Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 20-01-2011 | 23:10:31
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “KE TEMPAT LAIN”
Mrk 1:29-39, Rabu, 12 Januari 2011

Lampu jalanan itu sudah lama tidak berfungsi, lorong sepanjang jalan itu gelap di waktu malam. Suasana sepi dan gelap gulita memperbesar rasa takut ataupun membangkitkan sara takut bagi mereka yang hendak melewati jalan itu. Anehnya walaupun takut dan tahu apa yang mesti mereka perbuat, tidak seorangpun yang mau berkorban mengganti bola lampu yang sudah lama tidak berfungsi. Kenyataan ini sebenarnya hendak mengungkapkan beberapa sisi kehidupan kita; pertama, segala sesuatu yang ada dalam kehidupan kita, masing-masing punya peran dan kehadirannya memberi warna yang khas bagi kehidupan kita, berarti tidaknya kita dalam kebersamaan ditentukan, bergantung dari berfungsi tidaknya peran kita di sana. Kedua, bila salah satu dari semuanya itu tidak dapat menjalankan perannya sebagaimana mestinya, sudah pasti akan menimbulkan soal. Besar kecilnya soal bergantung dari vital tidaknya peran hal itu bagi kehidupan ini. Ketiga, karena masing-masing punya peran maka sudah jelas langsung maupun tidak selalu ada saling pengaruh; berperan tidaknya sesuatu mempengaruhi yang lain disadari, diakui ataupun tidak. Keempat, karena saling mempengaruhi, tidak berfungsinya satu hal dalam kehi-dupan ini tidak boleh membuat kita berhenti hanya pada rasa prihatin. Keprihatinan kita mesti diwujudkan dalam tindakannya bila kita menghendaki semuanya berperan sebagaimana mestinya. Kemacetan, tidak berfungsinya satu peran mestinya membuat kita bersikap tanggap, ada kesediaan untuk berbuat sesuatu. Tinggal diam atau cuma prihatin berarti dengan tahu dan mau kita membiarkan suasana itu tetap berlangsung. Sebagaimana indahnya sebuah lukisan karena adanya paduan aneka warna, demikian juga harmonis, lestari tidaknya kehidupan ini bergantung dari peran kita masing masing dalam kebersamaan.

Bila dalam perikop terdahulu kita berbicara tentang pentingnya menampilkan kekhasan diri kita dalam memberi warna khas bagi kebersamaan, pada perikop ini, kita akan bicara tentang hal yang sama dalam nuansa dan penekanan yang berbeda. Tidak dapat kita sangkal bahwa dalam kebersamaan karena pengaruh dan khasnya peran kita; ada orang-orang yang sangat di-nantikan kehadirannya dan ada juga yang sama sekali tidak diharapkan penampakan batang hidungnya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa disadari ataupun tidak kehadiran kita sebenarnya berefek ganda; bisa berpengaruh positif-diterima, bisa juga negatif/ditolak; hal ini bergantung dari bagaimana kita membawa diri dan memberi arti bagi kehadiran kita. Perikop injil hari ini berkisah tentang bagaimana pengaruh kehadiran Yesus di tengah mereka yang Dia datangi. Dalam perikop ini kita dapat melihat alasan mengapa kehadiran Yesus selalu dinanti dan kita juga dapat belajar bagaimana membuat kehadiran kita sendiri didambakan. Kita lihat di mana Yesus hadir di sana orang merasakan kebaikan, menjadi baik atau jauh lebih baik, menemukan kembali jati dirinya saat di mana api kepercayaan diri mereka kembali bernyala dan cinta mereka yang tengah mengalami musim gugur kembali memasuki arena musim semi. KehadiranNya membuka isolasi, menjembatani mereka yang terbuang untuk kembali mengambil bagian dalam irama kehidupan bersama. KehadiranNya selalu membawa perubahan dalam hidup entah karena orang disadarkan ataupun mereka sendiri menyadari betapa pentingnya sebuah perubahan. Yesus selalu bersikap tanggap, melihat kebutuhan situasi dan berbuat sesuatu; menyembuhkan mereka yang sakit, menyadarkan orang untuk mengenal siapa dirinya dan dalam situasi mana mereka berada. Dia siap menolong mereka yang sangat membutuhkan uluran tanganNya tanpa memper-hitungkan untung rugi, tanpa harus menggelisahkan orang yang mau ditolong, ‘mertua Petrus lenyap demannya dan bangun untuk melayani mereka’. Selain itu, dalam perikop inipun kita diingatkan untuk tidak terikat dengan tempat atau orang-orang di mana kita sungguh diterima; merasa sangat dibutuhkan. Kebaikan kita harus mendorong mereka yang menerimanya untuk bisa berbuat hal yang sama, mendewasakan mereka dan mengikis rasa kebergantungan. Bagai-mana dengan kehadiran kita dalam kebersamaan? Kalau kita jujur kita mesti mengakui bahwa ternyata kehadiran kita dalam kebersamaan masih perlu dievaluasi dan ditata ulang. Kehadiran kita belum mampu memberi nilai tambah bagi kehidupan sesama. Di mana kita hadir di sana banyak soal muncul; sesama kehilangan kepercayaan diri, bingung dengan jati dirinya karena ke-baikan kita tidak mendewasakan dan begitu sering membuat orang merasa bergantung. Kita sendiri bangga kalau orang menggantungkan hidupnya pada kita. Di sini kita mesti hati-hati karena kita bisa terjebak untuk memanipulasi rasa bergantung ini demi keuntungan diri.

“Ke tempat lain”, pernyataan ini merupakan peringatan sekaligus himbauan karena ada kekurangan yang mesti kita benahi dan ada peluang bagi kita untuk memberi nilai tambah bagi kehadiran kita di antara yang lain. Yang terpenting buat kita adalah pertama, menyadari bahwa di mana saja kita berada di sana kita mesti terdorong untuk melakukan kebaikan sesuai dengan kebutuhan situasi dan mereka yang kita datangi. Di sini sikap tinggal diam atau prihatin saja tidak menyelesaikan soal. Dari Yesus kita bisa belajar bagaimana mengartikan kehadiran kita. Kedua, kita hanya bisa menerima kebaikan orang kalau kita terbuka terhadap kehadiran mereka dan menyadari keadaaan diri kita seperti apa yang dilakukan oleh mertua Petrus. Ketiga, kebaikan kita mesti mendewasakan mereka yang menerimanya, tidak boleh membuat mereka merasa bergantung, mereka harus dimampukan untuk melakukan hal yang sama. Kebaikan kita mesti tampil dalam bentuk pancing bukan ikan. Kehadiran dan apa yang kita lakukan mesti membangun sikap tanggap dalam diri mereka yang kita jumpai. Inilah kehadiran yang punya daya rubah, kehadiran yang selalu menghadirkan kebaikan dalam segala wajahnya.

“Sebuah pelita berarti karena cahayanya mampu mengusir kegelapan, anda bisa banyak berarti karena kehadiran anda mengartikan kehidupan sesama”.
[ back ]