Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 09-08-2011 | 21:28:34
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “JADILAH YANG TERBAIK”
Yoh 10:1-10,Minggu/Senin, 15/16 Mei 2011

Ada berbagai cara dan seribu satu jalan yang dapat menghantar kita untuk menjadi orang-orang istimewa dalam kebersamaan, sebagaimana kata orang ‘ada banyak jalan ke kota Roma”. Dan pada dasarnya setiap orang ingin menjadi yang terbaik dalam lingkungannya entah itu dinyatakan secara langsung atau tidak dalam kata-kata mapun dalam tindakan. Tetapi bila kita mendengar kata-kata ini “Jadilah yang terbaik”, mestinya kita disadarkan bahwa di sekitar kita sudah ada begitu banyak orang baik sehingga kita mesti berjuang menjadi yang terbaik dari yang sudah baik. Kenyataan menunjukkan bahwa menjadi yang baik saja sudah begitu sulit bagi kita apalagi harus menjadi yang terbaik. Untuk menggapai hal ini berarti satu kompetisi harus dimulai. Di satu sisi, kita harus punya kemampuan untuk bersaing dengan mereka yang sudah baik melalui cara yang wajar dan sehat. Di sisi yang lain kita harus mengakui bahwa untuk bersaing dengan mereka yang ada di sekitar kita tidak sesulit berperang melawan diri sendiri. Sering kita berpikir bahwa untuk jadi baik ataupun yang terbaik, kita harus melakukan hal-hal besar yang menyolok mata dan tidak bias dilakukan oleh oranag lain, lalu hal-hal kecil kita abaikan. Kita lupa bahwa untuk menjadi yang terbaik kita tidak harus melakukan hal-hal menyolok mata, cukup dengan malkukan apa yang mesti kita lakukan sebaik mungkin dengan cara kita dan sesuai dengan kemnpuan kita dengan dampak yang tidak sedikit bagi tidak sedikit orang. Bob Garon menulis, ‘bila anda tidak dapat menjadi matahari, jadilah bintang yang gemerlapan di waktu malam, bila anda tak dapat menjadi jalan raya jadilah jalan setapak. Sebab bukan besar atau kecil yang menentukan kesejatian diri anda tetapi apapun anda jadilah yang terbaik bagi semua orang.

Hari ini hari minggu panggilan. Di hari ini, mungkin saja pikiran kita tertuju bagi mereka yang menerima panggilan khusus; anggota keluarga kita yang berada jauh di seberang di tanah misi. Kita lupa bahwa hari ini sebenarnya kita diingatkan akan panggilan kita masing-masing; sudah sejauh mana kita menghidupinya dan sudah sedalam apa pengaruh yang kita bagikan bagi mereka yang ada di sekitar kita. Karena itu hari ini mestinya merupakan waktu yang tepat untuk mendoakan mereka yang berada di tanah misi, mendoakan diri kita sendiri dan juga mendoakan panggiolan khusus. Lebih dari itu, hari ini kita diingatkan bahwa dengan baptisan yang kita terima kita adalah misionaris di mana saja kita berada sesuai dengan peran kita masing-masing. Kita mesti menjadi yang terbaik lewat hidup dan karya kita. Yohanes mengatakan; untuk jadi yang terbaik kita mesti mencontohi pola hidup gembala yang baik. Setiap kita adalah gembala karena baptisan yang kita terima. Tetapi menjadi gembala tidak secara otomatis menjadi yang terbaik. Untuk keluar sebagai yang terbaik kita mesti menjadi gembala yang baik. Pertama, gembala yang baik rela berkorban. Kita tidak dapat keluar sebagai yang terbaik karena kita belum siap berkorban atau pengorbanan kita masih penuh perhitungan. Lebih gampang bagi kita untuk mengorbankan sesama ketimbang mengorbankan diri sendiri. Kedua, gembala yang baik mengenal domba-dombanya dan seba-liknya. Kita belum sanggup menjadi yang terbaik karena kita lebih ingin dikenal ketimbang berusaha mengenal sesama; lebih mudah bagi kita mengorek seluk beluk kehidupan sesama ketimbang membuka diri kepada sesama. Ketiga, gembala yang baik tahu akan kehadiran domba-domba yang lain. Pandai membaca situasi dan siap menjawabi kebutuhan situasi. Di sini kita gagal, kita lebih banyak menuntut sesama menyadari kehadiran kita ketimbang memaksa diri untuk menyadari kehadiran sesama. Keempat, gembali yang baik siap melindungi domba-dombanya dari serbuan serigala. Ingat serigala jaman ini lebih galak dan beringas dari pada serigala yang berkeliaran di hutan. Kita gagal menjadi yang terbaik karena kita sendiri menjadi serigala di antara kawanan domba. Kehadiran kita lebih banyak menceraiberaikan ketimbang mempersatukan. Kelima, gembala yang baik adalah pintu menuju domba-dombanya. Kita tidak dapat menjadi yang terbaik karena pintu diri kita tertutup bagi domba-domba. Di mana kita hadir di sana bukan kehidupan yang kita bawa tetapi malapetaka. Menjadi yang terbaik sebagai gembala; kita mesti tahu diri, tahu tempat dan tahu tugas. Inilah yang menjadi alasan mengapa dunia para gembala mendapat tempat khusus dalam kitab suci.

Tidak mudah menjadi yang terbaik, akan sama sulitnya menjadi gembala bagi satu kawanan. Tetapi sebagai orang beriman, kesulitan tidak boleh jadi alasan untuk membendung usaha kita menjadi yang terbaik dalam kebersamaan. Hari ini hari minggu panggilan, di mana kita diingatkan akan tugas dan tanggung jawab kita sebagai orang-orang kristen. Dunia masih membutuhkan banyak gembala karena dunia telah kehilangan banyak gembala yang baik. Kita ditantang untuk menjawabi kenyataan ini. Bila kita tidak sanggup menjadi yang terbaik dalam kebersamaan biarlah kita berusaha menjadi gembala yang baik bagi diri kita sendiri. Boleh jadi kita bukan gembala yang baik bagi sesama tetapi kita akan mendapat tempat khusus dalam kebersamaan karena kita tahu diri, tahu tempat dan tahu apa tugas kita. Kalau masih ada kesulitan, apa pun kita, jadilah yang terbaik bagi semua.

“Kita hanya bisa menjadi gembala yang baik bagi orang lain kalau kita sudah bisa menggem-balakan diri kita sendiri dengan baik”.
[ back ]