Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 20-01-2011 | 22:44:22
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “YANG JADI TUGAS KITA”
Lukas 4:14-22a,Kamis, 6 Januari 2011

Saya tidak tahu apa yang menjadi tugas anda setiap hari tetapi saya yakin setiap kita punya tugas yang harus kita jalankan setiap hari setelah kita meninggalkan kamar tidur kita. Anak-anak menimbah air ataupun menyapu halaman dan mungkin membersihkan ruang tamu lalu siap-siap ke sekolah. Para ibu mungkin lagi sibuk mempersiapkan sarapan pagi dan bapak-bapak mungkin sedang melahap harian pagi atau mendengar berita di radio ataupun televisi supaya tidak ketinggalan berita. Berhubungan dengan tugas ini; ada yang menjadi tugas rutin tetapi ada juga yang hanya sesewaktu bergantung situasi. Kenyataan ini hendak menunjukkan bahwa setiap kita punya tugas walaupun dalam kadar yang berbeda. Tugas ini bisa jadi berhubungan dengan status kita, kewajiban kita ataupun karena kebiasaan dalam keluarga. Karena hidup dalam kebersa-maan, tugas ini bisa merupakan kebiasaan yang diwariskan bisa juga karena kita mencontohi apa yang dilakukan oleh para tetangga kita. Walaupun mungkin kecil dan dipandang tidak berarti tetapi bila tidak dijalankan akan punya pengaruh terhadap situasi hidup bersama dan lebih lanjut punya dampak bagi relasi kita dengan yang lain. Halaman rumah yang tidak dibersihkan alias dipenuhi rerumputan bisa membuat orang memberi gambaran negatif bagi penghuninya, dapur yang tidak berasap akan menimbulkan perang bukan saja antara orang-orang dalam rumah tetapi dalam perut sendiri dan harian pagi yang tidak mampir ke rumah anda membuat anda tidak punya bekal menghadapi dunia. Semua peran yang kita lakonkan membuat kita berarti bagi kebersamaan dan memberikan kekhasan pada kehadiran kita di sana. Dan lebih dari itu peran kita membuat dunia kita hidup dan dari sana kita berlangkah mewujudkan apa yang kita impikan.

Tahun lama sudah beberapa hari kita tinggalkan. Mungkin saja banyak tugas di tahun lama belum dituntaskan tetapi kita sudah harus siap dengan apa yang menjadi tugas kita di tahun baru ini; menyelesaikan yang lama dan memulai yang baru. Semua ini kita jalankan bukan saja untuk mengekspresikan ada kita dan apa yang menjadi peran kita tetapi juga untuk mewujudkan apa yang menjadi mimpi kita. Dengan semangat baru kita mau merubah kisah hidup kita dan relasi kita dengan dunia. Hal yang sama terjadi pada Yesus. Setelah roh membawaNya kembali ke Galilea, Dia tampil di hadapan orang-orangNya di Nazareth. Dan katanya, di hari Sabat saat berada di rumah ibadat kepadaNya diberikan kitab nabi Yesaya yang berbicara tentang apa yang menjadi tugasNya. Dan selesai menyampaikan apa yang menjadi tugasNya, Ia menutupnya dengan mengatakan, ‘hari ini terpenuhi nas ini ketika kamu mendengarnya’. Dari kisah ini dapat kita lihat bahwa bukan satu kebetulan pertemuan Yesus dengan apa yang dikatakan Yesaya. Apa yang dikatakan Yesaya bukan saja ditujukan kepada Yesus tetapi kepada kita semua yang telah menerima baptisan dalam nama Allah Tritunggal. Kalau sebagai anggota masyarakat kita punya tugas masing-masing maka hal yang sama dipertegas lagi oleh Yesaya. Seperti Yesus, sebagai orang-orang yang terbaptis, kita hadir dalam kebersamaan dengan misi khusus ataupun melan-jutkan apa yang telah dimulai Yesus. Kehadiran, hidup dan apa yang kita lakukan mesti memenuhi dan mewujudkan apa yang menjadi misi khusus ini. Pada kita ada roh yang mengutus kita ke dalam kebersamaan untuk menyampaikan kabar baik; di mana saja kita hadir di sana kabar yang baik, berita yang menggembirakan, pesan perdamaian yang mesti kita bagi atau kita sendiri menjadi kabar baik, pembawa damai itu sendiri. Kehadiran kita harus mampu membebaskan sesama, mereka yang kita jumpai, dari aneka penjara yang tidak kelihatan dan beragam belenggu hidup ini, membuat mereka yang buta; tidak melihat jalan, tidak memahami makna kisah hidup ini, bisa menemukan, melihat jalan terbaik yang dapat mereka tempuh untuk mengubah impiannya menjadi kenyataan. Di mana kita hadir kita harus mampu membuat sesame bebas mengekspresikan dirinya tanpa harus melanggar batas-batas yang ada. Seperti Yesus, kita mesti menjadi penyalur rahmat atau rahmat itu sendiri. Ini semua berarti; di mana kita hadira di sana kehadiran kita mesti bernilai positif dan membantu sesama merubah kisah hidupnya dan bersama mereka kita berjuang mewujudkan impian kita sebagai anggota masyarakat dan orang-orang beriman. Pada diri kitalah semua yang dimpikan harus terpenuhi dan dipenuhi.

Kita tidak bisa tidak hidup tanpa orang lain karena kita selalu ada dalam kebersamaan. Tetapi ada dalam kebersamaan menuntut kita untuk melakukan sesuatu baik untuk diri kita maupun untuk mereka yang mengitari kita. Perlu digarisbawahi; sebagai orang-orang yang dibaptis kita hadir dalam kebersamaan dengan misi khusus. Selain itu untuk menciptakan satu kebersamaan yang harmonis kita diingatkan untuk tidak melihat orangnya tetapi apa yang dilakukan-dikatakannya. Kitapun harus membiarkan diri dipimpin oleh roh yang telah mengutus kita ke dalam kebersamaan sebagai nabi. Hanya dengan cara ini, segala penyakit sosial yang sedang menggerogoti kebersamaan kita dapat diberantas, bila tidak semuanya akan terus berulang dan mimpi kita tentang hari esok yang lebih baik akan tetap sebuah impian dan misi khusus yang kita bawa tidak dapat kita penuhi.

“Bila anda hanya melihat siapa dia, anda akan mengabaikan segala yang berhubungan dengan-nya, tetapi bila anda melihat potensi yang dimilikinya, anda akan menyadari bermanfaat tidaknya orang itu dalam kebersamaan”.
[ back ]