Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 20-01-2011 | 22:46:00
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘JANGAN MALU MINTA’
Luk 5:12-16, Jumat, 7 Januari 2011

Cuaca yang kurang bersahabat membuat banyak orang jatuh sakit. Apakah anda pernah jatuh sakit atau mungkin sekarang anda sedang berbaring di tempat tidur karena sakit? Seperti yang anda ketahui, ada aneka penyakit yang diderita manusia baik fisik maupun psikis. Berha-dapan dengan sakit yang aneka ini, ada yang dapat kita tangani sendiri, ada yang perlu bantuan orang lain, ada lagi yang sulit disembuhkan. Selain itu ada juga ditemukan orang yang sakit-sakitan, sekedar untuk mendapat perhatian dari orang lain atau sebagai cara untuk menghindari sesuai. Kata orang, fisik yang tidak fit dapat mempengaruhi suasana batin dan sebaliknya batin yang kurang beres bisa mempengaruhi cuaca relasi kita dengan yang lain. Sakit berarti salah satu organ tubuh tidak dapat melakukan fungsinya sebagaimana mestinya. Saat itu kita tidak dapat tampil seperti kita biasanya. Sakit atau penyakit yang kita derita bisa membuat kita semakin mendapat perhatian bisa juga sebalik menyebabkan kita terisolasi, dan hal ini disadari ataupun tidak memperganda penderitaan si penderita. Kalau kita pernah sakit, kita tentu setuju bila dikatakan bahwa ada satu keinginan yang tidak bisa diingkari, setiap orang sakit selalu ingin disembuhkan. Ini satu keinginan yang sangat manusiawi karena sakit itu sendiri tidak pernah diinginkan oleh siapapun. Satu saat entah kapan, dua ribu tahun silam, ketika Yesus sedang mengajar demikian kata Markus dalam kisahnya, Yesus didatangi seorang kusta langsung berlutut dan meminta untuk disembuhkan,”kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”. Melihat penderitaan orang itu dan kerinduannya yang besar untuk disembuhkan, Yesus mengabulkan permintaannya, ia disembuhkan. Dari kisah ini ada beberapa hal yang dapat kita petik untuk memberi warna yang khas bagi kehadiran kita dalam kebersamaan. Pertama, “jangan malu minta’, si kusta maju dan memohon kesediaan Yesus untuk menyembuhkan dirinya-kalau Engkau mau”. Dari cara si kusta ini kita diingatkan bahwa bila kita membutuhkan bantuan orang lain kita perlu meminta, dengan cara yang menggugah hati orang yang diminta. Melihat betapa besar kerinduannya dan cara dia meminta, Yesus bersedia menyembuhkan dia. Satu koreksi buat kita yang sering gagal mendapat bantuan atau orang menolak membantu kita. Kita tidak tahu cara meminta, atau kita meminta tetapi tidak membuka diri- tidak berterus terang. Lebih dari itu kita bukannya meminta tetapi memaksa. Kedua, hal itu terjadi ketika Yesus berada di satu kota, sesudah Yesus mengubah jalan hidup para penjala ikan menjadi penjala manusia. “Suatu kota”. Di sini hendak ditegaskan bahwa tempta di mana saja kita berada mesti menjadi arena pembuktian diri bahwa kita sungguh orang-orang baik, kesempatan untuk mengekspresikan rasa sosial yang kita miliki di mana keprihatinan kita terhadap hidup sesama dapat dituangkan dalam tindakan nyata. “Suatu kota”, tempat ini bisa dijadikan laut di mana kita bisa menjadi pemukat manusia lewat apa yang kita lakukan kepada sesame. Situasi krisis yang sedang kita alami sekarang ini butuh kesediaan kita untuk masuk ke dalam kehidupan sesama, ikut merasakan apa yang sedang mereka rasakan. Bila kita dapat merasakan apa yang mereka rasakan, kita akan mampu menolong mereka tanpa banyak perhitungan. Begitu sering soal yang ada, beban hidup sesama tidak dapat diringankan karena kita menjadi diri kita “suatu kota” berkubuh yang sulit dimasuki, kita lebih banyak berteori tentang saling membantu tanpa tindakan nyata. Ketiga, penyakit kusta. Penyakit ini membuat si penderita mengalami penderitaan ganda; menderita karena penyakit ini, menderita karena mesti dijauhkan dari kebersamaan. Padahal penyakit ini sekarang sudah bisa disembuh-kan dan orang tidak mesti diisolasi. Kita bukan si kusta tetapi kita toh dijauhkan dari keber-samaan seperti si kusta karena ulah kita, kehadiran kita bukannya meringankan beban sesame tetapi kita justeru menjadi beban mereka. Keempatan, si sakit disembuhkan karena ia punya keinginan untuk sembuh dan tidak malu meminta pertolongan. Dengan ini hendak ditekan bahwa sikap kitapun menentukan ada tidaknya penyembuhan. Banyak dari kita tidak dapat ditolong karena kita tidak mau dikatakan sakit, kita malu, tidak berterus terang dan berbuat seolah-olah semuanya beres, gengsi-gengsian. Kalau kita punya kerendahan hati si kusta dan kesediaan seorang Yesus, aneka penyakit “kusta” dalam kehidupan ini bisa disembuhkan. Jaman ini kusta sudah tidak lagi ditakuti seperti di jaman dahulu tetapi ini tidak berarti kita boleh membiarkannya tumbuh dan berkembang. Kusta tetap penyakit yang mengisolasikan orang dan mengakibatkan penderitaan ganda. Mungkin secara fisik kita bukanlah orang-orang kusta tetapi secara psikis situasi hidup kita tidak jauh berbeda dari mereka yang mengalami penyakit ini, kita adalah orang-orang yang perlu ditolong. Kalau kita bukan orang kusta biarlah kita menjadi seperti Yesus yang tahu merasakan apa yang dirasakan dan dirindukan sesama. Demi kesembuhan kita tidak perlu malu untuk meminta kesediaan sesama untuk memberikan pertolongan. Tetapi ini hanya mungkin kalau kita mau terbuka dan rendah hati. Kesembuhan hanya mungkin dan hidup normal dapat tercipta bila punya keinginan untuk berubah dan siap untuk berubah. “Si kusta disembuhkan karena dia tidak malu mengakui keadaaan dirinya dan apa kerinduannya; dia juga tahu bagaimana menyampaikan kerinduannya itu”.
[ back ]