Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 12-11-2010 | 22:14:44
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : BUKAN SOAL KAPAN
Lukas 17:20-25,Kamis, 11 Nopember 2010

Banyak hal dalam hidup ini yang kehadirannya tidak kita pikirkan. Hal ini mungkin saja karena kita tidak menyangka mereka ada dalam keseharian kita atau karena kita begitu sibuk dengan tugas-tugas kita sehingga kita tidak punya perhatian terhadap kehadirannya. Di sini kita disadarkan bahwa ketidaktahuan kita, kesibukan kita bisa meniadakan keberadaan banyak hal; karena kita tidak tahu maka kita menarik kesimpulan bahwa mereka tidak ada padahal mereka ada di balik pagar ketidaktahuan kita, ketidaksadaran kita akan keberadaan mereka. Terkadang keberadaan mereka tidak diketahui karena kita toh tidak mau mengakui keberadaan mereka. Kita tidak mau dipengaruhi ataupun tidak mau terikat oleh kehadiran mereka. Tetapi diakui ataupun tidak, disadari ataupun tidak, kita tetap tidak dapat menyangkal keberadaan mereka apapun usaha kita bahkan semakin kita berusaha menyangkal kehadiran mereka kita toh semakin diyakinkan bahwa mereka ada. Tidak melihat bayangan anda, tidak berarti anda tidak punya bayangan, anda boleh menghindar dari kehadiran orang yang anda benci tetapi anda tidak dapat mematikan bayangannya dalam benak anda. Di sini hati kita menentukan segala; kalau hati kita telah tertutup, apa dan siapapun tidak bisa masuk, kehadiran mereka sama dengan ketidakberadaan mereka. Bila hati kita terbuka, kita akan membuka diri terhadap segala kemungkinan yang mungkin terjadi; yang tidak kita ketahui, tidak sadari tidak berarti tidak ada. Di sini soal hati dan masalah keterbukaan kita terhadap kenyataan yang mengitari kita.

Sebagai orang-orang beriman kita sedang berjalan menuju kerajaan Allah, titik pusat yang menarik semua kita ke sana; segala usaha kita ditujukan untuk menikmati suasana kerajaan yang satu ini. Berpikir seperti ini, mengarahkan pandangan kita untuk melihat kerajaan Allah lebih sebagai tempat, terminal akhir pengembaraan kita ketimbang sebagai suasana yang sudah bisa dinikmati kehadirannya sekarang dan di sini. Karena itu tidak mengherankan bila seperti kaum Farisi, kita juga bertanya, ‘kapan kerajaan Allah itu datang’. Dari kisah ini jelas, kita cenderung membayangkan dan memusatkan perhatian kita pada apa yang akan datang ketimbang berkonsentrasi dengan apa yang mesti kita lakukan sekarang. Dari jawaban Yesus yang seder-hana, kita dapat menyimak; kerajaan Allah bukanlah tempat melainkan satu suasana yang ada pada mereka mengalami kebahagiaan, kedamaian, kebaikan dan cinta. Karena ia adalah satu suasana maka di sini yang menjadi masalah bukanlah waktu atau model apa kerajaan itu tetapi soal hati dan kesadaran manusia akan kehadirannya. Bila ia punya bentuk, ia memungkinkan manusia untuk menggunakan segala cara agar dapat membangunnya, bila ia punya kaitan dengan waktu, kepastian akan kedatangannya akan mematikan sikap awas. Kerajaan Allah bukanlah sesuatu yang bersifat lahiriah; dapat diinderai, kerajaan Allah lebih berhubungan dengan pengalaman batin manusia; ia hanya bisa dialami dan dirasakan. Karena ia lebih berhubungan dengan batin manusia, kerajaan Allah bertumbuh secara perlahan dan pengaruhnya hanya dapat diamati dalam pola hidup manusia dan relasinya dengan yang lain. Di sini yang terpenting bukanlah usaha kita untuk mengetahui kehadirannya tetapi upaya kita untuk menyadari dan mengalaminya dalam keseharian kita, membiarkan dia bertumbuh dan mempengaruhi hidup kita. Kerajaan Allah bukan soal waktu tetapi masalah kesediaan kita untuk menerima kehadirannya Yang akan kita alami di masa datang sudah harus mulai dibangun dan dirasakan saat ini dan di sini; kerajaan Allah-iman kita berkembang dalam dunia nyata; tempat kita ada dan mengais hidup, dalam diri kita, dalam relasi yang kita jalin dengan orang lain, dalam tugas-tugas harian kita dan melalui semua hal ini, ia mestinya semakin nampak dan mempengaruhi seluruh hidup kita. Di mana kita hadir, di sana mestinya ia dihadirkan. Seperti benih yang membutuhkan tanah yang subur dan perawatan yang cukup, kerajaan Allah-iman kita membutuhkan tempat yang layak dalam hati kita untuk bertumbuh dan kesediaan kita untuk memperhatikan pertumbuhannya. Karena itu, sudah seharusnya dalam perkembangan pembangunan di sana kerajaan Allah pun turut berkembang.

Kerumitan hidup ini semakin menggelisahkan. Apakah ini satu isyarat menja-uhnya kita dari kebahagiaan yang kita impikan ataukah satu tantangan bagaimana menemukan jalan baru bagaimana merasakan kehadiran kerajaan Allah? Kehadiran kerajaan Allah bukan soal waktu, karena karena kepastian tentang waktunya akan memandulkan kewaspadaan kita, kerajaan Allah bukanlah tempat, karena usaha untuk menemukan tempatnya dapat menyesatkan kita. Kerajaan Allah adalah satu suasana yang punya kaitan erat dengan batin manusia, warna batin manusialah yang menentukan dirasakan, dialami tidaknya suasana kerajaan yang ini. Saat hati anda dipenuhi rasa cinta, damai, bahagia, saat itulah kehadiran kerajaan Allah anda alami.

“Kerajaan Allah, kebahagiaan bukan sesuatu yang mesti dialami sesudah hidup di dunia ini berakhir tetapi sudah harus dialami sekarang dan di sini”.
[ back ]