Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 20-01-2011 | 23:24:28
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘LIHATLAH’
Yoh 1:29-34, Minggu, 16 Januari 2011

Mungkin saja anda baru bangun pagi sehingga penglihatan anda masih samar karena pengaruh pulasnya tidur anda atau bisa saja karena dibangunkan secara mendadak. Walaupun demi-kian saya berharap mata anda berfungsi dengan baik; bisa membedakan mana yang hitam dan mana yang putih. Semua kita punya mana walaupun mungkin tidak semua kita matanya berfungsi dengan baik; ada yang mulai rabun karena usia atau karena penyakit mata pengaruh musim. Mungkin juga kita punya mata yang baik tetapi sering kita tidak gunakan dengan baik untuk melihat hal-hal yang baik dan mendatangkan kebaikan sehingga sering kita kita mendengar selentingan ‘kamu lebih buta dari prang buta’. Mendengar kalimat ‘lihatlah’, mestinya apa yang kita dengar ini membuat kita merenungan sejenak; meneliti apakah mata kita masih berfungsi dengan baik atau biasa difungsikan untuk melihat atau tidak. “Lihatlah”, kalimat ini singkat dan sederhana tetapi mengandung perintah sekaligus ajakan dan di sana kita bisa menemukan seribu satu jawaban atas. ‘Lihatlah’, gunakan matamu, perhatikan dengan saksama, cermat dan teliti, perhatikan dan ikuti, lihat apa yang ada di balik apa yang anda lihat bukan hanya dengan bola matamu tetapi juga dengan hati dan seluruh dirimu, jangan hanya lihat sambil lalu atau lihat asal-asalan. Mengapa mesti demikian? Begitu sering banyak soal muncul dan tidak sedikit masalah yang sulit diselesaikan karena kita hanya lihat sambil lalu atau tidak mampu melihat apa yang tidak di-perlihatkan di balik hal-hal yang kita lihat; ‘anjing yang kurus’ bisa saja karena sakit, kurang makan atau kurang diperhatikan tuannya. Tidak jarang apa yang kita usahakan tidak kita dapatkan karena kita tidak melihat dan memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Kita baru menyesal saat kita menemui kegagalan. ‘Lihatlah’, kalimat ini merupakan ajakan bagi kita untuk memusatkan seluruh perhatian kita pada apa yang sadang kita hadapi, seluruh diri kita dicurahkan kepadanya. Hal ini membantu untuk mencermati situasi dan obyek yang sedang kita hadapi dan membantu kita mengurangi soal-soal yang ada karena kita melihat akar masalahnya.

Tahun baru perlahan-lahan menjadi lampau. Tahun yang baru mesti membawa sesuatu yang baru dalam hidup kita; cara kita melihat, menilai dan memaknai segala sesuatu yang ditangkap bola mata kita. Kalau televisi membawa peristiwa-peristiwa dunia ke ruang tamu kita, mata kita mesti membawa dunia masuk ke dalam hati dan mempengaruhi hidup kita. Yohanes berkisah satu hari entah kapan, ketika melihat Yesus datang kita padanya, kepada murid-muridnya Yoha-nes Pembaptis mengatakan ‘lihatlah Anak Domba Allah’. Kisah singkat ini penuh makna dan darinya kita bisa belajar bagaimana menjadi sungguh-sungguh kristen. Pertama, pernyataan Yohanes Pembaptis,‘lihatlah Anak Domba Allah’, kata-kata ini mengingatkan kita akan tugas setiap orang Kristen, apa yang mesti kita lakukan dalam kehidupan bersama. Di sini kita diingatkan bahwa baptisan yang kita terima bukan saja menjadikan kita anggota gereja tetapi juga memberi kita satu tugas, kita berkewajiban memperlihatkan atau mengundang orang untuk mengarahkan pandangannya kepada Yesus, bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan seluruh hidup dan karya kita karena orang-orang Kristen adalah orang-orang Kristus, orang-orang yang sedang menjadikan hidup dan misi Yesus, hidup dan misinya. Kedua, pernyataan ‘lihatlah Anak Domba Allah’. Untuk menjalankan tugas yang pertama tadi, hal ini hanya mungkin kalau kita berusaha belajar dari Yesus; melibatkan seluruh diri kita, datang, tinggal, melihat, mengalami, merasakan dan belajar dari Yesus bagaimana menghadirkan diri dalam hidup bersama. Dengan cara ini di mana kita hadir di sana lewat kehadiran kita orang bisa merasakan kehadiran Yesus; bukan lagi kita yang hidup melainkan Kristuslah yang hidup dalam diri kita, mukjizat-mukjizat yang disaksikan oleh orang-orang Yahudi 2000 tahun silam, bisa disaksikan lagi di jaman kita, di lingkungan kita, di hidup kita, dalam diri kita. Sampai di sini kita disadarkan bahwa kegagalan, soal dan masalah yang ada dalam hidup ini terjadi karena kita belum menggunakan mata kita atau hanya menggunakan mata kita tetapi belum melibatkan seluruh diri kita. Kalau kita melihat seluruh perjalanan dan pengalaman hidup kita dengan mata seorang Yohanes. Ceritera hidup ini pasti lain.

Tahun baru, pengamatan dan cara kita melihat kenyataan hidup inipun mesti diperbaharui. Kita sudah melihat banyak hal dan kita juga sudah memperlihatkan banyak hal kepada mereka yang kita jumpai dalam hidup hanya mungkin kita belum mampu melihat dan memperlihatkan tanda-tanda kehadiran Kristus dalam diri kita. Sebagai orang-orang yang mengimani Allah yang adalah sumber kebenaran, kitalah yang mesti merasa terpanggil untuk mengumpulkan serpih-serpih kebenaran yang tercecer, membangkitkan semangat untuk melibatkan seluruh diri dan hati kita dalam mengamati segala yang terjadi dalam hidup kita. Merubah ceritera hidup ini, kita perlu menggunakan mata kita dengan baik dan berusaha untuk melihat apa yang tidak diperliihatkan di balik hal-hal yang kita lihat. Jangan lihat sambil lalu atau asal-asalan dalam melihat karena banyak soal sudah terjadi dan tidak sedikit masalah yang belum terselesaikan karena cara melihat seperti itu. Mata ada untuk melihat dan kita ada untuk memperlihatkan Yesus kepada mereka yang belum mengenal Dia.

“Kita bisa memperlihatkan Yesus kepada mereka yang belum mengenal Dia kalau kita juga sungguh mengenal Dia”.
[ back ]