Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 20-01-2011 | 23:21:16
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “ANDA PUNYA KERELAAN?”
Mrk 2:13-17,Sabtu, 15 Januari 2011

Kita punya banyak hal yang sangat kita sukai entah itu karena sesuai dengan selera kita atau karena hal-hal itu memang menarik perhatian kita. Lebih dari itu, kita juga punya hal-hal yang sangat kita sayangi; entah itu sesuatu atau seseorang. Tinggal di satu tempat dalam waktu yang lama menciptakan ikatan batin antara kita dengan tempat itu, bekerja pada tempat tertentu dengan suasana yang cocok dengan keinginan kita tentu saja membuat kita kerasan dan bergaul dengan orang-orang yang bisa merasakan apa yang kita rasakan, menciptakan rasa takut kehi-langan. Lalu pernahkah anda merasa gelisah saat hendak melepaskan sesuatu ataupun meninggalkan seseorang yang telah mencuri hati anda? Saya tidak tahu apa yang anda rasakan tetapi saya tahu hal ini tidak mudah. Lain hal bila kita memang tidak punya hati. Bagi mereka yang punya relasi yang baik, saat itu, seperti ada sesuatu yang hilang dari kehidupan anda, rongga dada anda sepertinya terdapat ruang kosong seperti jarak yang tercipta saat kapal meninggalkan dermaga. Saat itu, detik-detik perpisahan itu sepertinya begitu berarti dan mesti dinikmati sebisa mungkin; kita tidak ingin kehilangan momen karena bila dibiarkan berlalu begitu saja dia tak pernah akan kembali. Kenyataan ini melukiskan betapa sulitnya kita meninggalkan sesuatu yang telah kita kenal dan kita hidupi bukan hanya sehari dua tetapi selama bertahun-tahun. Di sini perjuangan dibutuhkan, pengorbanan adalah keharusan. Lalu sadarkah anda bahwa merubah jalan hidup berarti bersedia kehilangan yang lain? Sanggupkah anda menghadapinya?

Hidup ini meyimpan banyak cerita yang tampil dalam aneka wajah. Dan sudah tentu masing-masing kita punya cerita sendiri. Ada banyak orang yang datang dan pergi dari hidup kita. Pertemuan dengan mereka menciptakan aneka kesan dan beragam ceritera tentang mereka; ada yang begitu berkesan mungkin karena keramahannya, ada yang biasa-biasa saja dan ada lagi yang luar biasa; kehadirannya merubah seluruh irama hidup kita-seluruh hari kita sepertinya dipenuhi oleh kehadirannya. Kalau itu suasana pertemuan di antara kita, demikian pula pertemuan dengan Yesus. Dua ribu tahun silam, demikian kisah Markus, berjalan menyusuri pantai danau Galilea diiringi irama deburan ombak, memasuki daerah pemukiman, melewati rumah cukai, Yesus beradu pandang dengan Lewi.Ternyata tatapan Yesus bukan sebuah tatapan biasa, sebuah tatapan yang punya daya rubah. Sebagaimana setiap pertemuan menciptakan kisah tersendiri, pertemuan Yesus dengan Lewi, membuka kisah baru bagi kehidupan Lewi, dia dipanggil untuk mengikuti Yesus. Bertemu dengan Yesus selalu akan tercipta ceritera baru; orang mesti siap berubah haluan; karena pertemuan denganNya adalah kesempatan dan tuntutan untuk memutuskan; menekuni hidup lama atau meninggalkannya dan menjalani hidup baru, satu titik balik; penjala ikan jadi penjala manusia, si lumpuh jadi sembuh dan si kusta kembali ke dalam kebersamaan karena ditahirkan. Berhadapan denganNya dan menjadikan diriNya sebagai cermin, kesejatian kita dipertaruhkan, kekerasan hati kita ditantang. Ia selalu datang; bertemu dengan manusia dalam segala situasi hidupnya. Ia datang dengan tawaran untuk berbalik, ambil bagian dalam karya keselamatan di mana manusia bebas memilih. Seperti seorang pemukat, undanganNya selalu ditujukan kepada siapa saja, jawaban manusia pun beragam bergantung apakah ia siap menerima tawaran itu atau tidak. Seperti biasa sikap manusia selalu diwakili oleh dua ekstrim; sikap seorang Lewi yang siap mening-galkan segalanya dan mengikuti Dia tanpa banyak pertanyaan dan sikap kaum Farisi yang merasa diri jauh lebih baik dari para pendosa. Ingat pada saat kita menganggap diri jauh lebih baik dari orang lain, di saat itu kekurangan kita mulai nampak. Siapakah kita dia hadapan Yesus dan sesama? Dewasa ini sulit ditemukan orang-orang yang punya kesediaan seperti Lewi karena banyak orang mau mengikuti dengan aneka syarat dan beragam motivasi, yang disadari ataupun tidak mempengaruhi kualitas kerja dan pelayanan mereka. Mereka akan siap melayani bila motivasinya terjawab dan syaratnya dipenuhi, bila tidak seribu satu alasan akan jadi perisai penolakan. Di era teknologi ini, begitu banyak orang berlagak seperti kaum farisi; mereka telah kehilangan/ketiadaan rasa malu; menganggap mereka jauh lebih baik dari orang lain sehingga mereka coba mengangkat kepada hendak melebihi puncak gunung dan berteriak hendak melebihi deru ombak samudera padahal jiwanya masih terpenjara dalam gua yang paling gelap. Sikap Yesus jelas; tawaran diberikan kepada semua orang. “Ikut Aku” menngandung seribu satu makna; jadi anggota saya, tinggalkan pekerjaanmu, jadikan hidup saya hidupmu, lakukan apa yang saya lakukan, ambil bagian dalam kerja saya. Siapkah kita menerimanya? Kalau orang-orang yang bertemu dengan saya berubah haluan hidupnya, kamupun mesti demikian. Lalu adakah sesama berubah jauh lebih baik saat bertemu dengan kita?

Yesus selalu hadir dalam keseharian kita; apakah kita menyadarinya atau tidak. Bertemu denganNya berarti siap berubah haluan/jalan hidup; menjadikan hidup dan misiNya hidup dan misi kita. Siapakah kita dalam kehidupan bersama; Lewi yang siap beralih status ataukah orang Farisi yang suka mengeritik tanpa usaha untuk memperbaiki. Dunia kita dewasa ini telah mengalami kelangkaan orang-orang seperti Lewi karena tempat mereka telah diambil alih oleh kaum Farisi modern atau orang-orang yang bermental Farisi; kitalah yang mesti merasa terpanggil untuk merubah garis hidup mereka. Apakah seperti Yesus, kehadiran kita selalu membawa sesama berubah ke arah yang jauh lebih baik atau jauh lebih buruk dari kaum Farisi di jaman Yesus? Siapapun anda dan apapun yang sedang anda lakukan; anda dan saya sedang diundang untuk mengikuti Dia; menjadikan hidup dan misiNya hidup dan misi kita. Bersediakah kita untuk melakukan hal yang sama?

“Apakah seperti Yesus, pertemuan dan kehadiran kita dalam kebersamaan mampu mengubah jalan ceritera mereka?”.
[ back ]