Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 12-11-2010 | 21:02:39
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : LIHAT YANG LEBIH PENTING
Lukas 20:27-38,Minggu, 7 Nopember 2010

Disadari ataupun tidak hidup kita dibentuk dalam waktu. Kita adalah orang-orang yang hidup di waktu tertentu dan untuk rentang waktu yang tertentu pula. Karena itu manusia, kita dan waktu, dua hal yang berbeda tetapi tidak harus dipisahkan; kita ada, hidup dan menjadi dalam waktu dan bersama mengalirnya sang waktu kita memanusiakan diri kita, dalam waktu kita membuktikan bahwa kita sungguh manusia. Kita datang dan pergi dalam waktu dan waktulah yang menentukan keberadaan manusia. Karena itu kemarin, hari ini dan besok maka kemarin punya nilai, hari ini adalah saat yang menentukan dan esok adalah realitas masa datang yang ditentukan oleh hidup hari ini. Orang-orang yang membiarkan diri diikat masa lampau tidak akan menikmati hari ini ataupun melihat masa datang dan mereka yang lebih melihat hidup di masa datang tak akan pernah merasakan bahwa hari inilah yang menentukan segalanya. Kenyataan ini hendak menyadarkan kita untuk memusatkan perhatian kita pada apa yang sedang kita hidupi hari ini. Karena dia merupakan cerminan masa lalu dan darinya bisa dibuat proyeksi apa wajah masa datang. Hanya sering kita begitu terikat dengan masa lalu ataupun menempatkan diri di masa datang lalu lupa bahwa kita hidup di hari ini dan selebihnya hanyalah kemungkinan. Bagaimana hidup baru akan tercipta kalau kita selalu mengungkit-ungkit kekurangan sesama di masa lalu atau bagaimana kita bisa sukses mewujudkan impian kita kalau sebelum bergerak kita sudah memikirkan kegagalan.

Sebagai orang-orang beriman, kita percaya akan adanya hidup sesudah hidup di dunia ini berakhir dan kita juga percaya akan kebangkitan; ada hidup sesudah hidup di dunia ini berakhir. Hanya kita tidak tahu pasti apa wajah hidup sesudah hidup di dunia ini berakhir. Karena itu mungkin saja pertanyaan kaum Saduki adalah pertanyaan kita juga. Dikatakan, satu ketika datanglah orang-orang Saduki kepada Yesus dan bertanya tentang kebangkitan-hidup sesudah hidup di dunia ini berakhhir. Bagi mereka; hidup di dunia yang akan datang merupakan lanjutan dari hidup sekarang ini. Karena itu akan muncul soal bila seorang wanita terpaksa menikahi tujuh bersaudara secara berturut-turut demi mendapatkan ahli waris dari keluarga; siapa yang akan menjadi suaminya kelak. Kaum Saduki mempersoalkan masa datang padahal mereka sedang hidup di hari ini. Bagi Yesus, yang menentukan hidup masa datang adalah apa yang kita lakukan saat ini dan di sini. Jawaban Yesus cukup sederhana; hidup di dunia yang akan datang tidak sama dengan hidup yang sedang kita jalani; kalau sekarang kita dibatasi oleh ruang dan waktu; di hidup yang akan datang kita akan berelasi tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Karena hidup kita dibatasi oleh ruang dan waktu, kita butuh ahli waris tetapi ketika kita hidup tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu kita tidak lagi membutuhkan ahli waris. Karena itu yang perlu ditata adalah hidup kita hari ini karena hari inilah yang menentukan di mana tempat kita kelak. Melalui kisah ini hendak dikatakan bahwa hukum dan aturan dibuat untuk mengatur hidup manusia dan membantunya menyiapkan diri menyongsong hidup baru; hukum mengkondisikan menusia untuk dapat berelasi dengan Tuhan dan sesamanya. Dalam kesederhanaan jawabanNya, seperti kepada kaum Saduki, Yesus hendak mengingatkan bahwa kita tidak boleh terlalu mengikatkan diri pada masa lampau karena ingatan akan masa lampau dapat membuat kita kehilangan orientasi hidup masa datang. Ada banyak orang yang gagal meraih impiannya karena mereka tidak mau beranjak dari masa lalu, hidup damai tidak akan tercipta kalau kita selalu mengungkit-ungkit masa lalu sesama. Selain itu, kita juga diingatkan agar tidak terlalu terpesona dengan impian masa datang karena tidak sedikit orang yang begitu terpesona dengan impian masa datang lalu lupa bahwa impian ini hanya mungkin digapai bila kita sungguh-sungguh berusaha menghidupi dan menjalankan apa yang sekarang menjadi kewajibannya atau banyak kali kita gagal karena sebelum memulai satu tindakan kita sudah memikirkan kegagalan kita. Seperti kaum Saduki, kita cenderung melihat hukum yang berlaku dan menjalankannya secara harafiah tanpa mau bertanya mengapa hukum seperti hukum Musa diberlakukan dan mesti ditaati. Menjalankan hukum tanpa memahaminya adalah kekonyolan dan memahami hukum yang berlaku tanpa menjalankannya adalah pengkhianatan.

Kita hidup dalam waktu dan bersamaan dengan mengalirnya sang waktu kita memberi arti bagi keberadaan kita, menentukan akan jadi apa nasib kita ini. Untuk itu aturan dan hukum dibuat agar kita dibantu dalam mengatur hidup dan relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Setiap kita wajib menjalankan hukum dan aturan yang berlaku tetapi hal ini mesti diimbangi dengan pemahaman yang benar tentang hukum yang berlaku; mengapa dan untuk apa kita menjalankannya. Dalam waktu, kita mengekspresikan diri sebagai makhluk Tuhan. Di sini yang terpenting bagi kita bukan menatap ke depan ataupun melihat ke belakang tetapi menata hari ini karena hidup dan apa yang kita lakukan hari ini yang menentukan wajah macam apa hidup kita di masa datang. Karena itu artikan hidupmu sekarang dan di sini, hari ini, karena sekali ia berlalu tanpa diartikan anda akan kehilangan kesempatan untuk merubah kisah hidup ini.

“Yang persoalkan bagaimana wajah hidup kita di masa dating tetapi permasalahkan apa yang mesti kita lakukan hari ini. Karena hari inilah yang menentukan model hidup kita kelak”.
[ back ]