Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 12-11-2010 | 21:07:32
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : BUKAN APA TETAPI BAGAIMANA
Lukas 17:1-6, Senin, 8 Nopember 2010

Kita selalu ada dalam kebersamaan dan disadari ataupun tidak kebersamaan adalah arena di mana kita dapat mengekspresikan keberadaan kita entah sebagai makhluk multidimensional maupun sebagai orang-orang beriman. Di sana kita dituntut dan mesti merasa terpanggil untuk memberi warna yang khas bagi kehadiran kita dan pada gilirannya bagi kebersamaan di mana kita ada dan mengais hidup. Karena ada dalam kebersamaan dengan membawa kekhasan diri bisa saja muncul soal karena kekhasan diri bisa berubah menjadi keanehan yang mengganggu kebersamaan itu. Untuk menghindari adanya soal kita perlu membuka diri bagi mereka yang mengitari kita. Dengan itu kita dimungkinkan untuk belajar bagaimana menghindari soal ataupun menyelesaikan soal yang ada sekaligus mengartikan kehadiran kita. Di sana kita bertemu dengan berbagai nasehat ataupun kiat. Nasehat biasanya hadir bisa sebelum kita menjalankan sesuatu atau bisa juga sesudah kita selesai melakukan sesuatu. Dia bisa tampil sebagai awasan, biasa juga sebagai kiat ataupun sebagai satu evaluasi agar hasil yang maksimal bisa kita peroleh. Kalau kita sungguh membuka diri, banyak soal bisa kita hindari dan tidak sedikit masalah yang dapat kita selesaikan. Bila kita menutup diri maka soal akan datang dalam hidup kita seperti berjadwal. muncul dari hal tersebut. Dan kita mesti tahu bahwa kita ada dalam kebersamaan bukan untuk menciptakan soal tetapi justeru kita ke sana untuk melestarikan kebersamaan itu dan menjadikan kebersamaan itu arena di mana mimpi kita tentang hari esok yang lebih baik bisa terwujud.

Seperti mentari atau bola lampu yang dirindukan untuk mengusir kegelapan, sebagai orang-orang beriman, kehadiran kita mesti berdampak positif. Hal ini perlu kita sadari karena menurut Yesus, kehadiran kita bisa saja berdampak negatif, menyesatkan sesama, mereka yang berada di sekitar kita. Karena itu seperti kepada para murid, Yesus mengingtkan kita supaya kita bersikap awas dalam berkata, penuh kesadaran dalam bertingkah dan tahu menempatkan diri ketika berhadapan dengan yang lain dalam kebersamaan agar kehadiran dan apa yang kita lakukan tidak sampai menggoyahkan keyakinan sesama. Kehadiran kita diharapkan mampu membuka jalan bagi sesama untuk bisa berbuat baik, berlaku benar dan bersikap adil, membuka ruang hatinya untuk menjadi tempat tumbuh kasih yang mempersatukan. Bila tidak, sebaik dengan leher yang digantung pemberat, kita dibuang ke dasar laut. Bila ini diterapkan, siapakah yang masih bertahan. Sabda ini bukan satu ultimatum tetapi satu awasan, kita masih punya kebaikan yang perlu dikembangkan, kita masih diberi kesempatan untuk membaharui hidup kita. Keberartian kehadiran kita dapat ditunjukkan dengan usaha membawa sesama kembali kepada kebaikan; membantu sesama untuk berbuat baik, menegur mereka bila ada kesalahan. Di sini yang terpenting bukan teguran yang kita berikan tetapi bagaimana cara kita mendekati mereka pada saat mereka berhenti berkembang. Kesalahannya bukanlah akhir riwayat hidupnya; dia pernah berbuat baik dan punya peluang menjadi baik. Hal ini merupakan satu kritikan bagi kita yang cenderung menutup pintu bagi mereka yang ingin kembali. Perlu kita akui bahwa semuanya ini belum dapat berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan bukan karena kita tidak berusaha menjalankan apa yang diharapkan Yesus tetapi karena hati kita belum terbuka untuk memberi kesempatan kepada sesama untuk berbalik. Bila hati kita diikutsertakan untuk bisa merasakan apa yang dirasakan sesama, ceritera hidup ini perlahan tapi pasti akan berubah dan kehadiran kita akan sungguh berarti bagi sesama karena mereka sungguh merasa diartikan. Keberartian kehadiran kitapun dapat diungkapkan dengan membiarkan hidup kita berbicara tentang siapa kita. Dunia dililit aneka soal dan hidup kita dibebani beragam masalah karena dunia, hidup kita telah kehilangan kerendahan hati; kita lebih banyak berceritera tentang apa yang kita lakukan, membesar-besarkan kekurangan sesama tanpa berusaha membiarkan apa yang kita lakukan berceritera tentang siapa kita dan memberi kesempatan kepada sesama untuk merubah ceritera hidupnya. Ingat, kesejatian seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya kata-kata yang ia ucapkan tentang diri tetapi bergantung dari apa yang ia lakukan dalam dan untuk sebuah kebersamaan. Apa yang ia lakukan itulah yang akan memberikan banyak informasi tentang dirinya.

Sebagai orang-orang beriman, kehadiran kita mesti membawa pengaruh positif bagi mereka yang ada di sekitar kita, di tempat di mana kita ada dan mengais hidup. Kehadiran kita mesti punya nilai lebih. Untuk itu pada kita ada aneka potensi yang kalau dimanfaatkan secara maksimal akan banyak manfaatnya. Kita perlu membuka diri bagi mereka yang ada di sekitar kita karena dengan demikian kita dimungkinkan untuk belajar menimbah nilai-nilai positif bagaimana membuat kehadiran kita berarti dan bagaimana menyiasati hidup ini-menghindari munculnya aneka soal yang tidak perlu. Soal dapat dihindari bukan karena kita menegur mereka yang melakukan kesalahan tetapi karena kita tahu bagiamana cara menyadarkan sesama akan situasi dirinya. Sampai di sini kita perlu bertanya, Apakah hidup kita sudah jauh lebih baik dari mereka yang tidak beriman? Masing-masing kita punya kelebihan dan kekurangan tetapi terkadang kita menutup pintu bagi sesama yang mau berbalik haluan. Kita juga punya hati hanya terkadang kita tidak bersikap rendah hati membiarkan apa yang kita lakukan berceritera tentang kita. Ingat, cara kita menentukan segalanya.

“Banyak kali kita ditolak bukan karena kita tidak menjalankan tugas kita tetapi karena kita tidak tahu bagaimana seharusnya tugas kita dijalankan. Di sini bukan soal apa yang kita lakukan tetapi bagaimana kita melakukannya”.
[ back ]