Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 01-08-2011 | 20:16:34
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “HIDUP ANDA BERARTI”
Yoh 6:44-51, Kamis, 12 Mei 2011

Semua kita tahu tentang kisah Firdaus, taman kebahagiaan di mana manusia menikmatinya tanpa harus bersusah payah membanting tulang. Taman itu sirnah ketika manusia melakukan kesalahan. Mengangkat kembali kisah ini, saya bermaksud mengatakan bahwa sebenarnya, disadari ataupun tidak, apa yang kita cari selama ini pertama-tama adalah apa yang pernah kita rasakan dan yang kedua, karena kita ingin merasakan apa yang dulu pernah dirasakan dan dialami oleh orang-orang sebelum kita. Pernyataan ini membawa kita kepada kenyataan bahwa hidup ini adalah satu usaha mencari kebahagiaan yang hidup hilang dari kebersamaan kita yang mesti ditemukan, dibangun kembali. Kehilangan ini dapat tampil dalam berbagai bentuk dan aneka wajah; peran yang mesti kita lakonkan telah kehilangan makna, kehadiran kita sudah tidak lagi membawa nilai tambah bagi kehidupan sesama dan laku kata kita tidak lagi membawa kegembiraan. Sebaliknya di mana kita hadir di sana nilai-nilai luhur yang kita warisi menjadi tak bernilai atau perlahan-lahan kehilangan gaungnya. Kita hidup dalam kebersamaan bukannya untuk melestarikan kebersamaan itu tetapi untuk merusaknya dari dalam. Kehidupan bersama, sesama hanyalah batu loncatan untuk menggapai apa yang kita impikan. Banyak rumah tangga yang hancur karena dirusakkan oleh anggota-anggotanya sendiri. Komunitas-komunitas hidup bersama tidak lagi menjadi gambaran yang baik bagaimana hidup bersama yang diimpikan karena anggota-anggotanya semakin individualistis; popularitas pribadi yang dikejar bukan misi bersama. Jadikan hidupmu berarti bagi sesama; kita belum sepenuhnya berarti tetapi kita punya peluang untuk berarti. Yang terpenting adalah apakah kita menyadari tanggung jawab ini?

Makanan bisa hadir dalam aneka bentuk dan rasa. Kita membuthkan makanan untuk mempertahankan sekaligus melestarikan hidup ini. Selain makan jasmani kita butuh makanan rohani yang dapat memenuhi kerinduan terdalam diri kita. Setelah memberi makan mereka yang mengikuti Dia, Yesus berbicara tentang diriNya sebagai roti hidup dan syarat-syarat untuk menjadi bagian dari kehadiranNya dan bias menjadi representasi kehadiranNya di antara yang lain. Pertama, orang hanya bisa datang kepadaNya kalau ada kesediaan untuk mendengarkan panggilan Bapa. Tuhan senantiasa memanggil kita yang menjadi soal adalah apakah kita mendengar suaraNya atau tidak dan bersedia untuk mengikutiNya atau tidak. Banyak kali kita mendengar suaraNya tetqapi kita enggan mengikuti Dia karena suaraNya bertentangan dengan keinginan kita. Atau kadang kita bersedia mengikuti Dia tetapi tidak sepenuh hati sehingga bila ada tantangan kita mudah menyerah dan mengundurkan diri. Memiliih mengikuti panggilanNya berarti kita harus melibatkan seluruh diri dan ada kita apapun konsekuensinya; berani ambil resiko. Tanpa kesediaan dan keberanian untuk ambil resiko, pilihan ini akan menghadapkan kita pada aneka masalah. Memilih untuk mendengarkan panggilanNya dapat pula diekspresikan lewat kesediaan kita untuk diajar dan belajar dari dunia sekitar kita. Tetapi ini hanya mungkin terjadi kalau kita punya keterbukaan dan kerendahan hati; menyadari situasi diri dan mengakui keunggulan dunia di sekitar kita, lalu membuka diri untuk saling memperkaya dan melengkapi. Ada banyak hal di sekitar kita yanhg hadirnya bila disadari, darinya akan ditemukan banyak hal yang dapat memperkaya hidup kita dan membuat hidup kita menjadi jauh lebih baik. Bila dua sikap ini sudah menjadi bagian hidup kita, hidup kita akan lebih sempurna dengan menerima kehadiran Yesus sebagai roti hidup. Sebagaiman makanan yang kita santap berubah menjadi bagain diri kita, demikian juga dengan kehadiran Yesus. Menjadikan Yesus roti hidup bagi hidup kita menjadi mungkin kalau kita berusaha menjadikan hidup dan misiNya, hidup dan misi kita sehingga di mana kita hadir di sana orang dapat melihat, merasakan dan mengalami kehadiran Yesus, kehadiran yang membawa perubahan kea rah yang jauh lebih baik. Bukan lagi kita yang hidup melainkan Kristus yang hidup dalam diri kita.

Jaman telah berubah dan banyak nilai hidup yang mulai dipertanyakan termasuk nilai kekristenan yang kita anut. Mengapa? Hal ini terjadi karena mungkin hidup kita sudah tidak lagi mengekspresikan apa yang kita imani; kehadiran kita belum mampu membuat orang lain merasakan kehadiran Yesus dan Allah yang kita imani. Orang tidak akan bertanya berapa kali kita menghadiri perayaan ekaristi dalam seminggu atau berapa sering kita menerima tubuh dan darah Kristus, roti hidup. Mereka hanya mau melihiat apakah perayaan ekaristi, tubuh dan darah Kristus yang kita terima berpengaruh atau tidak dalam hidup kita. Ada begitu banyak orang yang sedang berusaha untuk bertemu dengan Yesus, kitalah orang-orang yang mesti membawa mere-ka semakin dekat dengan Yesus yang dicari. Kehadiran Yesus akan punya nilai tersendiri dan kehadiran kita berarti bagi sesama bila hidup dan misi Yesus sudah menjadi hidup dan misi kita. Sanggupkah kita untuk tugas yang satu ini?

“Bila hidup dan misiNya telah menjadi hidup dan misi kita, kehadiran kita akan sungguh member warna yang khas”.
[ back ]