Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 19-10-2011 | 23:15:50
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘WASPADALAH'
Mateus 10:16-23,Jumat, 8 Juli 2011

Boleh jadi sampai sekarang anda tidak dapat memahami kenyataan bahwa ada saja orang yang tetap bersikap tidak bersahabat apapun yang anda lakukan. Dapat memang benar bahwa tidak semua yang kita lakukan akan ditanggapi secara positif. Selalu saja ada tanggapan negatif terhadap yang baik yang kita lakukan. Itulah hidup yang sering berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan. Karena itu kita perlu waspada, bersiap menerima dan menghadapi kenyataan pahit dari apa yang baik yang kita lakukan. Terkadang kita dibenci bukan karena kita berbuat jahat tetapi karena orang lain tidak mampu melakukan yang baik yang kita lakukan atau apa yang baik yang kita lakukan justeru tanpa disadari menampakkan ketidakbaikan mereka. Karena gengsi atau untuk menutupi kekurangan ini, penolakan dan tanggapan negatif akan kita hadapi. Berhadapan dengan kenyataan ini, kita tidak boleh patah arang, kehilangan semangat. Rintangan dan tantangan harus dilihat sebagai peluang menemukan jalan baru bagaimana membuat kebaikan bisa tetap hidup dan hidup sendiri menjadi medan di mana kebaikan bisa bertumbuh baik. Tanggapan negatif harus melahirkan sikap waspada, membuka mata kita untuk menyadari dengan siapa kita sedang berhadapan dan mematangkan kesejatian diri kita sebagai orang-orang beriman, mengajar kita untuk pandai-pandai menempatkan diri dalam kebersamaan. Di sisi yang perlu kita catat; tidak semua kebaikan yang kita lakukan akan mendatangkan tanggapan yang baik pula. Untuk itu waspadalah.

Berbuat baik dan menjadi orang baik tidak semudah yang kita bayangkan. Mengapa? Pertama, kita harus berjuang mengalahkan diri sendiri; begitu sering kita memper-hitungkan untung rugi yang akan kita dapatkan. Kedua, karena kebaikan yang kita lakukan tidak selamanya ditanggapi secara positif. Justeru sebaliknya kita mungkin akan menderita dan dibenci karena apa yang baik yang kita lakukan. Inilah situasi pentas kehidupan ini, tidak semua yang kita inginkan akan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Untuk itu, Yesus mengingatkan agar kita waspada. Dia sendiri mengatakan hal ini berdasarkan apa yang dialamiNya. Mengikuti Dia kita akan mendapat perlakukan yang sama. Kebaikan yang kita lakukan bisa saja membawa kita kepada salib. Dan kalau kita siap apapun bentuk salib itu, kita akan siap pula untuk memanggulnya. Berhadapan dengan situasi ini, seperti kepada para murid, kita diingatkan untuk untuk tetap bertahan dan tidak perlu takut. Karena di sana dalam situasi itu kesejatian kita sebagai murid diuji dan dimatangkan. Situasi tidak bersaha-bat itu harus kita jadikan peluang untuk bersaksi. Awasan ini mengingatkan kita bahwa tidak semua yang baik yang kita lakukan akan mendapat tanggapan yang baik pula. Kita harus siap dibenci bukan karena kita melakukan kejahatan tetapi karena kebaikan kita membongkar kebobrokan mereka. Tetapi hal ini tidak boleh menyurutkan langkah kita. Kitalah yang hidup bersama Dia tetapi kita harus sanggup menjadikan hidup dan misiNya hidup dan misi kita sendiri. Kitalah yang makan dan minum bersama dengan Dia karena itu kita harus siap memikul salib yang lahir dari perjamuan bersama itu. Bila kita mengeluh tentang adanya aneka ketidakadilan dan ketidakbenaran dalam keseharian kita, kita juga harus punya keberanian untuk melawan situasi dan orang-orang yang menciptakan situasi neraka ini. Apa yang seharusnya dibuka terhadap umum, tidak boleh kita petieskan, apa yang dibisikan, harus kita teriakan. Inilah fungsi kenabian setiap orang kristen. Awasan Yesus ini sebenarnya hendak menunjukkan kepada kita bahwa kita bisa berbuat lebih, kita dipanggil untuk berani bukan saja berbicara tentang kebenaran dan keadilan tetapi berlaku benar dan adil terhadap sesama. Untuk tugas ini mereka mesti berani ambil resiko; kebenaran dan keadilan tidak akan mati walaupun untuknya seribu satu orang yang disingkirkan. Di mana kita hadir, di sana kita membawa kasih yang mempersatukan, membagi damai yang melestarikan segala bentuk relasi. Tetapi ini hanya mungkin bila kita punya semangat berkorban, tidak takut menderita. Dan memilih mengikuti jalan Yesus, kita akan mengalami nasib dan perlakuan yang sama; kalau Ia ditolak, kitapun akan ditolak. Mengikuti Dia, seorang murid harus berani memasuki dan mengalami saat-saat Getsemani dan situasi Golgota. Kalau emas diuji dalam tanur api, kesetiaan seorang murid diuji dalam tanur kehidupan. Yang bertahan akan memperoleh hidup.

Memupuk sikap awas dalam menempatkan diri jauh lebih penting dari pada mem-buang banyak waktu dan membiarkan diri dikuasai oleh ketakutan. Kewaspadaan membantu kita untuk menjadi bijak dalam menempatkan diri, ketkutan hanya akan memperbesar rasa curiga dalam diri terhadap sesama. Sebagai orang kristen kita mesti memiliki keberanian untuk menentang arus walaupun untuk itu resiko kehilangan nyawa mesti dihadapi. Bila kita menghendaki ceritera kebersamaan ini diberi wajah baru, kita mesti menjauhkan rasa takut dan membangun sikap satria; berani menentang ketidakadilan dan ketidakbenaran. Kitalah yang makan dan minum bersama Dia, hidup dan misiNya harus menjadi hidup dan misi kita. Kita adalah saksiNya. Kalau matahari tetap bersinar walau diselimuti kabut, mengapa kita berhenti berbuat baik, bertindak adil dan berlaku benar dalam hidup?

“Bersikap awas berarti berusaha memperhitungkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi sebagai akibat dari setiap kata yang kita ucapkan, tindakan yang kita lakukan dan keberadaan kita yang kita tampilkan”.
[ back ]