Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 17-07-2011 | 22:25:36
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “JADILAH SAKSI TERANG”
Yoh 3:31-36,Kamis, 5 Mei 2011

Mentari hadir bukan sekedar menerangi hari tetapi juga menandakan adanya banyak perubahan dan hidup kita; berubahnya nama hari; lingkungan di mana kita hidup, program kerja kita dan masih banyak lagi. Mendengar topik ini dan coba menelusuri makna yang diwakilinya, saya berpendapat bahwa kata-kata ini mengungkapkan sisi gelap diri kita; kita belum, tidak atau enggan bersaksi tentang terang ataupun menjadi terang itu sendiri. Hidup kita belum mampu membawa sesama kepada terang ataupun mengenal terang sesungguhnya. Memang pada kita ada matahari dan aneka lampu penerang di malam hari, tetapi banyak dari kita yang lebih suka berada dalam gelap, suka akan perbuatan-perbuatan gelap. Lalu apa sebenarnya maksud topik ‘Jadilah saksi terang’. Topik ini merupakan ajakan ataupun penyadaran buat kita untuk kembali kepada misi kita masing-masing sebagai orang-orang beriman sekaligus sebagai makhluk yang tercipta untuk berada dalam terang dan dipanggil untuk menjadi terang bagi mereka yang ada di sekitar kita; entah sebagai matahari, bulan, bintang ataupun lampu dalam aneka bentuk kehadirannya. Bersaksi tentang terang tidak berarti kita harus banyak berbicara tentang terang. Sebenarnya lewat kata-kata ini, kita diminta untuk menjadi terang, menunjukkan ataupun meng-hantar sesama kepada terang itu seperti mentari yang bersaksi tentang bagaimana terang se-sungguhnya lewat kehadirannya sendiri. Terang, jelas, apa adanya, itulah terang. Jadi saksi terang berarti kita diminta untuk bersikap terbuka-transparan, tampil apa apanya, mengatakan yang sesungguhnya tanpa mengada-ada; apa yang kita imani itulah yang kita hidupi dan apa yang kita hidupi itulah ekspresi dari apa yang kita imani. Jadilah saksi terang berarti menjadi terang itu sendiri.

Perayaan paska mulai menjadi masa lampau, tetapi mestinya tidak demikian dengan pesan-pesan paska yang kita rekam. Harusnya pesan-pesan ini sudah mulai nampak dalam keseharian kita, mempengaruhi hidup kita. Masa paska mesti menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa kita sungguh memahami makna pesta paska, pesta perubahan yang kita rayakan. Perayaan itu tidak dengan sendirinya membawa perubahan bila kita tidak mengartikannya dan tidak bersedia untuk berubah. Pesta paska bukan sekedar peringatan akan sengsara, wafat dan kebang-kitan Yesus tetapi lebih sebagai satu pesta perubahan kebiasaan hidup; apa peran kita dalam penderitaan sesama, apa sumbangan kita untuk sebuah perubahan hidup. Hari-hari masa paska ini menjadi tanda, saksi bahwa perayaan paska tahun ini punya dampak yang khas bagi kita, kita sudah bersedia hadir sebagai manusia-manusia baru; manusia-manusia yang mau berterus terang; memberi kesaksian bahwa yang bangkit bukanlah Yesus tetapi diri kitalah yang bangkit, keluar dari kubur-kubur yang kita bangun dan merusak situasi hidup bersama. Membuktikan hal ini, kita berusaha memberikan kesaksian tentang terang seperti apa yang dilakukan Yesus, mengurangi kebiasaan berputar-putar dalam menyampaikan sesuatu ataupun dalam bersikap. Kita mesti belajar dari Yesus. Saat banyak orang mempertanyakan berita kebangkitan; dengan terus terang ia mengatakan bahwa Ia sungguh bangkit, menampilkan diriNya apa adanya. Dan kare-na itu kehadiranNya menuntut orang untuk memilih berpihak pada terang atau bersatu dengan kegelapan. Di sini kata-kata ‘jadilah saksi terang’ menjadi nada dasar pesan pesta/perayaan perubahan ini. Bersaksi tentang terang, kita tidak perlu banyak berkata-kata tentang terang, biarkan hidup dan karya kita menarik perhatian banyak orang bahwa mereka sesungguhnya sedang berhadapan dengan terang karena pada kita tidak ada sesuatupun yang tersembunyi, kita tidak berputar-putar; mengatakan apa adanya tanpa mengada-ada; apa yang kita katakan sesuai dengan apa yang ada dalam hati kita. Tekanan ini merupakan awasan bagi kita untuk berhati-hati karena cenderung menari dengan irama lain di bibir lain di hati atau hidup dan bersikap bagai air di daun talas. Bila sikap hidup anda jelas, anda tidak perlu banyak berkata-kata tentang terang karena hidup anda telah mengatakannya.

Ada matahari dan aneka lampu yang mengitari hidup kita. Tetapi tidak sedikit dari kita yang lebih suka hidup dalam kegelapan. Kitalah yang mekan dan minum bersama kristus yang bangkit, sang terang itu. Karena itu kitalah yang mesti merasa terpanggil dan punya kewajiban untuk berbicara tentang terang lewat hidup dan karya kita, menjadi terang itu sendiri ataupun menjadi penunjuk jalan menuju terang bagi mereka yang masih berada dalam kegelapan. Seperti Kristus, kitapun diutus ke dalam kebersamaan untuk bersaksi tentang terang dan menggugah mereka yang berdiam dalam kegelapan untuk kembali hidup dalam terang; terang matahari, terang lampu-lampu jalanan, terang iman. Kalau kita tidak bisa menjadi matahari biarlah kita menjadi bintang, biar Cuma seberkas cahaya kecil tetapi dapat membantu sesama untuk bisa melihat dan membedakan isi dunia ini.

“Mereka yang ada di sekitar kita tidak saja membuthkan matahari ataupun lampu jalanan, mereka membuthkan kehadiran kita yang dapat membuka wawasan mereka bagaimana seharusnya hidup dan bagaimana menggapai hidup yang lebih baik”
[ back ]