Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 17-01-2011 | 22:32:19
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘JANGAN TINGGALKAN TUHAN’
Mrk 6:45-52,Rabu, 5 Januari 2011

Hidup ini kadang sulit kita mengerti. Mengapa tidak, yang lain yang kita harapkan, yang kita dapatkan justeru sebaliknya. Kita semua menginginkan yang kita lakukan dihargai orang lain tetapi yang kita dapatkan justeru membuat kita frustrasi, usaha kita sepertinya tidak diapresiasi, diabaikan. Bahkan lebih kejam lagi yang dilihat adalah apa yang kurang dari usaha kita itu. Mengapa hal itu terjadi? Pertama, mungkin karena kita terlalu berharap tanpa mempersiapkan diri untuk kecewa. Kita sudah harus tahu bahwa tidak selamanya yang baik yang kita lakukan akan mendapat tanggapan yang baik karena tiap orang punya pandangan sendiri tentang apa yang kita lakukan. Pengalaman menunjukkan bahwa kadang orang begitu memperhatikan kita saat mereka membutuhkan kita lalu sesudah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan kita sudah tidak lagi mendapat tempat utama dalam perhatian mereka. Hasilnya kita kecewa dan benci karena kita berpikir dengan tindakan kita itu, kitalah yang menjadi sorotan. Sering kita begitu merasa iba terhadap nasib sesama tetapi mereka sendiri tidak pernah merasa membutuhkan keprihatinan kita, mereka sendiri tidak mau ditolong. Inilah gambaran ataupun pelangi perjuangan kita dengan satu keyakinan bahwa yang ingin hidup harus berjuang dan yang berju-ang dijamin akan hidup. Dan perjuangan menempatkan manusia dalam pasang surut kehidupan yang datang silih berganti; suka dan duka, sedih dan gembira, tawa dan tangis, sukses dan gagal, perang dan damai. Kenyataan lain yang kita temukan, ada orang yang bila segala sesuatu dalam hidupnya berjalan mulus, kita tidak akan mendengar keluhan dari mulutnya atau pengakuan dari mereka bahwa situasi itu karena andil orang lain. Di saat itu dirinya jadi pusat, peran sesama ditiadakan apalagi Tuhan. Di saat-saat penuh bunga itu, Tuhan tak pernah dipikirkan, Dia bahkan tidak disertakan. Tuhan dan sesama baru diingat pada saat pengembaraan meraka dihadang hujan penderitaan dan badai kesusahan. Tuhan diminta untuk turun tangan, kehadiranNya dipertanyakan, sesama menjadi penting baik sebagai penolong maupun sebagai kambing hitam penderitaan kita. Kenyataan ini membuktikan bahwa sikap kitalah yang berubah, Tuhan tetap sama dan Ia akan selalu hadir dalam situasi apapun disadari ataupun diabaikan.

Kita semua orang beriman dan kita adalah anggota satu masyarakat tertentu. Ini berarti kita tidak bisa begitu saja mengabaikan kehadiran Tuhan dan sesame. Kata-kata “Ikutsertakan Tuhan”, merupakan satu himbauan/peringatan sekaligus kritik atas kecenderungan kita. Kita tahu bahwa kita adalah makluk yang selalu membuat sejarah. Dalam perjalanan mengukir sejarah, begitu sering kehadiran Tuhan dilupakan. Lihat saja mengapa kita menghadapi begitu banyak soal dalam hidup? Karena kita tidak mengikutsertakan Tuhan saat kita membuat sejarah. Lebih jauh lagi, ada sementara orang yang menganggap kehadiran Tuhan menghalangi apa yang mereka inginkan. Tuhan terlalu memberi banyak aturan. Dan aturan-aturan ini lebih dilihat sebagai rintangan bukan sebagai pengatur, jembatan menuju perwujudan impian kita. Tuhan dituntut hadir saat impian kita gagal menjadi kenyataan bahkan lebih dari itu, begitu sering kehadiran Tuhan dipertanyakan. Dan Dia selalu berada pada posisi yang salah; tidak adil dan tidak punya belas kasihan. Sebaliknya bila Tuhan kita ikutsertakan, ceriterea hidup ini akan jadi lain. Kita akan memahami bahwa Tuhan tidak pernah menjanjikan laut yang tenang tetapi Ia menyediakan pelabuhan yang aman bagi mereka yang menggantungkan hidupnya pada penyertaanNya dan selalu mengikutsertakan Dia selagi mereka mengarungi laut hidup ini. Iman kita seperti iman para murid. Karena begitu dibuai oleh kekaguman akan peristiwa perbanyakan roti, para murid tidak lagi memikirkan Yesus yang masih di pantai. Mereka mungkin saja berpikir bahwa situasi hidupnya akan seperti suasana perbanyakan roti, tanpa susah. Apa yang mereka impikan saat mengikuti Yesus mulai menjadi kenyataan. Padahal seperti laut, hidup ini tidak saja menjanjikan situasi damai tetapi juga menyediakan tantangan dan rintangan. Dalam peristiwa para murid, kita bisa melihat bahwa banyak kali Tuhan mengingatkan kita lewat peristiwa-peristiwa seperti ini. Dia mau menyadarkan kita untuk tidak mengabaikan kehadiranNya dan sesama dalam situasi apapun. Yesus akan selalu hadir dalam situasi apapun, kita pun mesti demikian. Apapun situasi kita, Tuhan dan sesama tak boleh diabaikan, karena dengan cara mereka sendiri, mereka punya andil dalam hidup kita.

Hidup tak semudah yang kita bayangkan karena hidup tak pernah menjanjikan laut tanpa gelombang dan hari tanpa awan dan hujan. Sebagai orang-orang beriman, keberadaan kita tak dapat dipisahkan dari kehadiran Tuhan dan sesama. Kita ada karena kebaikan Tuhan yang datang dalam diri orang-orang yang ada di sekitar kita. Hal ini perlu kita sadari tanpa harus menanti adanya badai dan gelombang. Lalu siapakah kita dalam keseharian hidup kita? Yesus yang selalu siap membantu menenangkan badai dan gelombang hidup yang menimpah bahtera hidup kita, para murid yang melupakan kehadiran Yesus ataukah kita adalah badai yang selalu mengusik kedamaian perahu hidup sesama? Satu hal yang perlu dicatat, ikutsertakan Tuhan setiap saat anda hendak melaut dan jangan tinggalkan Dia saat anda hendak membuat sejarah; menyebrangi laut hidup ini!

“Jangan abaikan kehadiran dan peran Tuhan dan sesama dalam hidupmu karena baik langsung maupun tidak mereka punya andil dalam setiap peristiwa hidup kita”
[ back ]