Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 07-11-2010 | 20:03:25
By : Erminold Manehat,SVD
Theme : CARI DAN BAWA PULANG
Lukas 15:1-10, Kamis, 4 Nopember 2010

Apakah rasa takut sedang mengisi ruang hati anda? Saya harap tidak tetapi bila ‘ya’ saya kira adalah sesuatu yang sangat manusiawi bahwa kesalahan, kekeliruan yang kita lakukan melahirkan rasa takut bahkan memungkinkan kita untuk menghindar dan melarikan diri dari konsekuensi yang akan kita hadapi. Rasa takut ini bisa saja beralasan tetapi bisa juga tidak berdasar. Mengapa? Karena banyak kali ketakutan itu dilahirkan oleh praduga yang kita buat sendiri atau bertolak dari diri kita sendiri; kita mengukur orang lain dengan standar yang biasanya kita gunakan saat menghadapi mereka yang bersalah kepada kita; karena kita berlaku demikian maka asumsi kita orang lainpun akan melakukan yang sama. Menyimak makna di balik kata-kata “cari dan bawa pulang”, ada beberapa hal yang dapat kita petik, pertama, rasa takut adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Bila perasaan ini tak ada, peran hati kita patut dipertanyakan. Bahaya muncul bila perasaan ini tak membantu kita untuk menormalkan situasi atau tidak membuat kita jera. Merasa bersalah saja tidak cukup, harus ada usaha untuk memperbaikinya. Kedua, kita butuh bantuan sesama. Ketakutan melahirkan aneka pikiran; memper-besar sikap curiga, menjatuhkan vonis terhadap diri sendiri sebelum menghadapi realitas yang sebenarnya, kalah sebelum perang. Ketiga, tidak semua orang yang dihadapi sama seperti apa yang kita bayangkan. Yang kita bayangkan mungkin tak terpikirkan oleh orang itu. Di sini kita diingatkan untuk waspada terhadap rasa takut karena ia dapat menghentikan langkah kita untuk menghadapi realitas yang sebenarnya, membuat kita mati sebelum mengalami kematian yang sebenarnya.

Kisah domba dan dirham yang hilang adalah kisah klasik yang senantiasa aktual. Kisah ini sangat dramatis dan mungkin juga terlalu dibesar-besarkan. Tetapi bila kita melihat makna sebenarnya di balik kisah ini, penulis sebenarnya hendak melukiskan betapa bernilainya kita, kehadiran kita member warna tertentu bagi kebersamaan sehingga ketidakhadiran kita membuat ruang untuk warna khas itu kosong. Selain itu, di satu sisi, lewat kisah ini penulis hendak menandaskan dan menggarisbawahi apa yang menjadi tugas kita dalam kebersamaan baik sebagai orang beriman maupun sebagai anggota masyarakat. Di sana kebersamaan menjadi arena di mana kita punya tugas khusus untuk mendekatkan yang jauh dan mengeratkan yang sudah dekat dan wajib mendekati mereka yang terasing dan mengasingkan diri dari kebersamaan entah itu karena ulah mereka ataupun karena kesalahan kita. Kita bertugas untuk mencari, menemukan dan membawa pulang yang hilang karena ada mereka dalam kebersamaan punya nilai. Jauhnya yang lain dari kebersamaan harus menggerakkan kita untuk melihat ke dalam diri dan berusaha menemukan jalan bagaimana bisa mendapatkan mereka kembali. Kita mesti melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan gembala yang baik dan janda yang kehilangan dirham. Pene-muan kembali mereka yang menjauh atau hilang harus merupakan satu berita gembira yang patut dirayakan. Dan lebih jauh dari itu, kisah ini hendak menggambarkan sepak terjang kita sebagai makhluk yang bebas dalam mengekspresikan diri. Begitu sering kita mengikuti keinginan diri sendiri lalu tanpa kita sadari kita hilang dalam kesibukan kita, kehilangan orientasi hidup dan tersesat di rimba kesibukan kita. Kita jadi lupa untuk apa kita ada dalam kebersamaan. Seperti domba yang hilang, kita meninggalkan kelompok dan tenggelam dalam kepentingan diri sendiri. Kadang kita menjadikan kelompok sebagai arena, titian untuk meraup keuntungan bagi diri sendiri. Di sisi lain hendak dikatakan bahwa kembali ke dalam kelompok hanya mungkin bila kita mau berubah arah, kembali ke rel yang sebenarnya. Menyadari situasi diri tanpa berusaha untuk berbalik, perubahan tidak mungkin terjadi; mengetahui kesalahan tanpa adanya usaha untuk bertobat, hidup baru tidak mungkin tercipta. Sikap kitalah yang menentukan ada tidaknya perubahan. Manusia begitu sering menyalahgunakan kebebasannya, mengkhianati kebaikan yang diterimanya. Penderitaan pada diri sendiri, putusnya relasi manusia dengan Tuhan dan sesamanya adalah konsekuensinya. Tapi penderitaan punya nilai keselamatan, menyadarkan kita akan apa yang menjadi sebab adanya situasi suram ini. Penderitaan mesti menjadi cermin untuk menata kehidupan kita. Kedua, Allah yang kita imani tidak seperti Allah yang kita bayangkan. Dia membenci apa yang kita lakukan tetapi selalu memberi kemungkinan untuk bertobat. CintaNya membebaskan. Ketidaksetiaan kita tak mampu menggoyahkan kasih setiaNya, tetapi ini tidak berarti kita boleh saja berbuat sesuka kita. Ada seribu satu jalan pulang kepadaNya. Dia adalah cahaya di ujung terowongan. Ketiga, peran kita dalam kebersamaan. Sikap gembala yang baik dan wanita yang kehilangan dirham mesti menjadi contoh apa yang mesti kita lakukan dalam kebersamaan. Tugas kita adalah mencari dan menemukan kembali mereka yang hilang, member mereka kemungkinan untuk kembali menjadi bagian dari satu kebersamaan.

Anda dan saya, kita ada dalam kebersamaan bukan sebagai hakim kehidupan orang lain. Kita ada di sana untuk membantu sesama sedapat mungkin keluar dari lilitan kelemahannya. Kita mencintai Tuhan yang membuka pintuNya untuk semua orang, mengapa tidak kita tunjukkan itu dengan menjadi jalan pulang bagi mereka yang tersesat? Kalau kita tidak bisa menjadi seperti gembala yang baik dan wanita yang kehilangan dirham, biarlah kita mencontohi sikap Allah yang kita imani, siap mencari, menemukan dan membawa pulang mereka yang hilang. Bila tidak jangan kita memperpanjang barisan orang-orang yang menjadi penyebab sesama kehilangan kesemptan untuk menikmati indahnya hidup bersama. Ingat, kesalahan sesame bukanlah akhir dari riwayat hidup mereka, setiap pendosa masih punya masa depan. Untuk itu kesemptan mesti kita beri kepada mereka.

“Tugas kita adalah mencari, menemukan dan membawa mereka yang hilang kembali mengambil bagian dalam hidup bersama”.
[ back ]