Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 09-08-2011 | 21:38:55
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “JADILAH HAMBA YANG SETIA”
Yoh 13:16-20, Kamis, 19 Mei 2011

Kemarin ada kecelakaan lalu lintas; sebuah sepeda motor menabrak seorang anak TK yang mesti dilarikan ke rumah sakit karena patah kakinya dan pengendaranyapun mesti diopname karena babak belur dihajar masa. Bila kita membuat pengamatan yang jeli dan menghitung-hitung korban lakalantas, kita dapat berkesimpulan bahwa hampir tiap hari selalu ada korban pengguna jalan raya. Lalu kita bertanya; mengapa demikian? Bukankah di tiap-tiap perempatan dan persimpangan ada rambu lalulintas, tiap kendaraan dilengkapi dengan sarana untuk mengatur lajunya dan tiap pengendara tahu bagaimana seharusnya menggunakan jalan raya? Bila melihat kenyataan ini, mestinya lakalantas tidak perlu terjadi dan korban tidak harus berjatuhan. Di sini, yang celaka bukanlah orang-orang buta, yang menjadi korban bukanlah korban persembahan. Hal ini terjadi karena kita terlalu mementingkan diri, tidak mau mengalah, tidak mau tahu dan tidak mau menghormati sesama pengguna jalan raya. Hal yang sama terjadi dalam kehidupan bersama. Di dalam kebersamaan ada aturan yang diadakan untuk mengatur lalulintas kehidupan bersama agar tiap orang tahu apa yang mesti ia lakukan dalam dan untuk kebersamaan di mana dia ada dan mengais hidup. Soal muncul ketika orang tidak mengenal siapa dirinya, di mana seharusnya ia berada, bagaimana menempatkan dirinya dan apa yang mesti ia lakukan. Seandainya tiap orang memainkan perannya secara sungguh, dunia kita tidak akan dipenuhi aneka soal dan ceritera hidup ini pasti lain.

Hari ini Yesus berbicara tentang hamba, satu status yang kita hindari dalam hidup padahal bila dilihat secara jeli setiap kita adalah hamba bagi dirinya sendiri kalau bukan menjadi bawahan dari orang lain. Bila kita menghindari status ini, pandangan Yesus justeru bertolak belakang dengan pandangan kita. Bagi Yesus, menjadi hamba adalah satu panggilan hidup dan untuk menjadi hamba yang setia, kita harus terus berjuang. Hal ini merupakan tanggung jawab yang mesti dijalankan dan dihidupi. Menjadi seorang hamba berarti menjadi pelayan sekalian orang/siapa saja yang kita jumpai dalam hidup. Menjadi seorang hamba berarti menyadari diri sebagai makhluk, tahu menempatkan diri di hadapan tuannya. Seorang hamba mesti siap melayani tanpa pengkotakan karena itulah konsekuensi yang harus diterima oleh mereka yang menyandang predikat ini. Hanya keseharian kita menunjukkan yang sebaliknya; kita sadar bahwa tugas kita adalah melayani tetapi dalam praktek kita lebih suka dilayani dari pada melayani, kita akan begitu bangga bila dikelilingi begitu banyak orang. Terkadang karena dibuai oleh kebaikan orang yang kita abdi, begitu dimengerti, kita lupa akan kewajiban kita dan celakanya hal ini membuat kita lupa diri tidak tahu lagi bagaimana seharusnya menempatkan diri di hadapan sesama. Lebih menyakitkan lagi, tidak jarang predikat yang satu ini dijadikan batu loncatan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, merancang kemapanan diri ketimbang dijadikan peluang untuk membantu sesama mengurangi beban hidupnya. Semakin tinggi posisi kita semakin keberadaan kita sulit dijangkau oleh mereka yang tak berdaya. Padahal mestinya semakin tinggi posisi yang ditempati, semakin kita memiliki peluang dan kesediaan untuk melayani sebanyak mungkin orang. Di era teknologi ini, melayani telah dijadikan mantel penutup keserahan kita untuk memanipulasi keluguan sesama. Begitu sering kejahatan kita disembunyikan di balik keluhuran ide pelayanan. Atas nama keprihatinan kita memanipulasi kemalangan sesama demi diri sendiri. Inilah yang menjadi penyebab mengapa kita begitu terisolasi dengan dunia luar. Karena itu tahu diri, tahu tempat, kesetiaan, komitmen seorang hamba sangat dibutuhkan. Dunia membutuhkan kehadiran hamba-hamba model ini, dunia sedang kekurangan pribadi-pribadi yang tahu untuk apa mereka ada dalam kebersamaan.

Kita telah menerima baptisan dalam nama Tritunggal. Karena baptisan ini setiap kita dipanggil untuk melayani sesama sebisa kita. Kalau baptisan ini kita terima secara bebas, sudah seharusnya pelayanan kita dilakukan secara bebas pula. Melayani sepenuh hati dan menyelamatkan mereka yang membutuhkan bantuan adalah panggilan jiwa. Kita ada bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani. Hanya dalam perjalanan cita-cita luhur ini perlu dimunculkan kembali, karena kita telah banyak menyimpang dari apa yang telah diajarkan Yesus kepada kita. Kita menyebut Yesus sebagai tuan tetapi dalam kenyataannya kita bertindak melebihi tuan kita. Kitalah yang makan dan minum bersama Kristus, kitalah yang mesti siap melayaniNya, agar dalam diri kita, sesama dapat bertemu dengan Yesus yang adalah pelayan sejati.

“Setiap kita dipanggil untuk mengabdikan diri demi kebaikan satu kebersamaan”.
[ back ]