Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 10-08-2011 | 21:54:12
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “JADILAH PEMBAWA DAMAI”
Yoh 14:27-31a, Selasa, 24 Mei 2011

Saya tidak tahu rasa apa yang sedang menjadi tamu di ruang hati anda, yang saya harapkan ada rasa damai yang sedang menggetarkan denyut jantung anda sehingga situasi sekitar yang kurang bersahabat tidak banyak mempengaruhi perputaran roda kehidupan anda. Dan setahu saya, semua kita menghendaki hidup dalam situasi damai; relasi kita dengan yang lain berjalan lancar dan menyenangkan, usaha kita mendapat dukungan dan kehadiran kita menjadi sumber kegembiraan bagi sesama. Kita mendambakan situasi hidup yang damai yang dapat menghantar kita kepada damai sejahtera. Damai sejahtera, dua kata yang berbeda tetapi di dalam perbedaan itu keduanya satu mengadakan yang lain, satu mempengaruhi yang lain. Ketiadaan yang satu, kita tidak akan mendapatkan yang lain. Hanya dalam dituasi yang damai kita dapat mewujudkan impian kita akan hi-dup yang sejahtera; bukan hanya kecukupan materi tetapi juga hidup yang dapat dinikmati; kita dapat mengekspresikan diri kita apa adanya tanpa takut, sesama adalah partner menaklukkan dunia dan perbedaan adalah mosaik keindahan sebuah kebersamaa. Damai; tidak ada masalah, orang saling menerima, saling memahami, yang punya kelebihan tidak menyombongkan diri dan yang memiliki kekurangan tidak merasa rendah diri tetapi siap belajar dari sesama bagaimana bisa mengalami hal yang sama-hidup yang lebih baik. Sejahtera; serba kecukupan, tidak ada yang menjadi parasit bagi yang lain karena yang mengumpulkan banyak tidak berkelimpahan dan yang mengumpulkan sedikit tidak berkekurangan. Inilah gambaran hidup yang sedang kita kejar, inilah model hidup yang kita impikan. Situasi damai yang mendatangkan kesejahteraan hanya dapat tercipta bila ruang hati kita dipenuhi rasa damai. Kita tidak dapat membagi kepada yang lain apa yang tidak kita punya. Untuk mengalami situasi model ini, kita mesti berperang mengalahkan diri kita sendiri. Karena diri kitalah yang menjadi kunci segalanya.

Dari berbagai belahan dunia kita mendapatkan aneka berita yang menyedihkan; ada bencana alam, ada kekeringan dan kelaparan, ada teror bom, ada peledakan dan ada perang. Situasi seperti ini menempatkan kita dalam situasi yang tidak bersahabat dan dari situasi yang tidak bersahabat ini mustahil kedamaian dan kesejahteraan dapat dirasakan. Sebaliknya yang ada adalah ketakutan dan kegelisahan, saling curiga dan dendam. Lalu orang mulai menyusun program bagaimana bisa mempertahankan diri ataupun bagaimana bisa membalas dendam. Terbayang akan situasi seperti inilah maka sebelum meninggalkan para muridNya, Yesus berpesan agar para murid menghidupi, melestarikan damai sejahtera yang Ia tinggalkan. Mengetahui cuaca hati para muridNya saat menjelang perpisahan, Yesus meminta agar para muridNya tidak gelisah dan tetap percaya kepadaNya. Kegelisahan bisa mengakibatkan orang sangsi, ragu-ragu, tidak percaya dan sa-ling curiga atau hilang rasa percaya; percaya diri ataupun percaya terhadap orang lain. Bila kegelisahan menguasai ruang hati mereka maka damai sejahtera yang ditinggalkanNya tidak akan banyak berarti. Sebaliknya bila mereka percaya, saling percaya, kegelisahan tidak akan menjadi batu sandungan dan di mana mereka hadir di sana damai sejahtera bisa tercipta dan dialami. Kisah ini mengisyaratkan beberapa hal yang perlu kita perhatikan; pertama, kita diingatkan untuk berhati-hati dengan kegelisahan yang kita miliki karena kegelisahan dapat melunturkan kepercayaan satu terhadap yang lain, melahirkan saling curiga yang sapat merusak kebersamaan yang seharusnya menjadi medan tumbuhnya damai yang mensejahterakan. Kedua, Yesus tidak meninggalkan hal lain selain damai sejahtera. Karena Yesus tahu situasi damai sejahtera menjadi kunci segala-nya. Hanya dengan membiarkan ruang hati kita dipenuhi dengan suasana damai, kehadiran kita akan membawa rasa damai bagi yang lain, memungkinkan mereka mewujudkan apa yang mereka impikan. Ketiga, yang ditinggalkan Yesus ini menjadi kewajiban mereka yang menyebutkan diri sebagai orang-orang kristen. Di mana saja kita hadir di sana sudah menjadi tugas kita untuk menciptakan suasana damai yang mensejahterakan. Lalu bagaimana dengan kehadiran kita selama ini, sesudah merayakan pesta Paska? Sudahkah kehadiran kita mendatangkan damai sejahtera?.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu”. Sesuatu yang ditinggalkan tentu saja punya nilaikarena itu apa yang ditinggalkan Yesus bukan saja harus dijaga tetapi juga harus dihidupi, dilestarikan dan dibagi, satu peninggalkan yang punya sifat misioner. Itu berarti kapan dan di mana saja kita hadir di sana adalah tugas kita untuk menciptakan suasana damai yang bisa mendatangkan kesejahteraan. Untuk itu kita harus tahu siapa kita dan untuk apa kita hadir dalam kebersamaan. Kalau kita sendiri menghendaki berada dalam situasi damai dan merindukan satu hidup sejahteramaka tugas kita pertama-tama adalah menumbuhkan dalam diri kita rasa damai, membiarkan hati kita dikuasai dan langkah laku kita dijiwai oleh semangat kasih dan persaudaraan, keterbukaan untuk mengakui dan belajar dari keunggulan sesama untuk menjadan hidup dan kehadiran kita jauh lebih baik. Kesejahteraan hanya mungkin kalau kita berada dalam situasi damai dan kedamaian hanya mungkin tercipta bila ruang hati kita dipenuhi rasa damai..

“Kita hanya bisa membawa damai kalau hati kita penuh rasa damai”
[ back ]