Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 12-11-2010 | 22:18:18
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : JANGAN TUNGGU
Lukas 17:26-37,Jumat, 12 Nopember 2010

Mungkin anda sedang duduk di atas kursi yang gelisah, menanti seseorang atau sesuatu; titik hitam di tengah lautan, bayangan di sudut jalan, dering kerinduan dari seberang, mendungnya langit yang tidak mendatangkan hujan dan hari-hari penuh bunga. Menanti adalah melewatkan waktu dalam detak kegelisahan, satu pekerjaan yang berat dan kadang membosankan karena jarum jam dinding terasa begitu lama berpindah angka. Coba anda bayangkan situasi di sebuah terminal. Di sana ada banyak hal menarik dapat anda saksikan. Ada yang bercengkerama, mengisi penantiannya, ada yang memejam mata mengusir kebosanan, ada yang mengisi TTS mengasa otak sambil menunggu keberangkatan. Tetapi ada pula yang mulai sewot, marah dan jengkel karena harus menunggu lama. Di sini kita perlu waspada dengan kebosanan karena ia dapat membuat kita kehilangan orientasi hidup. Menanti adalah nyala api di tengah badai; menempatkan hati kita berada di antara dua pantai; harapan dan kegelisahan. Kecemasan akan semakin menjadi bila kita tidak tahu kapan berakhirnya penantian itu atau sam-pai batas waktu yang ditentukan apa yang kita nantikan belum juga tiba. Semua ini terjadi karena kita lebih mempersoalkan kapan hal yang kita nantikan itu tiba. Seandainya yang menjadi pusat perhatian kita adalah apa yang mesti kita lakukan selagi menanti, tentu saja pekerjaan yang satu ini tidak akan membuat jantung kita berdenyut lebih cepat dan hati kita tidak perlu dipenuhi rasa cemas yang menggelisahkan.

Kerajaan Allah; suasana bahagia adalah kerinduan dan impian setiap kita. Dan akhir-akhir ini, pikiran dan seluruh pergulatan kita sepertinya diarahkan untuk memahami pewartaan tentang kerajaan Allah; bagaimana dia bertumbu, berkembang dan mempengaruhi hidup manusia dan pada akhirnya dialami olah orang-orang beriman. Semakin banyak ia dibicarakan mestinya membuat kita melihat pembicaraan ini sebagai satu isyarat bahwa mungkin kerinduan kita akan hal yang satu ini mulai memudar atau denyut kehadirannya sudah tidak lagi terasa sehingga kita mesti kembali memberi tempat baginya dalam hati dan hidup kita. Perulangan inipun menggaris-bawahi kenyataan bahwa kita masih punya peluang untuk menikmati suasana yang satu ini. Ingat, kerajaan Allah lebih berhubungan dengan pengalaman batin manusia; ia hanya bisa di-alami dan dirasakan. Dia bisa datang dan dirasakan kehadirannya kapan saja dan ini bergantung dari suasana batin kita. Kerajaan Allah, kebahagiaan sungguh ada dan ia diperuntukan bagi kita semua. Walaupun demikian tidak semua kita akan mengalaminya, menikmati suasananya. Di sini yang terpenting bukan kapan kita akan mengalaminya tetapi apa yang mesti kita lakukan untuk mengalaminya. Karena berhadapan dengan suasana yang satu ini kita mesti menentukan sikap yang jelas; meninggalkan hidup kita yang lama dan bersedia mengikuti jalannya. Di sini bukan soal waktu tetapi masalah kesediaan kita untuk menerima kehadirannya dalam keseharian kita. Banyak kali kita lengah-lalai membiarkan suasana ini berlalu karena kita lebih mempersoalkan kapan ia datang, kita lupa untuk mempermasalahkan apa yang mesti kita buat selagi kita menanti datangnya. Kerajaan Allah, kebahagiaan berkembang dalam dunia nyata tempat kita ada dan mengais hidup, dalam diri kita, dalam relasi yang kita jalin dengan orang lain, dalam tugas-tugas harian kita. Dia merupakan satu realitas masa datang yang sudah harus mulai dibangun sekarang dan di sini. Ingat, di mana tempat kita kelak, dinikmati tidaknya kebahagiaan itu ditentukan oleh apa yang kita lakukan sekarang dan di sini sehingga di mana kita hadir, di sana mestinya ia dihadirkan. Dan kebahagiaan tidak akan dinikmati oleh sebuah hati yang gelisah, dia hanya bisa dialami oleh sebuah hati yang jernih, hati yang senantiasa berjaga. Karena hanya mereka yang berjaga-jaga, mengisi penantiannya dengan melakukan hal-hal yang berguna yang akan ikut bersama Anak manusia saat Dia datang kelak untuk mengadili dunia. Saat itu, kita tidak akan ditanya; berapa lama kita menanti tetapi apa yang kita lakukan selagi menanti.

Kita punya kerinduan untuk menikmati suasana bahagia, kerajaan Allah yang menjadi impian setiap orang beriman. Perulangan kisah tentang kerajaan Allah mesti dilihat sebagai satu anugerah karena ia mengingatkan kita akan apa yang mesti kita kejar dalam hidup ini. Dialami tidaknya suasana kerajaan Allah tidak ditentukan oleh berapa lama kita menanti tetapi oleh apa yang kita lakukan selagi menanti. Cepat atau lambat kehadiran kerajaan Allah cuma soal waktu, tetapi untuk itu kita mesti berjuang mengalahkan diri, melayani sesama dengan cinta yang mengabdi dan membiarkan kerajaan Allah bertumbuh dalam diri kita. Semoga kita bukanlah orang-orang yang ditinggalkan saat Anak Manusia datang untuk mengadili dunia.

“Jangan persoalkan kapan kerajaan Allah akan datang dan kebahagiaan dapat kita alami, perhatikan apa yang mesti anda lakukan untuk dapat mengalaminya”.
[ back ]