaan dan yang kedua soal kemampuan. Mestinya kita sadar bahwa apa yang dikatakan sela-lu bermakna ganda; menunjukkan realitas yang sebenarnya atau mewakili realitas lain. Karena itu yang lembut tidak selamanya menye-nangkan dan yang kasar tidak selamanya mesti ditolak. Yang lembut kadang mengandung ironi dan yang kasar sering bermuatan positif tentu saja dengan catatan kekerasan tidak selamanya menyelesaikan soal. Hal ini bergantung dari kemampuan masing-masing orang untuk mendengar yang tidak diperdengarkan di balik kata-kata yang kita dengar.

Kecaman, kritikan selalu menyakitkan. Tetapi apakah kecaman, kritikan tidak punya nilai positif? Apakah kecaman atau kritikan selalu lahir dari sebuah kebencian? Lalu apakah orang yang mengecam ataupun mengeritik kita sungguh membenci kita atau itu karena ulah kita yang tidak berkenan? Perlu kita ketahui bahwa kebaikan tidak selalu berpenampilan menarik dan rasa cinta tidak selamanya diungkapkan dalam kata-kata yang menggugah. Mateus mengisahkan bahwa satu ketika entah kapan, Yesus mengecam dan memperingatkan beberapa kota akan bencana yang sedang mengintai mereka. Hal ini dilakukan Yesus karena kekerasan hati penduduknya. Kota-kota ini adalah tempat di mana warisan keagamaan orang Yahudi dihidupi, karena itu penduduknya mesti menunjukkan bahwa mereka sungguh mewarisi tradisi religius para leluhurnya. Kenyataan menunjukkan bahwa penduduk kota-kota ini telah jauh meninggalkan tradisi leluhur dan telah diajak untuk bertobat tetapi mereka enggan untuk meninggalkan hidup-nya yang lama. Di sini hendak ditekankan bahwa religiusitas kota-kota ini bukanlah jaminan keselamatan penduduknya. Mereka mesti membuktikan lewat hidupnya bahwa mereka sungguh hidup dalam satu kota yang punya tradisi keselamatan. Keceman biasanya pedas buat pen-dengaran kita, kadang tajam melukai perasaan kita, tak jarang menurunkan harga diri kita bila yang kita tangkap hanyalah isi kecaman itu. Tetapi kecaman ini akan berdampak lain bila kita membuka hati dan melihat lebih jauh mengapa ia lahir dan apa makna yang dihadirkannya di balik kata-kata yang mewakilinya. Boleh jadi kecaman yang sama ditujukan kepada kita. Mungkin berkenaan dengan dengan hidup kita yang tidak sesuai dengan keberadaan kita sebagai orang-orang kristen, orang-orang yang mestinya menjadikan hidup Yesus sebagai hidup kita sendiri. Mungkin juga karena kita enggan mengindahkan peringatan/teguran-teguran kecil yang bernada kelakar karena kita lebih melihat orang yang menyampaikan dari pada menanggapi apa yang diisyaratkannya. Seperti penduduk kota-kota itu, kita diingatkan bahwa baptisan yang kita terima bukanlah jaminan keselamatan, untuk selamat kita perlu menghidupi iman kita dan membi-arkan iman kita mempengaruhi hidup kita.

Kita tahu bahwa kecaman biasanya pedas buat pendengaran kita, kadang tajam melukai perasaan kita, tak jarang menurunkan harga diri. Tetapi sering kita tidak berusaha untuk menghindari kecaman. Sering pula kita mengecam sesama dengan pikiran bahwa kecaman merupakan jalan terbaik menyampaikan maksud hati. Kecaman tidak selalu berdampak positif; bisa merusak maksud baik yang kita miliki. Ini bukan berarti kita tidak boleh mengecam ataupun tidak harus mengecam. Yang mesti kita miliki adalah kesediaan mendengarkan dan kemampuan untuk menangkap maksud dari apa yang dikatakan atau diperdengarkan; mendengar apa yang tidak dikatakan di balik kata-kata yang terucap. Yang terpenting adalah menyadari bahwa iman melainkan hidup kitalah yang merupakan jaminan keselamatan.

“Jangan dengar saja apa yang dikatakan atau siapa yang mengatakannya, tetapi lihat dan simaklah apa yang ada di balik kata-kata yang anda rekam”.
[ back ]