Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 20-01-2011 | 23:13:57
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “JANGAN ABAIKAN CARA”
Mrk 1:40-45,Kamis, 13 Januari 2011

Teman saya punya kamera digital yang bagus, hanya saja foto-foto yang dihasilkannya tidak selalu memuaskan bahkan ada yang berkomentar cara dia mengambil gambar sangat payah dan asal jadi. Melihat kenyataan dan mendengar komentar-komentar ini, saya teringat akan apa yang dikatakan tutor saya ketika mengikuti kursus fotografi; peralatan yang baik dan modern bukan jaminan untuk mendapat hasil yang dengan sendirinya memuaskan. Ada banyak factor yang menentukan bagus, memuaskan tidaknya gambar yang kita hasilkan. Selain cara dan situasi saat gambar diambil, hasil yang baik bergantung juga dari siapa yang berada di belakang alat itu, siapa ‘man behind the gun’nya. Cara mengambil gambar yang asal-asalan hasilnyapun akan asal-asalan tetapi bila gambar itu diambil dengan cara yang profesional oleh orang yang sungguh melibatkan seluruh dirinya, hasilnyapun akan sangat profesional. “Kalau orang mengatakan, ‘jangan abaikan cara’, mestinya kata-kata ini membawa kita untuk berdiam sejenak melihat mengapa kita gagal dalam melakukan sesuatu atau dalam mendekati seseorang. Banyak kali kita gagal bukan karena kita tidak punya kesempatan yang cukup atau bukan karena kita tidak punya kemampuan dan ketrampilan untuk melakukan hal itu tetapi karena kita tidak tahu cara bagaimana melakukan apa yang mesti kita lakukan berhadapan dengan orang atau apa yang menjadi tugas kita. Maksud yang baik disampaikan dengan cara yang salah dan pada waktu yang tidak tepat akan menimbulkan soal, lalu kita tidak akan mendapatkan apa yang kita inginkan, hasilnya kita tidak berhasil. Di sini cara kita menentukan segalanya. Kita bukan saja mesti belajar untuk memanfaatkan peluang yang ada tetapi juga bagaimana memanfaatkan peluang yang ada; bukan saja soal apa tetapi juga masalah bagaimana.

Bila kita jeli mengamati, kita dapat melihat bahwa seluruh hidup Yesus dan apa yang Dia lakukan berisi seribu satu ajaran tentang hidup dan bagaimana menyiasati hidup ini. Satu saat entah kapan, dua ribu tahun silam dalam perjalanan mengunjungi kota dan desa, Yesus didatangi seorang kusta. Dari jauh orang itu meminta Yesus agar dia disembuhkan, ‘kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku’. Lihat kerinduiannya dan cara dia meminta, Yesus dengan se-gara mengabulkan permintaannya; dia disembuhkan. Kisah ini menarik dan ada beberapa hal yang dapat kita simak. Pertama, di tengah perjalanan, hal ini melukiskan bahwa hidup ini tidak berjalan mulus, ada saat di mana kita mengalami, menyaksikan surutnya kehidupan; sakit, derita dan kemalangan dan biasanya hal ini terjadi di luar rencana kita. Kita tidak akan kecewa dan frustrasi bila segala kemungkinan sudah kita perhitungkan, bila kita sudah siap. Saat itu, kita bu-tuh orang lain untuk mengurangi rasa sakit, meringankan beban yang sedang kita tanggung. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kadang kita butuh pertolongan sesama karena ada hal-hal yang tidak dapat kita lakukan sendiri. Karena itu relasi yang baik dengan sesama perlu kita bangun. Di sini, kesadaran akan situasi diri sangat perlu, kesediaan untuk ditolong adalah keha-rusan, gengsi-gengsian mesti ditingalkan dan kerendahan hati harus menjadi sikap dasar. Lebih dari itu, kusta adalah satu persoalan. Penyakit ini membuat orang dikucilkan dari kebersamaan. Ia membuat si penderita mengalami penderitaan ganda; karena penyakit itu sendiri dan karena harus diisolasi dari kebersamaan. Mungkin saja, kita bukan si kusta, tetapi penderitan yang sama kita alami karena ulah kita; kita dikucilkan dari kebersamaan karena kita tidak mau tahu bagaimana seharusnya hidup dalam kebersamaan. Dan banyak orang yang tidak dapat ditolong karena tidak mau dikatakan sakit, tidak sedikit orang yang sulit disembuhkan karena malu atau merasa gengsinya turun bila menerima pertolongan dari yang lain, mereka kurang rendah hati. Kedua, kita hanya mungkin mengenal, mengetahui situasi sesama dan dapat memberi perto-longan yang dibutuhkan bila kita bersedia meninggalkan diri kita sendiri, ‘membuat perjalanan’, memasuki dunia hidup sesama untuk bisa melihat kenyataan hidup mereka yang sesungguhnya, menempatkan diri pada posisi mereka. Kita sulit mengetahui situasi sesama, merasakan pahitnya hidup mereka karena kita hanya berputar pada dunia diri kita yang sempit dan penuh kalkulasi. Ketiga, ‘kalau Engkau mau’, soal cara. Si kusta rindu disembuhkan tetapi dia tahu semua ini ber-gantung kemurahan hati Yesus. Dia membutuhkan pertolongan tetapi dia tahu orang yang diminta punya putusan sendiri, dia memberikan kebebasan kepada Yesus untuk menentukan sikap. Tidak ada paksaan. Banyak kali apa yang kita harapkan tidak kita dapatkan karena kita bukannya meminta tetapi memaksa, permintaan kita mengurung kebebasan orang untuk bertindak sesuatu dorongan jiwanya. Lalu kebencian akan muncul saat kita tidak dapatkan apa yang kita mau padahal itu karena kesalahn kita sendiri. Keempat, meskipun dilarang, orang itu tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya, dia mewartakan apa yang dibnuat Yesus kepadanya. Dengan ini dia hanya mau menyatakan bahwa apapun yang kita alami, peran sesama tidak boleh kita lu-pakan. Banyak kali, kita lupa akan sesama sesudah kita mendapatkan apa yang kita inginkan.

Kita bukan orang kusta tetapi boleh jadi nasib kita tidak jauh berbeda dari si kusta sehingga kita perlu ditolong. Banyak dari kita yang dikucilkan dari kebersamaan karena ulah mereka yang tidak mau peduli bagaimana seharusnya hidup dalam kebersamaan. Hati kita telah menjadi lahan subur tumbuhnya penyakit kusta dalam aneka wajah; kebencian, iri hati, dendam, tidak suka mengalah, kerakusan, keangkuhan dan aneka penyakit sosial lainnya. Lalu siapakah kita dalam dunia semacam ini? Seorang Yesus yang siap keluar dari dunia diri sendiri untuk merasakan apa yang sedang dialami sesama, ataukah kita adalah orang-orang kusta yang tahu diri dan butuh pertolongan? Situasi normal akan tercipta bila kita tahu situasi kita, mau menolong ataupun punya kesediaan untuk ditolong dan kita tahu bagaimana caranya mendapatkan pertolongan.

“Cara kita menentukan didapat tidaknya apa yang kita harapkan”
[ back ]