Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 09-08-2011 | 21:46:09
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “TUNJUKKAN BAPA KEPADA KAMI”
Yoh 14: 7-14, Sabtu, 21 Mei 2011

Manusia adalah makhluk yang punya keinginan untuk mengetahui segala sesuatu yang ada di sekitarnya dan juga dirinya sendiri. Karena keinginan ini merupakan satu hal yang melekat erat pada diri kita, kita juga ingin tahu siapa sebenarnya Allah yang kita imani. Ada kerinduan dalam diri kita untuk bertemu muka denganNya. Lalu tidak tahu-kah anda bahwa Allah yang kita imani adalah Allah yang diliputi misteri? Karena diliputi oleh misteri, semakin kita berusaha menelusuri lorong-lorong misteri itu, semakin kita tenggelam dalam lautan kehadiranNya. Membuka selubung misteri ini seperti menjejakkan kaki pada ubin sebuah ruangan, kita hanya dapat mengisi ruang ubin tempat di mana kita berdiri. Lalu semakin kita tidak dapat memahaminya secara tuntas. Semakin banyak jawaban yang diberikan atas pertanyaan yang lahir dari keberadaanNya, akan semakin banyak pula pertanyaan yang muncul dari jawaban yang kita berikan. Kita boleh tidak percaya bahwa Tuhan sungguh ada tetapi banyak orang lewat apa yang mereka alami telah membuktikan bahwa Dia ada; mereka yang doaNya terkabul, para martir yang menumpahkan darahnya karena iman akan kehadiranNya dan tidak kurang orang yang mulanya menolak kehadiranNya tetapi pada akhirnya mengakui bahwa Dia ada karena mereka tidak dapat mengelak pengaruh kehadiranNya. Upaya kita untuk mengenal kehadiranNya bisa menghadirkan kenyataan ini; semakin kita berusaha mengenalNya semakin besar rasa cinta kita kepadaNya atau sebaliknya semakin kita mengenal Dia semakin terkikis rasa kasih kita kepadaNya karena Dia yang ingin kita kenal tidak seperti yang kita bayangkan.

Satu ketika Filipus meminta Yesus akan Ia menunjukkan Bapa kepada mereka yang telah mengikuti Dia. Permintaan ini adalah satu permintaan yang lahir dari kepolosan manusia yang punya kerinduan untuk bertemu dengan orang yang mereka kasihi. Kita mengasihi/jatuh hati pada orang yang pernah kita jumpai dan punya kerinduan untuk bertemu dengan mereka. Kita juga cenderung meminta bukti atau mau menyaksikan sendiri bahwa apa yang kita percaya sungguh ada; kita mau lihat sendiri. “Saya hanya bisa percaya kalau saya saksikan dengan mata kepala sendiri”. Namun mengukur iman dengan kehadiran fisik adalah satu kekeliruan besar karena iman adalah sesuatu yang batiniah. Iman sulit diinderai kecuali ia telah diterjemahkan dalam pola hidup kita. Seba-gaimana hidup ini sarat dengan syarat; maka permintaan ini hanya bisa dipenuhi bila; pertama, seperti Yesus, para murid menjadi jalan, kebenaran dan hidup. Hidup mereka harus mampu menghantar orang kepada Allah yang mereka imani, menjadi jalan pulang bagi mereka yang kehilangan orientasi hidup, apa yang mereka katakan adalah apa yang mereka hidupi dan apa yang mereka hidupi itulah yang mesti mereka katakan dan di mana mereka hadir di sana sesama kembali bersedia memabaharui semangatnya untuk hidup. Ini hanya mungkin kalau mereka mau menjadikan hidup dan misi Yesus hidup dan misi mereka. Kedua, mereka mesti percaya bahwa siapa yang telah melihat Dia telah melihat Bapa karena hidup dan ajaranNya mencerminkan hidup dan ajaran Bapa. Mengalami pengaruh kehadiran Yesus sama artinya dengan mengalami pengaruh kehadiran Bapa karena Dialah duta kehadiran Bapa yang adalah jalan, kebenaran dan hidup. Tetapi Allah semacam ini belum dapat ditemui selama kehadiran kita belum mampu membawa pulang mereka yang tersesat. Kehadiran kita justeru mempersulit sesama menemukan Allah semacam ini karena kita lebih banyak menyesatkan ketimbang membawa mereka kembali ke jalan yang benar. Allah adalah sumber kebenaran dapat ditemui dalam diri mereka yang mencintai kebenaran dan ingin hidup benar; apa yang dikatakan adalah apa yang dihidupi. Allah sebagai sumber hidup dapat ditemui bila di mana saja kita hadir di sana semangat hidup dan daya juang sesama dibaharui. Ketiga, para murid hanya dapat bertemu dengan Allah yang mereka imani kalau mereka mau melakukan apa yang dilakukan Yesus. Permintaan yang sama akan tetap menjadi permintaan orang-orang segala jaman bila kehadiran kita belum mampu menjadi jalan pulang bagi mereka yang kehilangan pedoman hidup, hidup kita belum dapat menjadi duta kehadiran Allah yang mencintai hal-hal yang benar dan kita belum mampu menjadi sumber hidup bagi mereka yang apa semangatnya mulai padam.

Tunjukan Bapa kepada kami, permintaan ini akan terus menjadi permintaan setiap orang segala jaman kepada setiap kita menamakan diri orang-orang beriman. Sanggupkah kita membawa mereka semakin dekat dengan Bapa yang kita imani? Kalau pola hidup kita tidak sanggup menunjukkan Bapa kepada mereka, biarlah melalui apa yang kita kerjakan mereka dapat merasakan kehadiran Bapa yang mencintai semua orang dan memanggil semua kita kepada keselamatan. Bila apa yang kita kerjakan tidak mampu membuka mata dan hati mereka untuk mengenal Bapa yang adalah jalan, kebenaran dan hidup biarlah kita bersedia bersama mereka belajar dari hidup dan ajaran Yesus. Mungkin dengan jalan ini, bersama mereka kita dapat bertemu dengan Bapa yang kita imani.

“Kalau kita siap melakukan apa yang dikerjakan dan difirmankan Yesus, bertemu dengan Allah bukan sesuatu yang mustahil”
[ back ]