Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 20-01-2011 | 23:18:16
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘TIDAK CUKUP’
Mrk 2:1-12, Jumat, 14 Januari 2011

Kita punya hati dan kita selalu menggunakan hati kita untuk merasakan apa yang dirasakan sesama. Kita sering mudah tergugah, prihatin tetapi tidak jarang kita keras hati. Berhubungan dengan adanya banyak soal dalam hidup kita, soal tidak akan selesai bila kita hanya berhenti pada rasa prihatin atau hanya bisa merasakan apa yang dirasakan sesame. Tidak cukup. Rasa tergugah dan keprihatinan kita mesti mendorong kita untuk berbuat sesuatu. Tetapi bisa saja semuanya ini ada alasannya; entah itu karena dilarang ataupun karena kita punya alasan sendiri untuk tidak melakukan hal-hal yang bernilai positif atau mungkin karena diri kita sendiri perlu ditolong atau karena relasi kita yang kurang bagus dengan orang yang membutuhkan kebaikan kita. Pernyataan ini, di satu sisi mengungkap dan mengangkat kelemahan kita, di sisi lain mendorong kita untuk tidak segan-segan melakukan apa yang mesti kita lakukan demi kebaikan diri dan kebersamaan. Dalam hubungan dengan kebaikan dan perbuatan baik, di keseharian kita; kita bertemu dengan paling kurang tiga tokoh yang mewakili tiga kelompok manusia dengan perannya masing-masing; pertama, orang “lumpuh”, orang-orang yang tidak dapat berubat apa-apa, manusia yang menggantungkan hidupnya pada kebaikan orang lain dan punya keinginan untuk ditahirkan atau orang yang punya rasa prihatin terhadap situasi sekitarnya tetapi tidak dapat berbuat apa-apa karena berbagai alasan dan perhitungan. Kedua, orang-orang seperti Yesus yang punya mata yang awas, yang dapat membaca kerinduan manusia dan siap menjawabnya; pribadi-pribadi yang selalu merasa terpanggil untuk memulihkan situasi; tidak hanya berhenti pada rasa prihatin semata. Dan yang ketiga, orang-orang seperti para ahli Taurat yang lebih banyak memperhatikan hukum tetapi lupa akan nilai kemanusiaan; suka mengeritik tetapi tidak sanggup memulihkan situasi dan memberi jalan keluar. Siapakah kita dalam keseharian kita?

Kita selalu hidup bersama. Dan ada banyak hal dalam kehidupan bersama yang mestinya menggugah hati kita dan menggerakkan kita bukan hanya untuk merasakan apa yang sedang dialami sesama tetapi juga untuk melalukan sesuatu demi membawa mereka keluar dari keru-mitan hidupnya ataupun mengurangi beban hidup mereka. Karena kita ada dan diutus ke dalam kebersamaan untuk melestarikan hidup ini sekaligus memberi arti bagi kehadiran kita di antara yang lain. Untuk itu kita diingatkan agar tidak berhenti pada rasa prihatin, karena keprihatinan tidak cukup untuk menyelesaikan soal. Markus menggambarkan bahwa pertama, kita tidak akan berhenti pada rasa prihatin bila kita bersedia menyebrang; keluar dari diri kita sendiri. Hanya dengan keluar dari diri sendiri, meninggalkan kemapanan diri dan menempatkan diri pada posisi sesama, kita dapat merasakan apa yang sungguh sedang dirasakan oleh mereka. Kalau mereka tidak dapat menolong dirinya sendiri, kitalah orang-orang yang mesti merasa terpanggil untuk menolong mereka ataupun membawa mereka ke hadapan Yesus. Boleh jadi kita punya rasa prihatin tetapi keprihatinan ini tidak diberi wujud karena kita masih menghitung untung rugi; kita mempersoalkan apa yang ada pada kita bukan mempermasalahkan kesediaan kita untuk mela-kukan sesuatu. Berhadapan dengan situasi sesama, kita justeru berpikir tentang diri sendiri. Pu-nya rasa prihatin tetapi tidak bersedia berbuat sesuatu, membuat situasi kita sejajar dengan si lumpuh; merasakan apa yang dirasakan orang lain tetapi tidak sanggup berbuat banyak. Kedua, kita tidak akan berhenti pada rasa prihatin bila sesama menyadari situasi dirinya dan bersedia untuk ditolong. Si lumpuh disembuhkan karena ia menyadari dirinya dan membuka diri terhadap ulurun tangan orang lain. Demi kesembuhannya ia tidak takut mempercayai sesamanya; mereka dapat menolong mengurangi penderitaannya. Kita sulit ditolong karena kita tidak mau menyadari situasi diri kita dan kita tidak bersedia untuk ditolong. Harga diri kita begitu tinggi. Kita tidak mau berhutang budi, gengsi-gengsian. Ketiga, kita tidak akan berhenti pada rasa prihatin bila bila kita menjauhi sikap para ahli Taurat; lebih mementingkan hukum dari pada nilai kema-nusiaan, lebih suka mengeritik tanpa memberi jalan keluar. Banyak soal dalam hidup tidak dapat diselesaikan karena kita masih memiliki mental para ahli Taurat; tidak suka berbuat baik dan merasa terganggu bila ada yang berbuat baik.

Boleh jadi secara fisik kita bukan orang lumpuh tetapi secara psikis situasi hidup kita tidak jauh berbeda dengan situasi si lumpuh yang perlu ditolong. Situasi seperti ini bisa dipulihkan pertama, bila kita menyadari situasi diri kita dan membuka diri untuk menerima pertolongan yang diberikan sesama. Kedua, bila kita mempunyai mata dan hati seorang Yesus; siap menye-brang untuk bisa mengetahui situasi hidup sesama dan siap menolong sebisa kita. Ketiga, bila kita menjauhi sikap para ahli Taurat yang hanya mau mengeritik dan mempersalahkan tanpa ada usaha untuk memperbaiki. Lalu siapakah kita dalam dunia semacam ini? Seorang Yesus yang siap keluar dari dunia diri sendiri untuk merasakan apa yang sedang dirasakan oleh sesama dan berusaha melakukan sesuatu untuk mengurangi beban sesama, ataukah kita adalah kelompok ahli Taurat yang hanya mau menafsirkan hukum tanpa mau menghidupinya? Ataukah kita adalah orang-orang lumpuh yang tahu diri, punya keinginan untuk sembuh dan rela disembuhkan atau-kah kita adalah si lumpuh dalam tanda petik, punya rasa prihatin tetapi tidak dapat melakukan sesuatu? Kesembuhan hanya mungkin dan hidup normal dapat tercipta bila kita tahu situasi kita, punya keinginan untuk berubah dan punya kesediaan untuk berubah.

“Merasa prihatin terhadap situasi di sekitar kita tanpa melakuikan sesuatu, nasib kita tidak jauh berbeda dari si lumpuh. Kita perlu ditolong.”
[ back ]