Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 20-01-2011 | 22:54:33
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “MAU DISUKAI ORANG?”
Mateus 3:13-17, Minggu, 9 Januari 2011

Menjadi orang yang punya tempat di hati sesama gampang-gampang susah. Ada dalam kebersamaan tidak berarti secara otomatis kita dengan mudah mendapat tempat di hati sesama. Hidup dan apa yang kita lakukanlah yang menentukan diterima tidaknya kita. Banyak orang yang ingin hidup bersama tetapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya hidup bersama. Mungkin juga kita tahu bagaimana seharusnya hidup bersama tetapi hal ini bukan jaminan karena orang-orang yang kita hadapi dalam kebersamaan itu punya kriteria sendiri tentang berarti tidaknya kehadiran kita. Di sini kita, kita berhadapan empat tipe manusia; pertama, orang yang sekali bertemu langsung membuka diri terhadap kehadiran kita. Kedua, mulanya kehadiran kita tidak diterima tetapi sesudah melihat pengaruh kehadiran kita dalam kebersamaan itu, kita kemudian mendapatkan tempat di sana. Ketiga, orang yang awalnya menerima kehadiran kita tetapi setelah mengenal siapa kita, kita justeru ditolak. Keempat, orang yang tidak sedikitpun terpengaruh dengan apa yang kita buat, mereka sama sekali menutup pintu hatinya terhadap kehadiran kita. Di sini hendak ditandaskan bahwa menjadi ataupun menjaga agar kita berkenan di hati sesama bukanlah satu pekerjaan yang mudah. Kita mesti berjuang mengalahkan diri dan berusaha memenuhi apa yang dituntut oleh kebersamaan itu. Masing-masing kita harus mengartikan kehadiran kita. Bila ini terjadi bukan tidak mungkin hidup kita berkenan di hati sesama.

Hidup ini ternyata dipenuhi dengan aneka syarat yang tampil dalam beragam wajah. Mem-buat kehadiran kita berarti dalam kebersamaan tidaklah semudah membalik telapak tangan. Tetapi ini bukan berarti kita sama sekali tidak dapat menggapainya. Kita punya kemampuan untuk itu, kita punya jalan untuk dapat menikmati suasana ini. Yang menjadi soal adalah apakah kita memahami tuntutan kebersamaan dan tahu bagaimana mengaktualisir potensi yang ada pada diri kita atau tidak. Banyak kali kita kecewa karena ditolak bukan karena kita tidak diberi peluang tetapi karena kita tidak tahu bagaimana mengubah potensi yang kita miliki menjadi satu keku-atan yang punya daya rubah. Bila kita hidup sesuai dengan pembaptisan yang kita terima, hal ini mudah saja kita gapai. Kita dapat menjadi orang yang berkenan di hati Tuhan dan punya tempat di hati sesama bila kita siap melakukan apa yang dilakukan Yohanes; terbuka dan mau berterus terang, mengatakan apa adanya dan tidak mengada-ada. Ketika orang banyak bingung tentang siapa dirinya, Yohanes secara terus terang mengatakan bahwa Dia bukan mesias, dia hanyalah utusan yang mempersiapkan kedatangan mesias. Kita dapat menjadi orang yang mendapat di hati Tuhan dan sesama bila keraguan orang tidak menghentikan usaha baik kita. Di sini kita butuh kerendahan hati. Tetapi hal ini tidak mudah diraih karena kita sulit berterus terang, suka mengada-ada, gampang putus asa dan tidak tahan terhadap tantangan. Kita dapat menjadi orang yang berkenan kepada Allah dan punya tempat di hati sesama, bila kita memiliki kerendahan hati seorang Yesus. Meskipun Allah tetapi dengan menjadi manusia Ia mesti mentaati apa yang ber-laku dalam kebersamaan; menghormati apa yang dihormati dalam kebersamaan, berusaha membaur dalam kebersamaan. Memberikan diri untuk dibaptis oleh Yohanes adalah cermin bagi kita untuk menata hidup kita dalam kebersamaan. Kita sulit mendapat tempat di hati sesama karena kita tidak mau beradaptasi, mau diistimewakan dan diberi tempat khusus dalam kebersamaan. Posisi yang kita tempati membuat kita untuk selalu mengada-ada walaupun tidak ada apa-apa. Bila kita tidak punya hati untuk kebersamaan, kebersamaanpun tidak akan memberi hatinya kepada kita. Pembaptisan Yesus, sebenarnya mengingatkan kita akan baptisan dan tugas yagn telah kita terima saat kita dibaptis...menjadikan hidup Yesus sebagai hidup kita sendiri, misinya menjadi misi kita sendiri agar kita dapat berkenan kepada Allah dan punya sedikit tempat di hati sesama.

Kita selalu ada bersama orang lain dan kita tak akan pernah menghidari kehadiran orang lain. Kita membutuhkan orang lain dan kita sendiri harus memberi arti bagi kehadiran kita di tengah sesama. Kita akan punya tempat di hati sesama dan berkenan di hadapan Allah bila siap bercermin pada sikap Yohanes; bersikap terbuka, tidak berbelit-belit, apa adanya tanpa mengada-ada. Tantangan tidak boleh menyurutkan langkah kita. Untuk itu kita mesti memiliki sikap rendah hati, menghormati apa yang dihormati orang lain dan siap berbaur dalam kebersamaan tanpa berusaha menuntut keistimewaan. Di sisi lain kita mesti tahu bahwa ada dalam kebersamaan bukan jaminan untuk mendapat tempat di hadapan Allah dan sesama, apa yang kita lakukan dalam dan untuk kebersamaan yang menjadi penentu segala. Bila anda punya hati bagi sesama, merekapun akan memberi tempat khusus bagi anda di hatinya.

“Kita punya hati dan kita punya keinginan hati untuk mendapat tempat di hati sesame tetapi hal ini hanya mungkin menjadi kenyataan kalau kita sendiri member sedikit tempat dalam hati kita bagi sesama”.
[ back ]