Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 09-08-2011 | 21:35:06
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “HIDUPI YANG ANDA DENGAR”
Yoh 12:44-50, Rabu, 18 Mei 2011

Sebagai orang-orang beriman kita sudah biasa dan selalu membaca ataupun men-dengar Firman Tuhan. Seperti yang kita yakini Firman Tuhan menjadi pedoman dan penuntun hidup kita. Pengetahuan dan kebiasaan ini mestinya telah melahirkan sebuah perubahan dalam hidup, hidup baik dengan tidak ada banyak soal sudah bisa kita alami. Tetapi mengapa semuanya ini masih jauh dari harapan kita. Topik ini, ‘Jadilah pelaku-pelaku firman’ hendak menegaskan bahwa semuanya ini kita alami karena kita belum sepenuhnya ataupun tidak sama sekali melakukan firman yang kita dengar/terima; kita hanya membaca atau mendengar sambil lalu tanpa membiarkan yang kita baca dan kita dengar mempengaruhi, menjiwai hidup dan relasi kita dengan dunia. Seandainya kita telah menjalankannya dalam hidup, menampakkannya dalam relasi kita dengan yang lain pasti ceritera hidup ini akan lain. Membaca tanpa berusaha memahami makna di baliknya adalah satu kesia-siaan. Mendengar tanpa melakukannya mematikan daya magis apa yang diengar. Melakukan tanpa menghayatinya adalah penipuan. Seruan ini merupakan satu keharusan untuk dijalankan, satu komitmen yang mesti dipenuhi dan dibaharui terus menerus. Hanya saja, kita baru sampai pada tahap mendengar. Kita cenderung mende-ngar sekedar mengelabui pembicara atau sekedar memberi kesan kita orang baik, pahadal hati kita tidak diikutsertakan di sana. Ceritera hidup ini akan berubah bila kita bersedia beralih dari sikap mendengar kepada kesediaan menjalankan-menghidupi apa yang kita dengar, membiarkan apa yang kita dengar menjiwai dan mempengaruhi, memberi warna yang khas bagi kehadiran kita. Di sini kesejatian kita disaksikan, inilah satu bentuk kesaksian yang hidup.

Sebagai orang-orang beriman yang hidup di tengah masyarakat; kita punya tugas ganda; menjadi orang beriman yang sungguh beriman dan membiarkan iman kita mempengaruhi seluruh hidup dan relasi kita dengan masyarakat tempat di mana kita ada dan mengais hidup. Yang kita kejar dalam hidup ini adalah kebahagiaan sekarang dan punya tempat di hidup kekal. Tetapi hal ini tidak akan turun dari langit, kita mesti berjuang bahkan perjuangan untuk meraihnya sudah harus dimulai dari sekarang dan di sini, seiring dengan usaha kita menjawabi kebutuhan keseharian kita. Hidup kekal bukan satu penentuan akhir tetapi sesuatu yang sudah harus ditentukan sekarang dan di sini, dalam keseharian kita. Saat sekaranglah yang menentukan di mana tempat kita kelak. Ini berarti, yang menentukan di mana tempat kita kelak bukanlah Tuhan melainkan kita sendiri. Seperti seorang penulis, kitalah penulis-penulis kisah hidup kita sendiri tentang hidup sesudah hidup di dunia ini berakhir. Karena itu Yesus mengingatkan bahwa mendengarkan saja belum cukup, percaya saja belum berarti, apa yang kita dengar-percaya harus kita hayati, yang kita hayati mesti kita hidupi. Hal ini dikatakan Yesus karena kita cen-derung berhenti pada proses mendengar/percaya tanpa tindak lanjut. Kita percaya akan Tuhan yang menerbitkan matahari dan menurunkan hujan untuk siapa saja tetapi dalam praktek perhatian, pelayanan dan cinta kita masih menciptakan begitu banyak kotak yang memisahkan dan mempertajam perbedaan. Kita beriman akan Yesus; jalan kebenaran dan hidup tetapi keseharian kita menunjukkan bahwa kita belum mampu menjadi jalan pulang bagi yang tersesat bahkan kita semakin menyesatkan mereka, kita tidak berani menentang ketidakadilan dan ketidakbenaran bahkan kita sendiri masuk dalam lingkaran setan ini, kehadiran kita bukannya memberi semangat hidup bagi sesama melainkan di mana kita hadir di sana sesama kehilangan daya juangnya. Di sini maksud Yesus jelas iman kita mesti mempengaruhi hidup kita dan hidup kita mesti menjadi bukti apa yang kita imani. Inilah jalan mengubah kisah hidup kita.

Bahwa kita percaya akan Tuhan, satu kenyataan yang sulit dibantah tetapi apakah kepercayaan kita itu mempengaruhi seluruh kata, laku dan hidup kita masih sangaat disangsikan. Seandainya iman kita telah menjadi hidup kita, kisah hidup kita pasti lain. Ini tidak berarti impian kita tidak lagi punya peluang menjadi kenyataan. Harapan kita masih tetap hidup, kita masih punya peluang. Hanya apakah kita bersedia membiarkan iman kita mempengaruhi hidup kita? Mendengar saja belum cukup, percaya saja belum banyak berarti, hidup ini akan lebih bermakna dan hidup kekal bukan satu impian kosong bila iman kita menjiwai seluruh hidup kita dan hidup kita menjadi bukti iman yang kita miliki. Inilah satu bentuk pewartaan yang hidup dan hidup yang punya nilai pewartaan.

“Ceritera hidup ini akan lain kalau apa yang kita dengar dapat kita hidupi atau kita bi-arkan untuk mempengaruhi hidup dan laku kita”.
[ back ]