Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 01-08-2011 | 20:59:18
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “KAMU ADALAH SAHABATKU”
Yoh 15:9-17,Sabtu, 14 Mei 2011

Masih ingatkah anda akan orang yang pernah menjadi bagian sejarah anda? Adakah kenangan manis yang ditinggalkan orang yang dengan cara tertentu telah memberi warna khusus bagi hidup anda? Bersahabat adalah panggilan jiwa dan tuntutan hidup bersama. Boleh jadi tak terhitung atau mungkin dapat dihitung dengan jari lantaran anda orang yang kuper. Tetapi siapakah sahabat itu, hal ini sulit didefinisikan karena kita merasa bahwa yang penting bukan soal definisi tetapi bagaimana menjalin persahabatan dan bagai-mana membuat ikatan hati ini lestari. Sahabat adalah orang lain yang berada di luar diri tetapi dengan caranya yang unik ia telah menjadi bagian diri kita yang kadang sulit dipisahkan seperti kuku dengan daging. Dalam cara tertentu dia sangat berpengaruh; kehadirannya membuat dunia hidup kita jauh berbeda bahkan kita hanya dapat menjadi diri sendiri dalam dan melalui dia. Dia adalah orang yang hadir dalam kesunyian sebuah hati dengan tatapan penuh pengertian, pribadi yang selalu mau ikut merasakan apa yang sedang kita rasakan. Dia adalah terang dalam satu dunia yang diselimuti kegelapan, orang yang memberi kepastian dalam dunia penuh kebimbangan. Dia adalah jiwa setiap lang-kah yang kita pahat dalam perjalanan meraih hari esok. Apakah anda adalah orangnya? Hanya anda sendiri yang tahu.

Hari ini kita merayakan pesta St. Matias rasul, pengikut Yesus yang terpilih untuk menggantikan posisi Yudas Iskariot. Dalam hubungan dengan pesta St. Matias, Yohanes berkisah tentang permintaan Yesus kepada para muridNya, ‘Kalau kamu sahabatKu, kamu harus menjalankan perintahKu, “kamu harus saling mengasihi”’. Kata-kata Yersus berhubungan dengan perintah ini diulang beberapa kali dalam bentuk pengandaian. Hal ini hendak mengisyaratkan betapa pentingnya perintah ini, pada perintah ini terletak jawaban atas semua soal dan bagaimana jalan untuk menyelesaikannya. Perang, permusuhan, dendam dan ambisi yang merusak kebersamaan besar kemungkinan terjadi karena pertama, kita tidak melihat mereka yang lain sebagai sahabat yang harus dikasihi, teman seperjalanan untuk menaklukan dunia tetapi sebagai saingan, musuh yang harus ditaklukan atau disingkirkan. Kedua, hal lain yang menjadi penyebab rusaknya kebersamaan ini adalah karena yang ada dalam hati kita bukanlah rasa kasih. Ruang tempat rasa kasih sudah digantikan dengan rasa-rasa lain yang lebih banyak merugikan kebersamaan dan diri sendiri ketimbang menguntungkan kehidupan bersama. Hati yang tercipta untuk saling mengasihi telah kita biarkan menjadi arena duel segala kepentingan pribadi yang menceraiberaikan dan melebearkan jurang yang memisahkan kita dengan kita. Perintah, Pengandaian Yesus ini mengingatkan kita bahwa telah menjadi anggota perhimpunan sahabat-sahabatNya tetapi apa yang harus kita lakukan sebagai bukti keanggotaan kita belum kita jalankan. Persahabatan kita dengan Yesus baru pada tahap mengikat kontrak melalui baptisan yang kita terima belum berdasarkan apa yang sedang kita hidupi. Kita belum ikut merasakan apa yang dirasakanNya, kita kurang berusaha menjadikan hidup dan misiNya menjadi hidup dan misi kita. Kehadiran kita belum dapat menjadi wakil, duta kehadiranNya yang menyelamatkan. Kalau Yesus di mana Dia hadir di sana yang buta bisa melihat, yang tuli mendengar, yang lumpuhkan berjalan, yang tidak benar diluruskan, yang berdosa ditobatkan dan yang mati dibangkitkan, kehadiran kita justeru sebaliknya; di mana kita hadir di sana yang melihat menjadi buta, yang mendengar jadi tuli, yang berjalan dilumpuhkan, yang benar dibingungkan, yang baik jadi tidak jelas dan yang hidup mati perlahan-lahan. Lalu masih mungkinkah kita membuktikan persahabatan kita dengan Yesus? Masih adakah sedikit rasa kasih dalam ruang hati kita?

Kita diciptakan, dipanggil untuk menjadi sahabat bagi yang lain dan kita sendiri tidak ingin hidup sendiri. Persahabatan memungkinkan kita menjadi bagian satu kebersamaan. Hanya sayang kita tidak tahu bagaimana melestarikan persahabatan kita; lebih mudah bagi kita untuk mengkhianati persabahatan kita ketimbang mempertahankannya. Kepada para murid, kepada kita, Yesus meminta agar kita saling mengasihi sebagai bukti persahabatan kita denganNya. Tetapi kita sendiri belum sanggup membuktikannya, hidupNya belum menjadi hidup kita, kehadiran kita belum sanggup menjadi lambang kehadiranNya, perintahNya belum kita jalankan dengan baik. Tetapi kita masih punya hati, kita masih punya kerinduan untuk bersahabat. Untuk itu kita mesti bersedia mengikis habis rasa-rasa lain dalam hati agar rasa kasih bisa tumbuh subur di sana. Menjadi sahabat Yesus dan sahabat sesama adalah panggilan dan tugas setiap kita.

“Persahabatan kita harus dilandasi kasih yang tulus dan kasih tanpa pengkotakan memungkinkan abadinya persahabatan kita”.
[ back ]