Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 17-07-2011 | 22:37:54
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “TINGGALLAH BERSAMA KAMI”
Luk 24:35-48,Minggu, 8 Mei 2011

Apakah anda pernah merasakan pahitnya kekecewaan? Kita pernah mengalaminya walau dalam kadar yang berbeda, dampak yang aneka dan alasan yang beragam. Orang-orang yang kecewa adalah orang-orang yang pernah punya harapan akan sesuatu, terhadap seseorang. Bila ini kenyataannya, kita harus bersikap bijak; orang-orang yang punya harapan adalah orang-orang yang mesti siap untuk kecewa ataupun dikecewakan karena bisa jadi harapan kita tidak dapat menjadi kenyataan atau yang kita dapatkan tidak seperti yang kita harapkan. Hanya sering kita begitu optimis, hidup di awang-awang lalu lupa bahwa boleh jadi harapan itu tidak sampai ke titik batas, berubah menjadi kenyataan. Kita lupa bahwa antara harapan dan kenyataan ada 1001 kemungkinan yang bisa terjadi. Bukankah hidup ini adalah nama lain dari kemungkinan? Kemungkinan inilah yang biasanya tidak diperhitungkan oleh kita yang sangat berharap. Bila ke-mungkinan ini masuk daftar perhitungan, kekecewaan bukanlah kata akhir, jalan keluar selalu ada, pengobatan tidaklah sulit. Kekecewaan tidak hanya bersisi negatif, ia punya nilai positif kalau kita tidak larut dalam kekecewaan dan menganggap bahwa itulah akhir hidup kita. Dari kegagalan dan kekecewaan yang kita alami, kita dapat belajar bagaimana menghadapi realitas hidup dengan segala kemungkinan yang mungkin terjadi, kepercayaan diuji, kesejatian sebuah kesetiaan dipertaruhkan.

Paska telah menajdi masa lalu, kebangkitan Yesus jadi polemik dan impian mendapat tempat istimewa di samping Yesus tinggal kenangan. Inilah kisah dua murid Yesus yang kembali ke Emaus masa lalunya. Kecewa karena impiannya tidak dapat menjadi kenyataan, dua orang murid memutuskan kembali ke kampung halamannya. Keduanya coba diluapkan kekesalan hatinya dalam percakapan. Hangatnya percakapan menyembuhkan harapan yang terkoyak, membuat mereka tak menyadari kehadiran Yesus, yang coba mengobati pikiran mereka untuk memahami kenyataan yang sebenarnya. Langkah pengobatan yang diberikan Yesus mengguggah hati. Mendekati kampungnya, melihat situasi saat itu, mereka mengundang Yesus tinggal bersama mereka. Di sana mereka sadar siapa yang berjalan bersama mereka. Di sini kekecewaan mereka bernilai positif. Pertama, dengan berdialog, sharing, beban hidup kita bias dikurangi dan jalan keluar bias kita temukan. Begitu asyik berceritera, keduanya tidak menyadari hadirnya Yesus. Kedua, Kekecewaan membawa langkah mereka kembali ke kampung, ke motivasi awal, menemukan sebab-sebab gagalnya impian mereka menjadi kenyataan dan bagaimana mengatasinya. Kita cenderung menghitung daun-daun yang jatuh bukan tunas-tunas yang sedang bertumbuh. Ketiga, kekecewaan menyadarkan mereka akan betapa beratinya kehadiran sesama. Kehadiran mereka dapat membangkitkan kembali kesadaran kita akan situasi yang mengitari kita; kita masih punya hati, masih punya harapan. Beban kehidupan ini akan berkurang, bila kita membiarkan sesama mengambil bagian dalam keseharian kita. Begitu sering kekecewaan mematikan langkah kita untuk maju karena kita mau berjuang sendiri, lalu menutup diri terhadap kehadiran yang lain bahkan lebih dari itu membuat kita membangun sikap curiga terhadap sesama. Terbenamnya mentari bukannya alasan untuk mematikan impian kita melainkan peluang untuk menemukan jalan baru bagaimana mewujudkannya, menyadari bahwa kehadiran sesama penting dalam hidup kita. Kehadiran sesama menyadarkan kita akan apa yang mesti kita lakukan. Kembali mengenal Yesus membawa mereka kembali ke Yerusalam, tempat di mana mereka harus berjuang. Keempat, kita perlu berhati-hati dengan rasa kecewa yang kita miliki karena kekecewaan dapat menututp mata kita terhdap kehadiran Tuhan dan sesama. Dan kisah Emaus membuktikan bahwa disadari atau tidak, diabaikan ataupun disepelekan Tuhan selalu hadir dalam berbagai cara dalam hidup kita. Yang menjadi soal adalah apakah kita membuka mata dan hati kita atau tidak. Bila mata dan hati anda terbuka anda tidak akan mengingkari bahwa apapun situasinya Dia senantiasa hadir dalam hidup kita.

Ada banyak hal yang dapat petik ataupun pelajari dan petik dari setiap peristiwa hidup kita. Dari sebuah kekecewaan kita disadarkan bahwa kekecewaan itu racun kehidupan; hadirnya dapat mematikan semangat juang, memupuskan kepercayaan. Ia membuat kita berada di ambang senja. Mati langkah dan hilang harapan. Apapun yang pernah dirasakan, kekecewaan bernilai positif; menghantar kita kembali ke langkah awal di mana peran positif sesama disadari. Keke-cewaan telah membuat banyak orang di sekitar kita yang mentari hidupnya hampir terbenam, kitalah yang dipanggil untuk menyadarkan mereka akan situasi hidupnya, selagi kita masih punya napas selama itu pula harapan kita tidak akan mati. Dengan memberi mereka sedikit ruang dalam hati kita, mereka akan kembali berhati dan menemukan kenyataan bahwa harapan mereka masih hidup dan impian mereka masih punya peluang menjadi kenyataan.

“Tugas kita adalah meyakinkan sesama bahwa ada banyak hal positif yang dapat kita petik dari setiap peristiwa yang kita sendiri alami ataupun sesama”.
[ back ]