Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 23-01-2011 | 23:17:36
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘JANGAN TEMPEL-TEMPEL’
Mrk 2:18-22,Senin, 17 Januari 2011

Musim hujan tidak saja menyenangkan tetapi juga membuat saya sibuk karena ternyata saya disadarkan banyak bocoran yang ada pada atap rumah saya. Sebelum mendapatkan biaya untukl menggantikan atap yang bocor dan sudah mulai karatan karena cuaca atau mungkin juga karena usianya yang sudah terbilang tua, hampir 23 tahun, saya harus menambal, menutupi lubang-lubang pada atap itu. Saya lalu bertanya pada salah satu karyawan saya yang mantan tukang bangunan, apakah bisa dicat lagi agar kelihatan baru. Dia mengatakan bahwa sebaiknya atap yang rusak itu diganti saja. Yang masih bisa dipakai mesti dicat ulang tetapi untuk itu, pertama-tama yang harus dilakukan adalah atap yang karatan itu perlu bersihkan dengan kertas pasir untuk menghilangkan karatannya baru kemudian dicat. Lalu saya kembali bertanya, mengapa tidak langsung dicat? Katanya, kalau langsung dicat, cat itu akan mudah terkelupas karena dia hanya menutupi karatan itu. Jawaban ini sederhana tetapi kadang yang sederhana ini diabaikan sehingga hasilnya kita sepertinya menabur di angin; sia-sia usaha kita, hasil yang kita peroleh tidak seperti yang kita harapkan. Dari kenyataan ini, bila kita jeli mengikuti alur perjalanan hidup ini dan segala yang terjadi di sekitar kita, kita akan menemukan kenyataan bahwa hidup ini sarat dengan syarat. Artinya apa yang kita inginkan dapat terpenuhi bila kita berusaha memenuhi tuntutannya. Untuk bisa bertahan hidup kita mesti bernapas, untuk sampai ke tempat tujuan kita, kita mesti bergerak dari tempat di mana kita berada ke tempat yang kita tuju. Pendeknya diperoleh tidaknya apa yang kita inginkan bergantung dari terpenuhi tidaknya syarat yang diminta. Bila syarat-syarat ini dipenuhi, apa yang kita impikan dapat menjadi kenyatakan.

Kita selalu hidup dalam kebersamaan dan demi lestarinya kebersamaan itu, disadari atau-pun tidak ada hal-hal dalam kebersamaan itu yang perlu direnovasi, dirombak, dibaharui, diberi wajah baru entah itu karena pengaruh cuaca jaman atau karena telah digerogoti rentang waktu yang telah dilalui. Misalnya, ada orangusianya sudah lanjut tetapi masih bertingkah seperti anak baru kemarin atau tidak sedikit orang menyangka bahwa kebersamaan hanya bisa lestari bila ada keseragaman dan karena itu perbedaan mesti dilenyapkan. Padahal keseragaman bisa mematikan keunikan yang merupakan pembentuk kebersamaan, memungkinkan orang tengggelam dalam massa dan perbedaan adalah kekayaan sebuah kebersamaan. Kebersamaan hanya mungkin lestari bila keunikan masing-masing pribadi dihormati dan masing-masing pribadi tahu untuk apa me-reka ada dalam kebersamaan. Di sini pola pikir kita mesti dibaharui. Ketika menghadapi keluhan para murid Yohanes pembaptis tentang kelakuan para murid berhubungan dengan puasa yang mereka jalankan, Yesus menjelaskan bahwa yang terpenting bukanlah keseragaman tindakan tetapi pemahaman kita tentang mengapa kita melakukan tindakan itu. Sesuatu yang kita kerjakan bernilai bukan karena kita melakukannya tetapi karena kita menyadari bahwa apa yang kita lakukan itu bermanfaat untuk diri dan banyak orang. Puasa itu bernilai bagi kita bukan karena kita menjalankannya tetapi karena dengan menjalankannya hidup kita perlahan-lahan dibaharui, kita juga dapat merasakan dan memahami apa yang sedang dirasakan orang lain. Melakukan sesuatu tanpa memahaminya adalah kebodohan dan memahami sesuatu tanpa menjalankannya adalah pengkhianatan. Selain itu melakukan sesuatu dengan tujuan untuk mengukur kehidupan orang lain, melunturkan nilai dari apa yang kita lakukan. Kalau puasa berhubungan dengan usaha menemukan hidup baru, membaharui hidup; kita mesti sadar bahwa hidup baru hanya mungkin kalau hidup lama ditinggalkan, ini satu conditio sine quo non, satu syarat yang harus dipenuhi. Di sini sikap ikut arus mesti ditinggalkan, kecenderungan untuk tenggelam dalam masa harus dijauhi. Murid Yohanes pembaptis masih membatasi aksi mereka pada pemenuhan hukum sehingga perlu keseragaman bukan pemenuhan kebutuhan, sesuatu yang lahir dari dalam bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar. Di sisi lain Yesus kembali menegaskan bahwa kita tidak bo-leh melunturkan nilai dari apa yang kita lakukan dengan memaksa orang lain melakukan hal yang sama, apa yang kita lakukan tidak boleh dijadikan sarana untuk mengukur kehidupan orang lain. Sikap semacam ini sudah tidak jamannya lagi sehingga bila hal ini dipaksakan hidup baru akan semakin sulit diraih. Sesuatu yang baru mesti disimpan pada wadah yang baru pula. Ini hukum alam yang mesti dipatuhi.

Turunnya hujan mengubah segalanya; padang tandus kembali diselimuti sutera hijau, mata air yang hampir mengering, membual lagi dan dahan-dahan telanjang kembali berbaju. Di sini kalau kita jeli menyimak kenyataan di sekitar kita, kita mesti mengakui bahwa tiap detik sang waktu adalah peluang untuk berubah, kesempatan untuk membaharui diri demi lestarinya satu hidup bersama, demi berartinya kehadiran kita di sana. Kalau alam mampu menggunakan momen berahmat itu menanti datangnya musim semi, mengapa kita tidak bisa menggunakan setiap kesempatan untuk membaharui diri? Lalu siapakah kita dalam kebersamaan ini, murid-murid Yohanes dan kaum farisi yang suka bermain dengan hal-hal yang bersifat lahiriah ataukah kita adalah seorang Yesus yang selalu berusaha menyadari dan menyadarkan orang lain untuk memahami manfaat dari apa yang kita lakukan untuk diri sendiri, sesama dan Tuhan? Pertanyaan ini akan mudah dijawab bila kita merubah sikap kita terhadap sesama. Hidup bersama tidak berarti keseragaman, dan keunikan kita tidak boleh menjadi keanehan. Untuk dapat menikmati hidup baru, tinggalkan hidup lama anda. Yang baru butuh yang baru.

“Yang baru, pembaharuan hanya mungkin tercipta kalau kita mau membaharui pola pikir dan mental kita, menjauhi mental kaum farisi dan para ahli Taurat”.
[ back ]