Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 12-11-2010 | 21:24:40
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : JANGAN LUPA BERSYUKUR
Lukas 17:11-19,Rabu, 10 Nopember 2010

Disadari ataupun tidak, perubahan cuaca yang makin ekstrim cukup mempengaruhi keseharian kita sehingga akhir-akhir ini ada banyak penyakit aneh yang mesti kita hadapi dan pengaruhnya bagi hidup kitapun menciptakan aneka keanehan dan penyembuhannya pun kadang aneh. Lalu pernahkah anda jatuh sakit atau apakah sekarang anda sedang berbaring di tempat tidur karena sakit? Mungkin saja kita sedang berada di tengah mereka yang menderita aneka penyakit dan bergelut dengan beragam penderitaan baik secara fisik maupun psikis. Panorama yang tidak ramah ini, mestinya mendorong kita untuk melakukan sesuatu; mengurangi beban mereka yang menderita ataupun mengatasi dan membentung meluasnya wabah penyakit tersebut. Ini bukan saja tugas para medis tetapi tugas setiap kita yang punya hati dan menghendaki kebersamaan ini lestari. Yang menjadi soal adalah terkadang kita lebih banyak berbicara tentang penyakit-penyakit itu ketimbang berusaha mengatasi malah lebih dari itu kita memeliharanya demi keuntungan diri; semakin lama ia dibiarkan hidup semakin banyak keuntungan yang kita peroleh. Berhadapan dengan kenyataan ini, kita lebih melihat kepentingan kita dan menutup mata terhadap kerinduan mereka yang sedang mengalami situasi suram ini. Tanpa mengabaikan adanya gejala ini, kita perlu akui bahwa terkadang mereka yang sakit tidka dapat ditolong karena sikap mereka sendiri yang tidak mau mengakui bahwa mereka sedang sakit. Inilah yang membuat si sakit tetap sakit dan ceritera tidak akan pernah berubah.

Satu saat entah kapan, dua ribu tahun silam dalam perjalanan menuju Yerusalem menyusur perbatasan Samaria dan Galilea, ketika memasuki satu desa Yesus didatangi sepuluh orang kusta. Dari jauh mereka meminta Yesus agar mereka disembuhkan. Dan permintaan mereka dikabulkan. Dalam perjalanan menghadap imam-imam, mereka menjadi tahir. Lalu satu dari mereka; seorang Samaria kembali untuk memuliakan Allah. Kisah ini menarik. Di tengah perjalanan melukiskan bahwa hidup ini tidak berjalan mulus, ada saat di mana kita mengalami, menyak-sikan surutnya kehidupan; sakit, derita dan kemalangan. Kita butuh orang lain untuk mengurangi rasa sakit, meringankan beban yang sedang kita tanggung. Di sini, kesa-daran akan situasi diri sangat perlu, kesediaan untuk ditolong adalah keharusan, gengsi-gengsian mesti ditingalkan dan kerendahan hati harus menjadi sikap dasar; ‘mereka berdiri agak jauh, dan memohon agar mereka ditahirkan’. Lebih dari itu, kusta adalah satu persoalan. Penyakit ini membuat orang dikucilkan dari kebersa-maan. Ia membuat si penderita mengalami penderitaan ganda; karena penyakit itu sendiri dan karena harus diisolasi dari kebersamaan. Mungkin saja, kita bukan si kusta, tetapi penderitan yang sama kita alami karena ulah kita; kita dikucilkan dari kebersamaan karena kita tidak mau tahu bagaimana seharusnya hidup dalam kebersamaan. Dan banyak orang yang tidak dapat ditolong karena tidak mau dikatakan sakit, tidak sedikit orang yang sulit disembuhkan karena malu atau merasa gengsinya turun bila menerima pertolongan dari yang lain, mereka kurang rendah hati. Selebihnya, ‘perjalanan’ juga melukiskan bahwa kita hanya mungkin mengenal, mengetahui situasi sesama dan dapat memberi pertolongan yang dibutuhkan bila kita bersedia meninggalkan diri kita sendiri, memasuki dunia hidup sesama untuk bisa melihat kenyataan hidup mereka yang sesungguhnya. Kita sulit mengetahui situasi sesama, merasakan pahitnya hidup mereka karena kita hanya berputar pada dunia diri kita yang sempit dan penuh kalkulasi. Selain itu, dalam perjalanan yang dibatasi oleh ruang dan waktu ini, kita juga akan bertemu dengan orang-orang seperti si kusta Samaritan yang tahu berterima kasih; orang-orang asing yang tahu bahwa apa yang mereka peroleh bukan hanya karena usaha mereka semata tetapi juga karena campur tangan orang lain. Mengakui bahwa sesama punya andil dalam hidup adalah jalan merubah kisah hidup ini. Kisah ini juga menunjukkan bahwa kadang orang-orang yang cukup kita kenal, orang-orang dekat kita kurang tahu bersyukur. Hal ini menimbulkan banyak soal, mungkin karena oranag-orang ini lebih melihat haknya lalu lupa apa kewajiban kewajibannya setelah haknya dipenuhi.

Kita bukan orang-orang sakit tetapi boleh jadi nasib kita tidak jauh berbeda dari mereka yang sakit sehingga kita perlu ditolong. Banyak dari kita yang dikucilkan dari kebersamaan karena ulah mereka yang tidak mau peduli bagaimana seharusnya hidup dalam kebersamaan. Hati mereka telah menjadi lahan subur tumbuhnya penyakit kusta dalam aneka wajah; kebencian, iri hati, dendam, tidak suka mengalah, kerakusan, keangkuhan dan aneka penyakit sosial lainnya. Lalu siapakah kita dalam dunia semacam ini? Seorang Yesus yang siap keluar dari dunia diri sendiri untuk merasakan apa yang sedang dialami sesama, ataukah kita adalah orang-orang kusta yang tahu diri dan butuh pertolongan? Mungkinkah kita si kusta Samaritan yang tahu berterima kasih? Situasi normal akan tercipta bila kita tahu situasi kita, mau menolong ataupun punya kesediaan untuk ditolong.

“Keterbukaan memungkinkan segalanya dan kita tidak boleh lupa bersyukur karena kebaikan yang kita terima atau karena kita dimungkinkan untuk bisa berbuat baik”.
[ back ]