Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 01-09-2011 | 22:38:11
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘IMANMU MESTI DIHIDUPI’
Mateus 7:15-20,Rabu, 22 Juni 2011

Kita tahu apa yang dikatakan palsu, sesuatu yang nampak seperti aslinya tetapi tidak sama seperti aslinya, tiruan atau imitasi. Berhadapan dengan kenyataan ini, kita mesti bersikap jeli, tidak mudah dikecoh dengan pandangan sekilas. Lalu pernahkah anda menjadi korban hal-hal palsu; barang-barang palsu, surat-surat palsu, ijazah palsu, rambut palsu, ajaran-ajaran palsu dan cinta palsu? Melihat kenyataan, kita menemukan bahwa barang-barang palsu ini hadir bukan untuk memenuhi kebutuhan mereka yang mengkomsumsinya tetapi lebih demi keuntungan pem-buatnya. Barang-barang palsu adalah barang-barang yang dibuat menyerupai asli tetapi ada se-dikit cacat yang dapat membedakannya dari yang asli. Barang-barang palsu murah dibeli, ber-kualitas rendah dan beresiko tinggi. Dan perlu disadari bahwa dunia kita bukan saja sedang dibanjiri barang-barang palsu tetapi juga tokoh-tokoh gadungan. Agar tidak tertipu, tidak gam-pang dikelabui oleh kehadiran mereka, kejelian kita dituntut, kepekaan kita mesti dipertajam. Satu catatan untuk kita, “jangan pernah menilai isi buku karena keindahan sampulnya”. Dalam hubungan dengan hal ini, “Siapakah anda dalam hidup bersama?”

Bila kita melihat secara jeli, kotbah di bukit adalah sebuah kotbah kehidupan, wejangan Yesus yang berhubungan dengan kenyataan hidup harian kita. Yesus coba mengangkat dan menyadarkan kita akan hal-hal yang kita jalani dalam hidup entah itu untuk diri sendiri ataupun dalam membangun relasi dengan yang lain. Hari ini Yesus mengingatkan para muridNya, meng-ingatkan kita untuk bersikap waspada terhadap nabi-nabi palsu. Awasan ini tentu beralasan, mengingat hal-hal palsu dengan segala wajah dan pengaruhnya telah membanjiri keseharian kita dan karena kita sendiri cenderung bersikap palsu; coba menampilkan diri sekaligus menyembunyikan keaslian diri di balik penampilan itu. Kita ibarat serigala berbulu domba dan bila dipertentangkan; serigala berbulu domba lebih ganas dan lebih buas dari pada serigala benaran karena serigala benaran lebih mudah dikenal ketimbang serigala-serigalaan. Serigala benaran hadir dalam sosoknya sebagai binatang tetapi serigala-serigalaan hadir dalam rupa manusia. Tohoh-tokoh gadungan pandai membius mangsanya dengan kata-kata yang memukau, teori-teori yang sangat diterima akal sehat dan janji-janji muluk. Untuk menolong diri, jangan mendengarkan kata-kata/teori-teorinya tetapi perhatikan hidup dan karya mereka; karena hidup dan karya akan berceritera banyak tentang siapa mereka, di sana kepalsuan mereka bisa disingkap. Lalu mengapa kita sampai berhadapan dengan kepalsuan dan manusia-manusia gadungan itu? Bukankah pohon dikenal dari buahnya? Mengapa di era kita, teori ini hampir tidak berlaku? Karena buah sudah jatuh menjauhi pohon-nya. Lihatlah semua agama mengajar kebaikan dan menghendaki para penganutnya menjadi orang-orang baik dalam kebersamaan tetapi mengapa masih saja ada banyak persoalan yang ditimbulkan oleh para penganutnya? Karena agama/iman sudah tidak diikutsertakan saat mereka hendak membuat sejarah. Di sini Cedric Rebello benar saat menga-takan bahwa iman/agama kita hanya berlaku pada waktu tertentu, di tempat tertentu dan di ha-dapan orang tertentu, di luar keter-tentuan ini, iman/agama ditinggalkan seperti manusia menanggalkan pakaiannya. Kita adalah orang beriman/beragama saat kita berada di gereja atau berdoa di masjid, tetapi di luar ibadah ini, kita tidak jauh bahkan jauh berbeda dari mereka yang tidak beragama. Di sini hendak dikatakan bahwa beragama ataupun beriman bukanlah jaminan seorang dikatakan baik. Yang menjadi jaminan adalah bagaimana orang itu hidup sesuai dengan iman/agamanya. Bagaimana dengan hidup anda sendiri?

Kita adalah orang-orang beriman, orang-orang yang menganut agama tertentu sesuai dengan keyakinan kita tetapi tidak semua kita hidup sesuai dengan iman dan ajaran agama kita. Bila teori mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohon, keseharian kita menunjukkan bahwa buah jauh menjauhi pohon. Iman kita belum mempengaruhi hidup kita dan hidup kita belum mengekspresikan apa yang kita imani. Karena itu kita dinilai bukan dari apa yang kita katakan tetapi apa yang kita hidupi; iman kita mesti dihidupi dan hidup kita mesti didasarkan pada iman kita. Kepalsuan menjadi sikap dasar saat iman kita digantikan tempatnya oleh keyakinan-keyakinan lain yang diyakini dapat menjamin hidup. Seandainya kita membiarkan iman kita mempengaruhi hidup kita dan nadi hidup kita dialiri darah-darah iman ceritera hidup ini akan lain dan kepalsuan yang ada bisa dikurangi atau sedapat mungkin dihindari. Apa ini mungkin?

“Jangan takut menghadapi hal-hal palsu, takutlah bila anda sendiri hidup dalam kepalsuan-yang anda tampakkan bukanlah anda yang sebenarnya.”
[ back ]