Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 25-03-2011 | 23:30:17
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “AMALMU TENTUKAN TEMPATMU”
Mateus 25:31-42,Senin, 14 Maret 2011

Boleh jadi anda bosan bila mendengar kebersamaan selalu menjadi tema atau topik dalam pembicaraan kami. Disukai ataupun tidak, kita toh tidak dapat mele-paskan diri kita dari kelompok yang satu ini karena kita ada dan menjadi hanya dalam dan melalui kelompok ini. Berada di luar kelompok ini tidak mungkin karena kita hanya dapat menga-takan adanya kesendirian bila di sana ada kebersamaan. Kesendirian secara implisit mengungkapkan adanya kebersamaan. Dan nilai kehadiran kita justeru ditentukan oleh sejauh mana kehadiran kita memberi warna yang khas bagi kebersamaan itu. Di sana kita dituntut untuk melakukan sesuatu yang khas seperti diri kita yang unik. Siapapun kita dan di manapun tempat kita, kita punya kewajiban untuk hal yang satu ini kalau yang kita kehendaki adalah tempat tertentu dalam kebersamaan itu. Kita akan mendapat tempat di sana sesuai dengan apa yang kita lakukan bagi kebersamaan itu. Di sini yang menjadi soal bukan siapa kita dan di mana posisi kita tetapi apa yang kita buat dari tempat di mana kita berada untuk kebersamaan itu. Tanda jasa yang diterima bukan karena apa yang kita lakukan untuk diri sendiri tetapi karena apa yang kita lakukan untuk kepentingan banyak orang. Posisi kita yang khusus harus menghasilkan sesuatu yang khusus bagi kebersamaan.

Kita sedang menjalani masa puasa, saat berahmat di mana kita diundang untuk membuat evaluasi sudah sejauh mana kehadiran kita memberi warna yang khas kristen bagi kebersamaan di mana kita ada dan mengais hidup, satu kesempatan buat kita untuk berbenah diri sudah sedalam apa kekristenan kita berakar dalam keseharian kita. Bila kita percaya hidup ini adalah satu anugerah, maka selain mensyukurinya, kesempatan ini mesti diartikan karena setiap pemberian, penggunaannya harus dipertanggungjawabkan. Satu saat akan tiba di mana dari setiap kita akan diminta untuk mempertanggungjawabkan segala yang telah kita terima, apa yang kita buat bagi kebersamaan dengan apa yang kita terima itu. Karena tempat kita sekarang dan kelak akan ditentukan oleh apa yang kita lakukan bagi sesama bukan oleh apa yang kita miliki atau di mana posisi kita dalam kebersamaan itu. Ini berarti dibaptis dalam nama Kristus bukan jaminan, punya nama kristen belum cukup, baptisan itu mesti diaktualisir dalam hidup nyata dan nama itu mesti menjadi jiwa setiap langkah laku kita. Punya rasa saja tidak banyak berarti bila tidak diman-faatkan untuk bisa merasakan apa yang dirasakan sesama dan mendorong kita untuk mela-kukan sesuatu demi sebuah perubahan kisah hidup. Apa yang kita buat bagi sesama itulah yang menentukan sejauh mana iman kita mempengaruhi hidup kita, itulah yang akan menentukan di mana seharusnya tempat kita. Dalam kisaha penghakiman terakhir jelas, apa saja yang menentukan tempat kita kelak. Pada akhir zaman semua kita akan dikumpulkan dan sesudah itu, berdasarkan apa yang kita lakukan bagi sesama selama hidup ini, tempat kita akan ditentukan entah itu di sebelah kira ataupun di sebelah kanan. Tempat yang layak hanya akan diberikan kepada mereka yang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri; tempat itu disediakan bagi mereka punya hati terhadap sesamanya, tidak hanya memiliki keprihatinan tetapi juga mampu memberi wajah yang khas bagi keprihatinannya dalam tindakan nyata, ‘apa yang kamu lakukan bagi saudaraKu yang paling hina, kamu lakukan untuk Aku’. Tempat itu diperuntukkan bagi mereka yang mampu mengartikan kehadirannya dengan memberi arti bagi hidup sesamanya. Melalui kehadiran mereka, sesama merasa bahwa mereka masih punya kesempatan mengubah ceritera hidupnya.

Kita semua menghendaki hidup bahagia. Hidup bahagia tidak ditentukan oleh apa yang kita miliki ataupun di mana posisi kita dalam kebersamaan tetapi bergantung pada sejauh mana kita menggunakan apa yang kita miliki untuk mengubah kisah hidup ini, apa yang kita buat bagi sesama dari tempat di mana kita berada. Di sini kebahagian bersifat misioner, dia ada untuk semua maka kita harusnya hidup untuk bisa saling membahagiakan; yang mengumpulkan banyak tidak berkelimpahan dan yang mengumpulkan sedikit tidak berkekurangan. Bila kita sungguh menghendaki kebahagiaan kekal dan mengalami berubahnya kisah hidup kita, masa puasa ini mesti kita artikan; berbuat baik sebanyak mungkin tanpa pengkotakan karena dengan kotak-kotak yang kita buat kita sendiri akan dikotakan dan akan menjadi umpan api yang tak terpadamkan.

“Yang kita hidupi, yang kita lakukan yang akan menentukan apakah kita mendapat tempat di hati sesama dan di hadapan Tuhan atau tidak”.
[ back ]