Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 23-01-2011 | 23:21:37
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘JANGAN CARI SOAL’
Mrk 2:23-28,Selasa, 18 Januari 2011

Banyak soal yang sedang dihadapi dunia dan tidak kurang masalah yang sedang menuntut perhatian kita. Lalu apakah anda sendiri bebas soal? Walaupun mungkin ada soal tetapi anda tidak perlu merasa rendah diri karena anda hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang punya lebih banyak soal. Dan hidup kita sendiri tidak menjamin bahwa kita akan bebas dari soal; hidup hanya menyediakan kemungkinan-kemungkinan bagaimana meredam ataupun mengatasi soal yang ada. Kitapun mesti menyadari bahwa kadang kita mempersoalkan apa yang sebenarnya bukan soal, membuangkan banyak waktu untuk mempermasalahkan yang sebenarnya bukan masalah lalu mengabaikan apa yang seharusnya kita permasalahkan. Kita mencara sebab soal di luar diri kita padahal kita sendirilah yang menjadi sumber soal. Kita mempersoalkan ke-se-ragaman dan melihatnya begitu positif tanpa menyadari bahwa keseragaman dapat mematikan keunikan setiap pribadi; memberi peluang orang tenggelam dalam masa. Berhubungan dengan kewajiban kita dalam kebersamaan, soal muncul karena kita mau apa yang kita lakukan, di-lakukan pula oleh orang lain atau kita memaksakan kehendak kita untuk yang lain tanpa memperhitungkan dalam situasi apa mereka berada. Kita tidak melihat manfaat dari aksi kita untuk diri, tetapi kita menggunakannya untuk mengukur kehidupan sesama. Patut dicatat kita bukanlah standar kehidupan orang lain, kita dan hidup kita hanya bisa menjadi cermin hidup yang dapat digunakan sesama untuk menata hidupnya sendiri. Satu lagi yang perlu diingat mo-tivasi yang picik merusak luhurnya nilai dari apa yang kita lakukan.

Saya tidak tahu bagaimana situasi kampung tengah anda; apakah sudah terisi atau lagi keroncong? Mungkin saja pagi ini anda bangun dengan rasa lapar yang tidak tertahan karena semalam anda ke pembaringan tanpa mengisi perut anda. Dan mungkin saja karena rasa lapar itu anda langsung makan tanpa lebih dahulu bersikap mulut atau membasuh muka. Kata orang-orang kesehatan, perut yang dibiarkan kosong atau rasa lapar yang ditahan pada gilirannya akan mengganggu pencernaan. Lain lagi dari segi sosial, kelaparan yang tidak tertahan bisa membuat orang nekad melakukan apa saja tanpa peduli adanya aturan yang mengikat; kejahatan bisa dilakukan atau bunuh diri jadi jalan keluar terbaik. Di sisi lain situasi inipun bisa menguntungkan orang lain, kelaparan dan penderitatan sesama bisa dimanipulasi demi menambah perbendaharaan pribadi, popularitas pribadi atas nama keprihatinan. Markus berkisah bahwa ketika melintasi ladang gandum, karena rasa lapar yang tidak tertahan, para murid melakukan hal yang tidak diperbolehkan hukum Sabath. Tindakan ini memunculkan aksi protes dari kaum Farisi yang melihat bahwa tindakan para murid melanggar adat istiadat Yahudi. Anehnya, tanggapan Yesus justeru biasa-biasa saja ketika ulah para muridNya dilaporkan kepadaNya. Kesempatan ini digunakan Yesus untuk menyadarkan mereka akan makna adat istiadat dan pelaksanaannya dalam kebersamaan. Yang terpenting bukan pelaksanaan hukum tetapi kesadaran dan keterbukaan manusia untuk menerima kenyataan bahwa hukum punya nilai bagi diri dan sesama. Pelaksanaan hukum/adat istiadat, apapun bentuknya, harus dilandasi kesadaran bahwa hal itu pertama-tama bermanfaat bagi orang yang melaksanakannya. Selain itu apa yang kita lakukan tidak perlu dijadikan alasan untuk mengukur kehidupan orang lain karena kita tidak punya hak menilai hidup sesama. Di sini motivasi kita menentukan nilai dari tindakan kita. Melakukan sesuatu dengan intensi mengukur kehidupan sesama, merusak, merendahkan luhurnya nilai dari apa yang kita lakukan. Kita tidak perlu banyak bicara tentang apa yang kita lakukan tetapi kita harus memberi waktu kepada apa yang kita lakukan untuk berceritera tentang kita. Banyak soal muncul dalam hidup karena kita cenderung membuang banyak waktu berbicara tentang apa yang kita kerjakan ketimbang memberi banyak waktu agar apa yang kita kerjakan berbicara tentang kita. Kenyataan dan apa yang kita lakukan akan lebih banyak berkisah tentang diri kita ketimbang kita sendiri yang melakukannya karena boleh jadi apa yang kita katakan melebihkan ataupun mengurangi apa yang kita lakukan. Kenyataan dan apa yang kita lakukanu dengan sen-dirinya akan dijadikan cermin oleh sesama untuk menata hidupnya. Hati dan tindakan kita mesti sejalan. Untuk itu kita perlu menghindari kesan seolah-olah.

Melihat kenyataan ini, kita bertanya, ‘di mana nilai lebih yang kita miliki sebagai orang-orang kristen dalam kehidupan bersama? Apakah hidup kita sudah jauh lebih baik dari pada kaum Farisi ataukah kita adalah kaum Farisi jaman ini bahkan lebih buruk dari mereka? Bila kita jujur, kita harus mengakui bahwa kita baru berada pada tahap mengetahui adat istiadat yang berlaku tetapi belum memahami mengapa kita mentaatinya dan menghidupinya. Mungkinkah kita adalah para murid yang suka melanggar adat yang berlaku entah itu disadari ataupun tidak? Siapapun kita, seperti Yesus, kita pun mesti siap untuk membawa pulang sesama yang kurang memahami bagaimana seharusnya hidup bersama. Yang terpenting adalah biarkan apa yang kita lakukan berbicara tentang kita dan jangan pernah melakukan sesuatu hanya untuk menilai hidup sesama, bila ini terjadi kitalah yang merusak luhurnya nilai dari apa yang kita kerjakan.

“Biarkan apa yang anda lakukan menjadi cermin hidup sesama, jangan jadikan apa yang anda lakukan standar untuk mengukur kehidupan orang lain”
[ back ]