Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 28-06-2009 | 08:33:39
By : Ermiold Manehat, SVD
Theme : ‘JANGAN LUPA KENAL DIRI’

(Mateus 16:13-19, Senin, 29 JUNi 2009)
Masih ingatkah anda akan orang-orang yang pernah anda kenal dan apa kesan anda terhadap mereka? Tiap orang pasti hadir dengan kisahnya sendiri, ada yang luar biasa, ada yang biasa saja dan ada yang membuat anda biasa di luar. Saya yakin sudah tidak terhitung lagi siapa saja yang anda kenal bahkan mungkin yang lain mulai samar bayangannya. Hal ini wajar dan sangat manusiawi. Lebih dari itu mungkin juga anda sedang memikirkan orang yang baru anda kenal atau jurus-jurus mana yang harus anda gunakan untuk mendekati pribadi yang mulai mencuri hatimu dan membuat anda melewatkan detak-detik sang waktu dalam gelisah. Mengenal yang lain adalah tuntutan ada bersama. Di sini dapat terjadi kita berusaha mengenal yang lain secara detail lalu lupa mengenal diri sendiri. Tetapi untuk menempatkan diri secara tepat dalam kebersamaan; mengenal diri sendiri adalah tuntutan yang paling azasi; satu conditio sine quo non. Mengenal yang lain tanpa mengenal diri adalah kelemahan, mengenal diri tanpa mengenal yang lain adalah kesalahan; kita akan terjebak dalam keakuan dan yang lain akan kehi-langan arti. Ingat, kita akan menghadapi aneka soal ketika kita tidak mengenal siapa diri kita dalam kebersamaan.

Hari ini kita merayakan pesta dua tokoh besar gereja awal yaitu Petrus nelayan pemukat manusia dan Paulus penganiaya yang beralih menjadi pewarta. Hari ini kita diajak untuk mengenal siapa kita dalam kebersamaan. Pentingnya mengenal diri bukan baru disadari manusia-manusia era globalisasi ini tetapi sudah sejak adanya manusia. Mengenal diri merupakan kunci merubah dunia; kita dapat mengetahui di mana kelebihan kita dan apa yang menjadi kekurangan kita. Mateus berkisah, suatu hari entah kapan dua ribu tahun silam, di tengah perjalanan Yesus mengajukan pertanyaan ini; kata orang dan katamu ‘siapa Aku ini?’ Yesus ingin mengatahui tanggapan mereka tentang diriNya, pengaruh kehadiranNya di antara mereka. Ia ingin mengevaluasi diriNya berdasarkan tanggtapan para pende-ngarNya dan para muridNya. Lewat pertanyaan ini Yesus ingin tahu sudah sedalam apa pengetahuan mereka tentang diriNya dan juga untuk memurnikan motivasi mereka yang mengikuti Dia. Kalau kamu mau mengikuti Aku kamu harus mengenal siapa Aku. Dengan mengenal siapa Aku, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Yesus tidak mau mereka mengikuti Dia secara buta berdasarkan kesan sesaat; Ia tidak mau mereka tenggelam dalam massa. Putusan untuk mengikuti Dia harus merupakan putusan pribadi berdasarkan pengalaman ada bersama Dia seperti apa yang dilakukan oleh Petrus dan Paulus. Mengikuti seseorang tanpa mengenalnya adalah kekonyolan. Mengenal Yesus memungkin-kan para murid mengetahui kewajibannya sendiri, apa yang harus mereka lakukan, bagaimana menempatkan diri mereka dalam kebersamaan. Di sisi lain hendak ditegaskan bahwa pandangan orang lain tentang diri kita adalah penting dan keterbukaan diri untuk menerimanya sangat perlu. Tanpa sikap ini, kita akan kehilangan orientasi hidup dan akan sulit bagi kita menempatkan diri dalam kebersamaan. Yang terpenting adalah keberanian diri untuk membuka diri dan menerima apa saja kata orang tentang diri kita. Apakah kita siap mendengar terang dan gelap hidup kita?

Pernahkah pertanyaan ini menjadi pertanyaan kita atau pernahkah kita bertanya diri; ‘siapa saya ini’? Pertanyaan Yesus mesti menjadi pertanyaan kita walaupun kita takut mendengar yang negatif tentang kita. Bila pertanyaan yang sama diajukan kepada kita, apa jawaban kita? Kita sudah mengenal begitu banyak orang tetapi kita belum cukup mengenal Yesus dan diri sendiri, kita baru berada pada tahap mengetahui siapa Yesus dan siapa kita itu. Bila kita sudah cukup mengenal Dia dan paham akan diri sendiri tentu kita tahu apa yang harus kita lakukan dalam kebersamaan sebagai orang-orang kristen. Kalau kita mengenal diri dan tahu apa yang harus kita lakukan dalam kebersamaan, ceritera dunia ini pasti lain seperti yang telah dilakukan oleh Petrus dan Paulus. Dunia akan berubah kalau kita siap berubah, perubahan itu hanya mungkin dimulai dari diri sendiri. Untuk itu kita perlu kenal diri. Apakah kita bersedia untuk itu?

[ back ]