Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 14-09-2010 | 21:08:37
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : HIDUP ANDA, CERMIN ANDA
Lukas 2:33-35,Rabu, 15 September 2010

Kita sudah biasa bercermin bahkan mungkin saat ini anda sedang melihat diri anda di hadapan sebuah cermin; apakah anda masih seperti dahulu atau sudah agak berubah. Untuk bercermin kita tidak saja membutuhkan sepotong kaca, kita bisa menggunakan apa saja yang mampu memantulkan kembali bayangan kita. Kalau berhubungan dengan hidup, kita dapat bercermin diri pada hidup sesama, mereka yang ada di sekitar kita dan sebaliknya diri kita bisa dijadikan cermin oleh sesama untuk menata dirinya menjadi jauh lebih baik. Karena itu saya mengatakan hidup anda adalah cermin anda; orang bisa menilai siapa anda dan mereka bisa menjadikan anda santar kehidupan mereka. Pola pikir inilah yang mesti kita sadari dan kita hidupi dalam kebersamaan. Penekanan akan pentingnya hal ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam kebersamaan kita berhubungan dengan pola hidup kita. Boleh jadi karena kita hanya bisa bercermin pada sepotong kaca atau benda-benda yang cuma dapat memantul bayangan diri kita dalam sesaat tetapi tidak merubah kisah hidup kita dan kita masih belum menyadari ataupun menutup mata kita terhadap kehadiran dan hidup sesama yang sebenarnya bisa kita jadikan cermin kehidupan kita. Karena ada dalam kebersamaan, hal ini bukan lagi satu kewajiban tetapi mesti dilihat sebagai satu panggilan jiwa. Di hadapan kebersamaan, mestinya kita menjadi contoh yang baik, siapa dan apapun peran kita di sana. Nilai-nilai hidup model ini sudah kita dapatkan sejak dini, mulai dengan cara mencontohi sampai kepada kebiasaan menghidupi apa yang diajarkan kepada kita sehingga bukan lagi satu tindakan yang dipaksakan dari luar tetapi diekspresikan sebagai bagian dari diri sendiri. Tetapi semuanya ini bergantung dari dalam keluarga mana kita dilahirkan dan dibesarkan; Apakah kita berasal dari keluarga yang tumbuh dan besar dalam nilai-nilai ini atau kita berasal dari keluarga yang telah menjadi kumpulan individu-individu yang berada di bawah satu atap tetapi masing-masing pribadi hidup dengan dunianya sendiri.

Kita sudah biasa mendengar orang mengatakan, “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang gala”. Kata-kata ini hendak membandingkan model kasih seorang ibu dan bentuk kasih seorang anak. Kasih model ini kita temukan pada hidup bunda Maria yang hari ini kita rayakan peringatan pestanya sebagai “bunda berdukacita”. Maria tidak saja bersedia menjadi bunda Tuhan tetapi siap mengikuti seluruh perjalanan, suka dan duka anaknya mulai dari Betlehem sampai ke Kalvari di bawah kaki salib. Dia tidak hanya hadir di saat anaknya disanjung karena mukjizat-mukjizatNya tetapi dengan tabah menyaksikan bagaimana anaknya ditolak, dianiaya bahkan disalibkan. Hal ini dia lakukan karena dia yakin akan kebenaran kata-kata Simeon, “anakmu akan menjadi sumber kebanggaan dan kejatuhan banyak orang di Israel. Karena itu, perayaan hari ini merupakan satu perayaan di mana kita diundang untuk bercermin pada hati sang bunda, hati yang penuh kasih, hati yang mau ikut merasakan apa yang dirasakan sesama; melihat hati macam mana yang sedang kita miliki dan menata hati kita agar hati sang bunda menjadi hati kita juga. Di jaman di mana banyak orang/keluarga yang karena mengejar pemenuhan kebutuhan material, sudah tidak lagi berhati untuk mengajari anak-anak mereka menghidupi kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga entah yang berhubungan dengan kehi-dupan religius maupun kehidupan bermasyarakat; kita diajak untuk menata kembali bangunan kebiasaan ini; melihat bahwa penanaman nilai-nilai luhur kehidupan bersama tidak boleh diabaikan walaupun kehidupan ekonomi sangat menuntut. Di era di mana banyak orang tua tidak lagi menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya, seperti Maria, kita dipanggil untuk bersatu, menemukan kembali hati yang hilang, kebahagiaan bersama yang menjadi impian setiap orang. Maria setia membesarkan Yesus dan sejak awal memperkenalkan Dia dengan apa yang di-minta oleh hukum Taurat. Sadarkah kita bahwa anak-anak kitapun dan kita sendiri akan demikian adanya, menjadi lambang kebanggaan atau sumber malapetaka bagi keluarga? Seperti Maria, mestinya orang tua, kita menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kita, orang-orang di sekitar kita karena perilaku anak mengekspresikan apa yang diperolehnya dari orang tua mereka. Banyak anak yang menjadi dewasa sebelum umur karena tidak diperhatikan atau kelewat dimanjakan oleh orang tuanya sehingga mereka tidak memiliki hatinya sendiri. Dengarlah, mengapa kata-kata kotor begitu lancar keluar dari mulut anak-anak tanpa rasa bersalah, karena di rumah mereka terbiasa men-dengar kata-kata yang sama keluar dari mulut orang tua mereka. Mereka suka berperang karena orang tua gemar bertengkar. Di dunia di mana orang lebih banyak menggunakan otak untuk menanggapi setiap soal, kita diajak untuk memiliki hati sang bunda yang berusaha menyimpan semuanya dalam hati; mencernanya dalam diam dan menghidupinya. Apakah sikap seperti ini dapat kita hidupi?

Hati adalah segalanya; ia bisa mengalirkan rahmat yang menghidupkan, dari tempat yang sama dunia hidup kita bisa hancur berantakan. Dia bisa menjadi tempat tumbuh rasa kasih yang mempersatukan, darinya bisa hadir rasa benci yang mencerai-beraikan. Di jaman ini, banyak orang yang terserang penyakit hati yang sangat membahayakan baik diri maupun orang lain; kitalah yang mesti merasa terpanggil untuk menyembuhkan penyakit-penyakit ini, mulai dari diri kita sendiri, dari rumah tempat di mana kita ada dan mengais hidup. Bila kita tidak sanggup memberi kesembuhan biarlah kita bercermin pada hati sang bunda yang coba merekam semuanya dalam diam dan berusaha menyembuhkannya dengan cara hidup kita sendiri. Seperti Maria, kita mesti ingat akan kata-kata Simeon, “anda bisa menjadi sumber kebanggaan tetapi bisa juga menjadi biang kejatuhan banyak orang di sekitar anda”. Bila hidupnya menjadi hidup kita Yesus pasti mau kahir dan hadir di mana kita ada dan mengais hidup. Hanya dengan cara ini, hati dan hidupnya dapat menjadi hati dan hidup kita.

“Kalau anda tidak dapat menjadi cermin hidup bagi sesama, biarkan anda memupuk kesediaan dan kerendahan hati untuk bisa bercermin diri pada hidup sesama”.
[ back ]