Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 19-10-2011 | 23:03:36
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘KAMU UTUSANKU’
Mateus 10:1-7, Rabu, 6 Juli 2011

Menjadi anggota kelompok tertentu, orang mesti bersedia menjadikan misi kelompok misinya sendiri, di mana di hadir di sana seharusnya jiwa kelompoknya dihadirkan. Hal yang sama terjadi pada diri kita sebagai orang-orang beriman. Dibaptis dalam nama Kristus bukanlah satu anugerah tanpa tanggung jawab. Di satu sisi baptisan yang diterima memungkinkan kita menjadi anggota Gereja Kristus. Di sisi lain, baptisan memberikan kita tugas untuk menjadikan hidup dan misi Yesus menjadi hidup dan misi kita. Bahwa kita adalah anggota gereja, hal ini tidak diragukan tetapi apakah hidup misi Yesus telah menjadi hidup dan misi kita; hal ini masih harus dievaluasi. Tugas pertama adalah menjadikan hidup Yesus sebagai hidup kita sendiri. Ini berarti kapan dan di mana saja kita berada mestinya di sana Kristuslah yang hadir, kita menjadi representasi kehadiran Kristus; bukan lagi kita yang hidup tetapi Kristuslah yang hidup dalam diri kita. Apakah memang demikian? Tugas kedua adalah menjadikan misi Yesus sebagai misi kita sendiri. Hal ini masih jauh dari apa yang diidamkan karena yang kita jalan selama ini adalah misi pribadi kita; sehingga kerajaan Allah bukannya semakin berkembang tetapi semakin dipersempit oleh kesempitan cinta kita terhadap diri sendiri. Seandainya yang kita jalankan adalah misi Kristus, tidak akan ada banyak soal yang kita temui dalam hidup.

Situasi dunia dewasa ini yang dibingkai dengan krisis kehidupan yang tampil dalam beragam wajah sepertinya membuat kita enggan berlangkah maju. Ber-hadapan dengan kenyataan ini, kita sepertinya diyakinkan bahwa kebahagiaan yang kita impikan sedang ataupun semakin menjauh dari rangkulan kita. Situasi seperti ini sebenarnya sudah ada di jaman Yesus. Untuk itu, Ia memanggil dan mengutus kedua belas muridNya. Mereka dipanggil untuk mendampingiNya menuntas-kan misiNya. Yang menarik, masing-masing mereka dipanggil dengan namanya. Ini satu isyarat bahwa setiap pribadi dipanggil untuk tugas yang sama di mana dari tugas yang sama itu, tanggung jawab masing-masing pribadi sangat dituntut. Lalu bagaimana hal ini mesti dijalankan? Untuk itu masing-masing orang mesti hidup sesuai dengan nama ataupun predikat yang disandangnya sebagai orang-orang beriman. Aneka soal yang kita hadapi, beragam krisis yang membingkai hidup kita hendak menegaskan bahwa sebagai orang-orang beriman kita belum cukup hidup sesuai dengan nama atau predikat yang kita sandang. Nama dan predikat kita hanya sekedar pembeda dan berlaku hanya pada waktu, tempat dan di hadapan orang-orang tertentu; di luar dari ketertentuan ini nama dan predikat kita kita tanggalkan. Sebagai orang-orang kristen, bila kembali melihat hidup yang telah kita lalui, apakah kehadiran kita berdampak positif bagi kebersamaan? Yesus membekali para murid dengan kuasa untuk menaklukan roh-roh jahat, melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Seperti para murid kitapun diberi kuasa untuk mengusir setan, menyembuhkan penyakit yang ada. Kenyataan menunjukkan bahwa kuasa-kuasa ini seper-tinya tidak punya daya magis. Kehadiran kita dalam kebersamaan belum mampu menampakkan keampuhan kuasa-kuasa ini. Kita bukannya menjinakkan setan-setan yang ada, tetapi justeru kita memperbanyak jumlah mereka; menjalin kerja sama dengan mereka; membuat setan-setan itu semakin liar bahkan kita sendiri menjadi setan-setan kecil dalam kebersamaan. Di mana kita hadir di sana semakin banyak orang sakit yang kita jumpai. Seperti para murid, kita diminta untuk memberitakan kerjaan Allah. Tetapi permintaan ini sulit dijalankan; karena yang kita wartakan bukan Yesus melainkan diri kita sendiri. Iman, agama kita jadikan garansi kenya-manan kita. Iman, agama kita belum menjadi jiwa hidup kita dan hidup kita belum menjadi duta dari iman yang kita miliki.

Jaman para murid telah berlalu, tanggung jawab mereka sedang menjadi tanggung jawab kita. Ada begitu banyak orang di sekitar kita yang belum mengenal Allah dan tidak sedikit dari antara kita yang sudah tidak mau mengenal Allah. Sebagai orang-orang beriman, kita adalah perpanjangan tangan para murid untuk mewartakan, membaptis dan mengajarkan mereka bagai-mana melakukan apa yang dilakukan Yesus. Untuk membawa mereka semakin dekat dengan Allah yang kita imani; hidup Yesus terlebih dahulu harus menjadi hidup kita dan apa yang dilakukanNya mesti menjadi keseharian kita sehingga mereka yang ingin mengenal Dia tidak saja dipengaruhi oleh kata-kata kita tetapi lebih oleh hidup kita yang punya pesan. Dengan cara ini hak dan kewajiban kita sebagai pengikut-pengikut Yesus dapat didamaikan sehingga mereka yang menyaksikannya dapat mengakui bahwa kita sungguh murid Kristus dan rela memberikan diri untuk dibaptis dalam namaNya.

“Baptisan yang kita terima menjadikan kita utusan Allah Tritunggal Mahakudus. Di mana saja kita berada di sana hendaknya kita bermisi, membagi warta gembira entah itu lewat pesan yang kita sampaikan maupun via kehadiran kita”.
[ back ]