Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 12-11-2010 | 20:59:47
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : HAL-HAL KECIL
Lukas 16:9-15,Sabtu, 6 Nopember 2010

Ada kecenderungan dalam diri kita untuk meremehkan atau mengabaikan hal-hal kecil. Karena meremehkan hal-hal kecil, kita lebih memperhatikan hal-hal besar yang menyolok mata. Kita berpikir bahwa hal-hal besarlah yang bisa berdampak besar dan dapat menyedot perhatian, kita lupa bahwa ada banyak hal kecil yang punya pengaruh yang maha dahsyat. Cinta, biasa tidak punya pengaruh kalau dia belum mengisi ruang hati, tidak punya arti dan bisa saja dipandang sebelah mata. Tetapi ketika dia mengambil sedikit tempat di ruang hati; anda dapat me-nyaksikan pengaruhnya yang maha dahsyat; yang normal bisa jadi gila dan yang gila bisa kembali normal dan banyak hal aneh yang sulit dimengerti bisa kita saksikan. Orang bisa saja berceritera berjam-jam tanpa rasa lapar dan tak punya keinginan untuk beranjak walaupun cuaca mungkin tidak bersahabat. Lain contoh, orang bisa jatuh sakit dan tidak dapat melakukan aktivitasnya sebagaimana biasanya bukan karena demam panas tetapi karena duri kecil yang masuk ke daging kakinya. Selama duri itu belum dikeluarkan selama itu pula dia akan menjadi gangguan. Kenyataan ini hendak menyadarkan kita tidak semua hal kecil tidak punya pengaruh bahkan harus kita katakan ada banyak hal kecil yang punya pengaruh yang luar biasa dan tidak semua hal besar besar pula pengaruhnya karena mungkin saja gaungnya yang besar tetapi pengaruhnya begitu kecil atau bahkan tidak punya pengaruh sama sekali. “Sebuah piramida tidak sekali jadi tetapi mulai dibentuk dari sebuah batu kecil, Borobudur yang menjadi keajaiban dunia tidak berasal dari sebuah bukit batu yang dipahat tetapi dibentuk dari balok-balok batu yang tidak sedikit dan pelangi di kaki langit tidak tercipta oleh satu warna tetapi tersulam dari aneka warna. Semua kenyataan ini hendak membawa kita kepada satu penyadaran bahwa kita tidak boleh meremehkan hal-hal kecil karena mungkin secara fisik atau secara lahiriah dia kecil adanya tetapi secara spiritual pengaruhnya tidak sekecil lahiriahnya.

Dari usaha menyadari bahwa banyak hal kecil punya pengaruh yang tidak kecil bagi hidup manusia, kita kembali dihantar untuk memahami bahwa kesetiaan kita terhadap perkara-perkara kecil bisa menghantar kita untuk dipercayakan menangani perkara-perkara besar. Lalu adakah kita melihat adanya hubungan antara perhatian kita terhadap hal-hal kecil dan kesetiaan terhadap perkara-perkara kecil? Saya kira ada dan kita tahu itu. Kedua hal berbeda ini sebenarnya menyampaikan inti yang sama berhubungan dengan hidup dan ada kita di antara yang lain; pengaruh dari perhatian dan kesetiaan kita terhadap hal-hal atau perkara-perkara kecil. Hal-hal kecil, perkara-perkara kecil ternyata punya pengaruh yang tidak kecil dalam hidup kita. Pada perikop yang lalu kita berbicara tentang kepercayaan. Dan masih dalam hubungan dengan kepercayaan, kerajaan Allah diperuntukan bagi mereka yang punya perhatian dan tidak mengabaikan kehadiran hal-hal, perkara-perkara kecil yang punya pengaruh besar. Di sini kepercayaan dihubungan dengan kesetiaan. Mereka yang setia biasanya bertanggung jawab dan mereka yang bertanggung jawab pada dasarnya selalu dipercaya. Lewat perikop ini, Yesus hendak menandaskan bahwa untuk dapat menikmati suasana kerajaan Allah, memperoleh kebahagiaan dan mendapat tempat di hati sesama dan di hadapan Tuhan, kita tidak selalu harus melakukan hal-hal besar; yang penting kita perlu melakukan apa yang menjadi tugas kita dengan seluruh diri dan hati kita. Karena apa yang kita jalankan yang akan menjadi dasar penilaian apakah kepada kita bisa diberikan kepercayaan untuk melakukan hal-hal besar. Kalau kita sungguh bertanggung jawab, setia terhadap apa yang menjadi tugas kita, kita dimungkinkan untuk diberi kepercayaan lebih. Sebenarnya sederhana dan kita sudah tahu, tetapi begitu sering kita mengabaikannya, kita ingin sampai ke puncak tanpa melewati tangga-tangga yang sudah disiapkan. Kita harus memulai sesuatu dengan memperhitungkan semua potensi yang ada pada kita, mulai dengan hal-hal kecil karena walaupun kecil tetapi bila dilakukan dengan penuh kesungguhan hasil dan pengaruhnya tidak kecil. Yesus mengulang hal ini karena Dia melihat adanya kecenderungan dalam diri kita untuk mengabaikan hal-hal kecil, meremehkan kehadiran dan pengaruh kehadirannya. Dia mau kita menghormati dan memberi perhatian kepada hal-hal kecil, apa yang menjadi tanggung jawab kita. Hal ini dipertegas dengan pernyataanNya bahwa seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan; kita harus memusatkan diri pada apa yang sudah menjadi tugas kita karena bila kita mulai memalingkan pandangan kita kepada hal lain di saat itu pula kita sedang masuk dalam arena yang membahayakan kesetiaan kita.

Anda dan saya, kita semua punya keinginan untuk dapat dipercaya. Ada banyak jalan untuk mewujudkan impian ini. Salah satu jalan yang termudah dan terbaik adalah lakukan apa yang menjadi tugas kita dengan penuh tanggung jawab; yang menjadi tugas kita harus diutamakan. Selain itu kita perlu menghindari beralihnya pandangan kita kepada hal-hal sampingan. Sekali kita memusatkan diri kita pada hal-hal sampingan-mencurahkan seluruh perhatian kita kepada hal yang bukan menjadi tugas utama kita di saat itu kemungkinan untuk tidak setia pada apa yang menjadi tugas kita yang utama terbuka lebar. Orang yang bertanggung jawab pada dasarnya setia, orang yang setia adalah orang yang dapat dipercaya. Mulailah dengan hal-hal kecil yang punya pengaruh besar karena sebuah piramida selalu dimulai dengan sebuah batu kecil.

“Hati-hatilah karena sekali anda berpaling dari apa yang menjadi tugas utama anda, di saat yang sama anda sebenarnya dengan tahu dan mau melunturkan kesetiaan anda”.
[ back ]