Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 10-08-2011 | 21:46:19
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “KITA JALAN, KEBENARAN DAN HIDUP"
Yoh 14:1-12, Minggu, 22 Mei 2011

“Jalan, kebenaran dan hidup”, tiga kata berbeda tetapi dalam perbedaan itu, ketiganya yang satu mempengaruhi dan memungkinkan hadirnya yang lainnya. Ada jalan yang benar yang dapat membawa orang kepada kelestarian hidup; mempertahankan hidup sendiri dan hidup orang lain, ada kebenaran yang merupakan jalan yang dapat menghantar kita kepada hidup, menyelamatkan hidup kita dan ada hidup yang benar yang merupakan jalan yang dapat mengarahkan kita untuk hidup yang benar dan hidup yang sungguh hidup. Ada aneka jalan dalam hidup ini, ada banyak soal berhubungan dengan kebenaran dan hidup terkadang tidak menjanjikan bahwa apa yang kita impikan dapat menjadi kenyataan. Membuka isolasi daerah terpencil, dibutuhkan jalan entah itu jalan besar ataupun setapak. Walau ada banyak jalan tetapi terkadang kita kehilangan arah hidup karena kita sendiri tidak punya arah hidup yang jelas dan hidup sendiri menawarkan berbagai jalan yang harus kita pilih. Banyak orang jaman ini tidak menemukan jalan pulang, mereka kehilangan gambaran yang benar tentang peta kehidupan. Gambaran yang benar telah mempunyai nilai jual yang hanya bisa dibeli oleh mereka yang berduit di mana fakta dapat disulap menjadi fiksi dan yang fiktif bisa dirubah jadi fakta. Kenyataan ini menjadi sebab tidak sedikit orang kehilangan daya hidup; hidup tidak lagi punya daya tarik untuk dihidupi-dijalani. “Jadilah jalan, kebenaran dan hidup”; seruan yang mengingatkan kita akan panggilan kita sebagai orang-orang beriman. Kita disadarkan untuk menjadi jalan pulang, sarana yang mempertemukan me-reka yang tercerai-berai, mewartakan kebenaran di mana kenyataan gampang dimanipulasi dan menjadi pemberi semangat hidup bagi sumbuh kehidupan yang mulai pudar nyalanya.

Pernahkah anda mengalami pahitnya sebuah perpisahan? Ruang kosong tercipta, ada suasana yang sulit dibahasakan dan ada rasa aneh yang tidak mudah dijelankan. Mengetahui cuaca hati para muridNya saat menjelang perpisahan, Yesus meminta agar para muridNya tidak gelisah dan tetap percaya kepadaNya. Di sini kegelisahan dan kepercayaan dipertentangkan. Kegelisahan bisa mengakibatkan orang sangsi, ragu-ragu dan tidak percaya atau hilang rasa percaya; percaya diri ataupun percaya terhadap orang lain. Kehilangan kepercayaan bisa menempatkan kita di-persimpangan jalan di mana salah dalam menentukan arah kita akan tersesat dan bisa kehilangan hidup. Akibat lain; bila mereka sampai tidak percaya-kehilangan kepercayaan berarti keha-diranNya di antara mereka tidak berarti. Sebliknya bila mereka percaya, kegelisahan tidak akan menjadi batu sandungan, kita tidak akan bingung di persimpangan kehidupan dan di sana kehadiranNya memberi warna yang khas. Untuk meyakinkan mereka Ia mengatakan bahwa Ia adalah jalan, kebenaran dan hidup. Ia adalah jalan kepada Bapa, jalan pulang bagi mereka yang tersesat, siapa yang menempuh jalan yang ditemppuhNya tidak akan tersesat, berada di jalur yang benar yang dapat membuat mereka hidup dan memperoleh hidup yang akan datang. Ia adalah ke-benaran karena Ia adalah sumber kebenaran; pada diri dan kehadiranNya orang dapat menemukan bahwa apa yang Ia katakan itulah yang Ia hidupi dan apa yang Ia hidupi itulah yang Ia katakan. Ia adalah hidup karena yang percaya kepadaNya akan beroleh hidup; di mana Ia hadir di sana mereka yang kehilangan daya juang kembali memperoleh semangat untuk hidup. Lewat kisah ini, kita diingatkan untuk berhati-hati dengan kegelisahan yang kita miliki karena kegeli-sahan dapat melunturkan kepercayaankita dan kehilangan kepercayaan bisa menyesatkan dan membuat orang kehilangan hidup. Selain itu, kisah ini mengangkat kembali apa yang mesti di-lakukan setiap orang kristen dalam kebersamaan; kita mesti menjadi jalan pulang bagi mereka yang tersesat, sarana yang dapat mempertemukan mereka yang terpisah oleh aneka alasan. Kita mesti mempunyai keberanian untuk menegakkan kebenaran di mana nilai kebenaran dapat ditukar dengan sejumlah uang. Kita menjadi pembawa semangat baru bagi mereka yang telah ke-hilangan semangat hidupnya; bukan di mana kita hadir di sana api keinginan sesama untuk me-nikmati hidup kita padamkan.

Dalam nama Allah, kita telah dibaptis tetapi tidak semua kita sungguh-sungguh percaya akan Tuhan sehingga begitu sering kita kehilangan daya juang dan menjadi musuh kebenaran. Sebagai orang-orang beriman, melihat situasi yang sedang menggetarkan senar kehidupan kita; kita mesti merasa terpanggil untuk menjadi mata jalan, kompas kehidupan yang dapat menga-rahkan perahu kehidupan sesama menepi ke pelabuhan yang aman. Di mana kebenaran dapat diperjualbelikan, di sana kita mesti hadir membawa kebenaran yang benar bukan hasil rekayasa imajinasi dan kepicikan kita. Di mana sesama mulai kehilangan daya hidup, di sana kita mesti hadir dan mengingatkan mereka bahwa harapan mereka akan hari esok yang lebih masih tetap hidup dan kegelisahan bukanlah kunci penyelesaian soal. Kalau kita percaya bahwa Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup, kita juga harus menunjukkan bahwa kita mampu menjadi jalan, kebenaran dan hidup bagi sesama bukan hanya dalam kata tetapi juga lewat hidup kita. Hanya dengan jalan ini, mereka dapat percaya bahwa Yesus sungguh jalan, kebenaran dan hidup bagi kita semua.

“Baptisan yang kita terima mengharuskan kita untuk menjadi jalan, kebenaran dan hidup dan mereka yang ada di sekitar kita dan bagi diri kita sendiri”.
[ back ]