Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 24-01-2011 | 00:20:06
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘MEMBENCI, APA UNTUNGNYA’
Markus 3:22-30, Senin, 24 Januari 2011

“Apa untung yang anda peroleh dengan membenci sesama?” Saya tidak tahu rasa apa yang sedang bertamu di ruang hati anda tetapi saya sungguh mengharapkan supaya anda tidak membiarkan rasa benci menguasai ruang hati anda karena meyimpan rasa ini anda tidak akan mendapat apa-apa selain kehilangan banyak apa. Sebagai gantinya saya meminta anda membiarkan rasa kasih menguasai hati anda atau biarkan sedikit ruang agar rasa cinta tumbuh di sana dan mempengaruhi hidup dan relasi anda dengan dunia. Dengan pengaruhnya yang maha dahsyat, cinta mempertemukan, benci menceraiberaikan. Cinta adalah jalan menuju kebahagiaan, sedangkan kebencian merupakan racun yang mematikan nyala api kasih, cengkeraman yang merusak rajutan kekerabatan. Cinta membuat kehadiran orang lain begitu berarti, sebaliknya kebencian mengisyaratkan bahwa orang yang kita benci telah mati untuk kita. Cinta senantiasa membangkitkan kerinduan untuk bertemu dan ada bersama yang lain. Sebaliknya, kebencian mematikan rasa rindu, memperbesarkan jurang pemisah, membuat kita duduk di atas kursi yang gelisah kala melihat kehadiran yang lain yang masuk dalam daftar hitam yang kita buat. Cinta memampukan kita melihat kebaikan sesama dengan sinar mata yang positif sedangkan kebencian menutup mata kita terhadap kebaikan mereka dan mendorong orang untuk mencari-cari alasan menolak sesamanya, mengabaikan apa yang ia lakukan, ada-ada saja alasan untuk itu. Di sini kita punya alasan kuat untuk mengikis rasa benci yang ada dalam hati kita lalu berusaha menumbuhkembangkan rasa cinta di dalam nubari kita.

Suatu ketika entah kapan dua ribu tahun silam, demikian kisah Markus, mendengar bahwa Yesus mengusir banyak setan dari mereka yang kerasukan setan, para ahli Taurat dating dan mengatakan bahwa Yesus kerasukan Belzebul dan mengusir setan atas nama penghulu setan. Situasi kontradiktif ini oleh Markus dijadikan peluang untuk memaparkan konsekuensi dari dua rasa ini; cinta dan benci…..Mereka yang merasakan sentuhan cinta Yesus pulang dengan gembira dan memuliakan Tuhan, sedangkan mereka yang membenciNya, merasa status quonya di-tantang, tirai penutup kemunafikan dan kejahatannya disingkap perbuatan baik Yesus, mulai menyebarkan cerita miring tentang Dia. Bukankah lagu klasik ini juga merupakan lagu favorit kita yang sering kita nikmati kala rasa yang sama sedang bercokol dalam hati? Di sini, melalui kisah ini Markus hendak membuka mata kita untuk menemukan jawaban terhadap setiap soal yang kita hadapi dalam hidup ini. Banyak soal yang muncul dan tidak sedikit masalah yang sulit diselesaikan dalam kebersamaan terjadi karena perseteruan dua rasa ini; cinta dan benci dalam hati kita. Kita lengah dan membiarkan rasa benci mengambilalih tempat yang seharus diperuntukkan bagi rasa cinta. Padahal sudah seharusnya setiap kita mempunyai hati yang penuh kasih, mata yang punya tatapan positif, rasa yang peka menanggapi situasi dan akal yang mampu melihat jauh di balik apa yang kita saksikan agar kebersamaan kita tetap lesttari dan kebahagiaan dapat kita raih. Yang terjadi justeru sebaliknya, hati kita sudah tak punya rasa kasih, bahkan telah berubah menjadi padang liar tempat kebencian tumbuh subur, mata kita sudah ditutupi kacamata hitam kebencian, rasa kita sudah tak mampu mendeteksi signal situasi yang sedang menggetarkan senar hidup kita dan akal kita hanya mampu merekam huruf-huruf mati secara harafiah dan lebih dari itu digunakan untuk menemukan alasan yang kadang tak logis demi sebuah penolakan yang tidak rational. Menanggapi situasi ini, Yesus dengan tenang mengajarkan bahwa satu kerajaan tak akan bertahan bila kerajaan itu terpecah-pecah, harta yang kita miliki akan mu-dah dirampok bila tidak ada kekompakkan dalam rumah. Mungkin dengan ini kitapun mampu memahami mengapa berita tentang perang terus memenuhi halaman media cetak dan media elektronik? Ketahanan sebuah kebersamaan hanya mungkin, bila ada saling percaya antar ang-gota, kesediaan untuk saling mendukung yang dilandasi cinta yang mengabdi, kebersamaan ini hanya mungkin lestari bila hati setiap anggota menjadi tempat kasih bersemi. Melalui wejanganNya ini, Yesus hendak mengisyaratkan bahwa dunia tempat di mana kita ada dan hidup sedang sakit dan perlu diobati, ladang hati kita perlu dibersihkan, peran kita dalam kebersamaan perlu ditata ulang dan apa yang selama ini kita lakukan perlu dievaluasi. Hanya dengan cara ini, bukit, lembah dan jurang yang selama ini memisahkan/menghalangi relasi kita dengan sesama dapat diratakan-dijembatani, mimpi kita tentang hari esok yang lebih baik, harapan kita untuk menikmati situasi firdaus di tempat di mana kita berada dan mengais hidup akan menjadi kenyataan.

Masihkah mungkin, dunia kita yang sedang sakit diobati, relasi kita yang retak dipulihkan, persoalan yang melilit kebersamaan kita diurai? Kita masih punya hati, kita masih diberi peluang dan waktu, yang menjadi soal adalah apakah kita bersedia untuk kembali memberi rasa cinta tempat layak dalam hati kita? Terkadang kita punya impian tetapi kita tak mau beranjak dari impian kita ke dunia nyata, kita punya rasa tetapi kita tak bersedia untuk merasakan apa yang sedang dirasakan oleh yang lain, kita punya mata tetapi kita tidak menggunakannya untuk melihat tetapi untuk memata-matai, kita punya pikiran yang sehat tetapi kita membiarkannya disesatkan oleh hal-hal yang menyesatkan, kita punya kesempatan untuk mempersatukan tetapi kita lebih suka menceraiberaikan, kita memiliki peluang untuk berubah tetapi kita sendiri lebih kerasan untuk bertahan. Semua impian dan harapan kita hanya mungkin menjadi kenyataan bila kita bersedia mengikis habis rasa benci yang ada dalam hati dan menumbuhkembangkan rasa cinta, agar dengan demikian kebaikan yang kita lakukan ataupun dilakukan sesama dapat membantu diri kita untuk menjadi orang baik yang bisa berbuat baik seperti Yesus, yang jejakNya sedang kita ikuti.

“Membenci sesama anda tidak akan mendapat apa-apa selain membakar diri anda sendiri. Kebencian itu akan menguras seluruh diri anda dari dalam”.
[ back ]