Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 20-07-2011 | 20:33:23
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “SIMAK MAKNANYA”
Yoh 6:30-35, Selasa, 10 Mei 2011

Apa anda pernah menerima sesuatu sebagai kenang-kenangan atau sebagai tanda mata atau apakah sekarang anda tengah memandang dan mengenang orang yang pernah memberi anda kenang-kenangan atau tanda mata? Apapun jawaban anda, yang pasti hidup kita dikelilingi banyak tanda; entah itu tanda konvensional ataupun tanda alami. Karena itu tidak heran kalau di mana-mana kita akan bertemu dengan berbagai tanda entah itu dikenal maupun tidak, dimengerti ataupun tidak; ada tanda lalu lintas, tanda tangan ataupun tanda mata dan tanda-tanda. Walau hadir dalam wajah yang aneka, hanya satu hal yang patut kita catat; kehadirannya senantiasa menghadirkan dirinya sendiri atau mewakili sesuatu yang lain. Kenyataan inilah yang memunculkan aneka tafsiran terhadap kehadirannya. Hal ini bergantung siapa yang berhadapan dengannya; bagi orang tertentu wajah masam bisa duta hati yang suram maupun ketidaksukaan. Bunga yang dikirim bisa saja dianggap mewakili hati sang pemberi, bias juga sekedar penghias sebuah kekosongan, selembar foto menjadi tanda ketakterpisahan relasi dua hati meski jauh dalam jarak, bisa saja sekedar koleksi. Suara yang terkirim via telepon adalah detak kerinduan dia yang berada di sebrang. Di atas semuanya itu, karena kehadirannya menghadirkan sesuatu yang lain, kita diingatkan untuk berhati-hati/bijak menyimak apa yang diwakilinya; jeli melihat realitas lain di balik apa yang ditangkap mata, pandai membaca yang tersirat di balik kata-kata yang tersurat dan sigap mendengar apa yang tidak dikatakan di balik kata-kata yang terucap.

Disadari ataupun tidak, Paska, pesta perubahan itu semakin samar gaungnya ditelan keseharian dan rutinitas kita tetapi tidak demikian dengan pesan paska yang kita rayakan. Pesan-pesan itu sudah mesti menjiwai, nampak dalam hidup dan laku kita. Bila hal ini telah mempengaruhi seluruh hidup dan relasi kita, tersamar ataupun kasat mata sudah dapat dilihat ada perubahan dalam hidup kita, karena itu kita tidak lagi butuh tanda atau bukti untuk bisa percaya bahwa kita memang sudah berubah. Berhubungan dengan tanda atau bukti, apakah kita membutuhkan tanda/bukti untuk bisa percaya pada sesuatu atau seseorang? Bukti-tanda dibutuh-kan saat orang berada dalam keraguan, kebimbangan akan sesuatu-seseorang. Ini berarti kita tidak selalu membutuhkan tanda-bukti untuk bisa percaya. Bila semua hal mesti difisikkan, dengan standar apa kita dapat mengukur kedalaman sebuah cinta atau keyakinan? Dapatkah anda bayangkan bagaimana jadinya dunia ini bila segala sesuatu mesti didasarkan pada tanda/bukti? Kepercayaan adalah soal kualitas jiwa, keterbukaan diri dan kesediaan hati untuk menerima kenyataan yang ada bukan masalah adanya tanda atau tidak. Ketika orang-orang Yahudi meminta tanda supaya mereka bisa percaya, Yesus berkata bahwa hidupNya sendiri adalah tanda yang mestinya membuat mereka semakin menyadari kehadiran Tuhan yang menyelamatkan dalam hidup mereka, hal ini diperkuat dengan apa yang Ia lakukan. Di satu sisi tanda bisa membantu orang untuk percaya, mempererat satu ikatan tetapi di sisi lain tanda bisa juga dijadikan alasan untuk menolak kehadiran seseorang. Dan dalam kisah ini, Yesus hendak menandaskan bahwa kita tidak butuh tanda lain untuk bisa membuat orang percaya, keha-diran kitalah yang mesti menjadi tanda di mana darinya kehadiran kita menjadi representasi, tanda kehadiran Allah yang kita imani dan kehadiran kita mesti menjawabi harapan mereka yang lapar dan haus akan kasih dan kebaikan Allah. Bagi Yesus kepercayaan mestinya merupakan sesuatu yang harus muncul dari dalam diri manusia bukan sesuatu yang lahir karena dipaksakan dari luar. Keselamatan ditawarkan kepada setiap pribadi dan tawaran ini mesti dijawab secara pribadi pula. Orang harus bebas menentukan sikap karena konsekuensinya pun sangat personal. Katakan terus terang bahwa anda menolak tidak perlu tanda untuk dijadikan alasan.

Iman/kepercayaan bukan soal tanda tetapi soal hati, kita tidak dapat mengukur sesuatu yang spiritual dengan ukuran material. Karena itu hebatnya tanda tidak akan mampu mempengaruhi bila orang tidak punya hati atau bila kita menutup pintu hati kita rapat-rapat. Tetapi ini tidak berarti kita tidak membutuhkan tanda, kita tetap memtuhkan kehadirannya kalau memang itu diperlukan. Karena beriman tidaknya seseorang sulit diukur hanya bisa dideteksi dari apa yang kelihatan, hidup kita. Hidup kita sendiri menjadi tanda terbesar beriman tidaknya kita, apa yang kita imani mesti menyata dalam hidup kita dan apa yang kita hidupi menjadi gambaran apa yang kita imamni. Kehadiran kita dalam kebersamaan mesti menandakan kehadiran Allah yang kita imani. Apakah memang demikian?

“Kita tidak membutuhkan tanda untuk dapat dipercaya, tetapi hidup kita menjadi tanda dipercaya tidaknya kita”.
[ back ]