Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 09-08-2011 | 21:31:25
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “KARYAMU ADALAH SAKSIMU”
Yoh 10:22-30,Selasa, 17 Mei 2011

Pernahkah anda berpikir bahwa anda dan saya, kita adalah makhluk yang sulit dipahami secara tuntas. Mengapa? Karena kita bukan benda mati yang dapat dibedah sampai sedetail-detailnya, kita adalah makhluk hidup yang dinamis; sehingga jawaban yang diberikan atas pertanyaan seputar diri kita akan selalu melahirkan pertanyaan baru. Mari kita lihat, disadri ataupun tidak kita adalah pribadi yang selalu berusaha menampilkan diri tetapi pada saat yang sama kita berusaha menyembunyikan keaslian dirinya di balik penampilan kita. Mungkin kita lagi sedih tetapi supaya tidak diketahui orang kita coba berusaha tersenyum walaupun senyum kita tidak dapat menyembunyikan gejolak nurani kita; kita bisa menipu orang lain tetapi kita tidak dapat menipu diri sendiri. Inilah yang menjadi penyebab mengapa begitu mudah kita terkecoh atau dikecoh dengan kesan sesaat. Untuk menghindari kesalahan ini ada yang menga-takan ‘jangan menilai seseorang berdasarkan apa yang dikatakannya atau apa yang ditamppilkannya tetapi jelilah mengamati apa yang dilakukan, dihidupinya’. Karena kata-kata gampang diputarbalikkan tetapi apa yang dilakukan sulit diperdaya. Banyaknya kata-kata tidak menen-tukan hebat tidaknya seseorang karena bisa jagi itu tidak jauh berbeda dengan gong yang gemerincing tetapi apa yang dilakukannya dapat berceritera banyak tentang pribadi itu. Tetapi kenyataannya, sering kita begitu mudah diperdaya oleh manisnya kata-kata tetapi tak goyah oleh hebatnya perbuatan. Inilah jawaban mengapa kita begitu gampang ditipu.

Kehadiran dan apa yang dilakukan Yesus tidak saja menjadi berita gembira bagi orang-orang jamanNya tetapi juga membuat tidak sedikit orang bimbang; pekerjaanNya, apa yang Dia lakukan memenuhi kcriteria pengabdian seorang mesias tetapi asalnya menjadi soal. Terus berada dalam kebimbangan dan tidak mau dibingungkan dengan berita yang simpang siur mendorong orang-orang Yahudi datang kepada Yesus dan memintaNya memberikan kesaksian tentang diriNya; Dia mesti bersaksi bahwa Dia sungguh mesias yang dinantikan. Menanggapi permintaan ini, Yesus meminta orang-orang Yahudi untuk menilai semua yang sudah Dia jalankan selama ini. Bagi Yesus berkata-kata tentang diriNya sendiri sangat riskan karena boleh jadi kata-kataNya bisa mengurangkan ataupun melebihkan situasi diriNya yang sebenarnya dan apa yang sudah Dia lakukan. Di sisi lain Ia tidak mau orang diyakinkan dengan kata-kataNya tetapi oleh apa yang Ia lakukan, karena kata-kata bukanlah duta yang baik dari satu realitas. Dia tidak mau berkampanye tentang diriNya. Karena kita sendiri saksikan banyak yang dikatakan dalam kampanye yang meyakinkan ternyata hanya kata-kata kosong. Yesus menghendaki mereka yang bertanya dan mempertanyakan diriNya menarik kesimpulan sendiri dari apa yang mereka saksikan bukan dari apa yang mereka dengar. Di sini persoalan bukan pada Yesus tetapi pada kaum Yahudi sendiri. Mereka bingung karena mereka mempertentangkan pengetahuan mereka tentang Dia dengan apa yang Ia lakukan. Bagi Yesus yang perlu dipersoalkan adalah apa yang Ia lakukan bukan dari mana Dia dan apa yang Ia katakan. Selain itu ada kenyataan lain yang mau disampaikan diri sini; ada pertentangan antara apa yang ada dalam hati pendengarnya dengan kenyataan yang mereka hadapi. Kalau kita punya rasa benci terhadap sesame; selalu saja ada pertanyaan yang muncul sebagai jalan untuk menolak sesame. Kisah ini mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam berkata-kata tentang diri kita. Karena begitu banyak waktu yang kita buang untuk berbicara tentang diri kita ketimbang membiarkan apa yang kita lakukan berceritera tentang kita. Hal ini penting agar kita tidak mudah terkecoh dengan mengalirnya kata-kata kosong dari daya imaginasi orang lain tentang satu realitas yang mungkin tidak ada. Kisah ini juga hendak mengikis kecenderungan kita untuk lebih melihat siapa orang itu ketimbang apa yang dilakukannya. Penolakan selalu terjadi bukan karena apa yang dilakukan sesama tetapi karena siapa sesama itu. Di samping itu, Kisah ini mengundang kita untuk sedapat mungkin membiarkan tutur kata kita bergandengan tangan dengan apa yang kita lakukan/hidupi karena banyak kali terjadi apa yang kita katakan bertentangan dengan apa yang kita hidupi/lakukan.

Seperti kaum Yahudi, banyak orang di sekitar kita juga bingung dengan pola hidup kita. Kita bangga mengatakan bahwa kita adalah orang-orang beriman tetapi dalam kenyataannya kita tidak jauh berbeda dengan mereka yang tidak beriman. Kita juga punya kecenderungan yang sama di mana dalam kebersamaan kita gagal mempercayai sesama karena kita lebih melihat siapa dia dari pada apa yang dilakukan. Banyak orang di sekitar kita sedang menanti kesaksian kita tentang diri kita, tentang iman yang kita miliki. Situasi ini mestinya membuat kita semakin serius menunjukkan identitas kita bukan dengan kata-kata tetapi melalui hidup dan karya kita. Apapun yang kita katakan tidak akan mampu mewakili apa yang kita hidupi, tetapi apa yang kita hidupi akan berbicara banyak tentang siapa kita. Karena itu biarkan hidup dan karya kita menjadi saksi diri kita sehingga melalui kesaksian kita yang hidup sesama dapat percaya akan Yesus sebagai mesias.

“Jangan pelihara rasa tidak suka dalam hati anda karena rasa ini akan mendorong anda untuk selalu mempertanyakan apa yang baik yang dilakukan sesama”.
[ back ]