Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 20-01-2011 | 22:58:50
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “RUBAH HIDUP MEREKA”
Mrk 1:14-20, Senin, 10 Januari 2011

Disadari ataupun tidak perubahan musim membawa banyak perubahan dalam hidup kita. Hujan yang terus mengguyur bumi membuat dunia sekeliling kita berubah hijau, bumi yang kering kembali kelimpahan air dan terciptanya tidak sedikit genangan air membuat kita tidak jauh berbeda dengan ikan di laut karena ke sana ke mari kita harus berenang. Perubahan musim ini tidak saja berdampak positif tetapi juga punya pengaruh negatif bagi hidup kita. Mereka yang sensitif dengan perubahan cuaca gampang terkena aneka penyakit dan sampah-sampah yang ditempatkan tidak pada tempatnyapun membawa dampak yang tidak sedikit bagi hidup dan lingkungan kita. Dari kenyataan di luar diri kita, kita coba menelaah, melihat ke dalam diri kita. Karena selalu ada dalam kebersamaan, kita tidak pernah atau lupa memikirkan bahwa tanpa kita sadari kehadiran kita punya pengaruh tersendiri dalam hidup sesama, memberi warna yang khas bagi satu kebersamaan seperti kehadiran garis dan warna pada satu guratan pelangi ataupun coretan warna-warni pada kanvas sebuah lukisan dinding. Atau mungkin saja hal ini kita sadari tetapi kita enggan melakukannya karena kita punya alasan sendiri ada dalam satu kebersamaan. Berkaitan dengan lukisan, mungkin kita bukan pelukis tetapi itu tidak berarti kita tidak punya kemampuan untuk menilai indahnya sebuah lukisan. Pernahkah kita meluangkan waktu untuk mengamati dan menikmati indahnya gambar-gambar yang kita pajangkan di dinding rumah kita? Bila di sana setiap garis punya nilai dan masing-masing warna memiliki arti, kehadiran kita dalam kebersamaan pun mestinya demikian; tiap orang punya arti dan masing-masing pribadi memiliki pengaruh yang khas. Dan perlu kita catat, indah tidaknya lukisan kebersamaan itu bergantung dari bagaimana kita memadukan kekhasan garis dan warna yang kita miliki; hidup dan peran kita dalam kebersamaan itu. Kalau kehadiran lukisan itu memberi suasana lain pada sebuah ruangan, demikian juga dengan kehdiran kita.

Dikisahkan bahwa setelah menjalani semua proses yang dituntut untuk masuk dalam sebuah peradaban hidup bersama; Yesus mulai tampil di hadapan publik. Yang pertama Ia lakukan adalah memaklumkan misi yang dibawaNya; waktunya telah genap, bertobatlah, kerajaan Allah sudah dekat. Dan yang kedua, memilih orang-orang yang dapat dipercaya untuk membantu Dia menuntaskan misi yang diem-banNya. Yang pertama, waktunya telah genap, bertobatlah kerajaan Allah sudah dekat. Di sini Yesus hendak menandaskan bahwa sekarang dan di sini saatnya untuk berubah, jangan tunda-tunda karena antara hari ini dan hari esok ada seribu satu kemungkinan yang bisa terjadi dan kadang yang terjadi itu justeru di luar keinginan kita. Kita diingatkan bahwa kita tidak akan menjejakkan kaki kita dua kali pada air yang sama, karena kesempatan akan berlalu dan air akan terus mengalir. Selain itu, di sisi hendak ditegaskan bahwa suasana kerajaan Allah dapat kita rasakan tiap hari, bila kita berprinsip waktunya telah genap, sekarang saatnya. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa suasana kerajaan Allah belum kita rasakan karena kita berpikir bahwa kerajaan Allah adalah satu anugerah masa datang yang masih harus dinanti. Padahal suasana kerajaan Allah dapat kita rasakan setiap saat, sekarang dan di sini, kapan dan di mana saja kita berada. Yang kedua, Yesus memanggil para murid pertama, mengubah jalan hidup mereka dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Bertemu dengan Yesus, kita mesti siap berubah haluan bila kita menghendaki ceritera hidup kita berubah. Perubahan hanya mungkin bila kita mau meninggalkan pantai dan jarring masa lalu kita menuju satu pantai hidup baru dengan coba merajut jala-jala baru dari senar cinta yang mengabdi dan kebaikan tanpa pengkotakan. Di sini kita diingatkan bahwa sebagai orang-orang beriman, kehadiran kita mesti berdampak positif, mampu menjaring sesama dengan jala kebaikan, karena kitalah penjala-penjala manusia abad ini. Di mana kita hadir, di sana sesama bukan saja melihat bahwa kita berarti bagi mereka tetapi juga menyadari ataupun disadarkan bahwa mereka punya nilai po-sitif bagi orang lain, bagi kita. Di sana ada kesalingan untuk memberi dan menerima, melengkapi dan dilengkapi; mengartikan dan diartikan, memperkaya dan diperkaya sehingga yang memiliki banyak tidak berkelimpahan dan yang mengumpulkan sedikit tidak berkekurangan. Kita dapat menjadi penjala manusia, membuat kehadiran kita punya daya rubah bila kehadiran kita selalu merupakan undangan untuk berubah haluan. Kita dapat menjadi penjala manusia, membuat kehadiran kita punya daya rubah bila di mana kita hadir, di sana iman sesama diteguhkan, harapan mereka dibangkitkan dan kasih karunia Allah yang menyelamatkan dapat dirasakan. Hidup kita sendiri mesti merupakan satu bentuk pewartakan yang hidup. Untuk itu seperti para rasul kita mesti bersedia meninggalkan pantai dan jaring-jaring masa lalu kita; keinginan untuk menang sendiri, mengabaikan kehadiran sesama, ketiadaan kerendahan hati. Bila semuanya ini terjadi dalam kebersamaan kita, mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus, dapat kita sak-sikan dalam keseharian kita karena kehadiran kita merubah kisah hidup ini menjadi jauh lebih baik karena kitalah penjala-penjala manusia jaman ini.

‘Mengapa ceritera hidup kita belum juga berubah? Karena kita belum menyadari bahwa masing-masing kita punya nilai dan kehadiran kita dapat memberi warna yang khas bagi kebersamaan. Perubahan musim mempengaruhi kita tetapi kita sendiri tidak menyadari bahwa kehadiran kita sendiri punya penga-ruh bagi hidup sesama. Kita semua menghendaki hidup bahagia tetapi kehadiran kita justeru membawa pengaruh yang sebaliknya. Seperti Yesaya dan rasul Paulus, kita adalah utusan-utusan Kristus jaman ini untuk mengubah ceritera hidup ini menjadi jauh lebih baik; hidup dan kehadiran kita mesti bernilai injili, berpesan. Kitalah nelayan-nelayan penjala manusia abad. Tetapi untuk itu, kita mesti berperang dengan diri kita sendiri, keluar dari diri sendiri, meninggalkan perahu dan jaring masa lalu kita, untuk bisa mengetahui dan merasakan dunia sesama. Hidup baru hanya mungkin kalau kita bersedia meninggalkan pola hidup kita yang lama tetapi ini hanya mungkin kalau kita mau berkorban.

“Kita bukan nelayan atau pelaut tetapi hidup dan laku kita yang baik dapat menjaring sesama dan membawa mereka ke pantai kebaikan”.
[ back ]