Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 21-07-2010 | 20:22:52
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : 'TETAP BUAT BAIK'
Mateus 12:14-21, Sabtu, 17 Juli 2010

Apakah suasana hati anda pagi ini masih seperti kemarin? Saya harap sudah jauh lebih baik. Itulah hidup bersama yang sering menyajikan hal-hal di luar keinginan kita. Maksud baik kita sering disalahtanggapi atau mereka yang tidak kita sukai justeru disanjung orang lain. Satu kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri adalah kita selalu ada bersama orang lain, entah itu disukai ataupun tidak. Di sini kita perlu tahu bahwa berada bersama mereka yang lain memung-kinkan adanya saling pengaruh disadari ataupun tidak. Ini berarti apa yang kita lakukan punya pengaruh terhadap hidup orang-orang di sekitar kita dan sebaliknya apa yang mereka lakukan mempengaruhi irama hidup kita baik langsung maupun tidak. Pengaruh ini bersifat ganda; baik dan buruk sehingga yang baik bisa tetap baik, semakin baik atau sebaliknya jadi buruk dan yang buruk mungkin bertambah buruk. Lebih dari itu, bisa saja terjadi yang baik yang kita lakukan bisa mendapat tanggapan positif, bisa juga negatif bergantung dari sikap batin orang yang dengannya kita berinteraksi. Kita bisa saja disanjung, mungkin juga dibenci. Kebencian bisa saja muncul bila kebaikan yang kita lakukan membongkar kedok kejahatan mereka yang menyaksikan dan merasakan kebaikan kita. Menjadi bijak, kita butuh kejelian untuk menyerap pengaruh yang baik dan menghindari dampak negatif kehadiran yang lain.

Kita hadir dalam kebersamaan dilengkapi dengan aneka potensi yang memungkinkan kita memberi warna yang khas bagi kebersamaan itu. Selain itu di sana dalam kebersamaan itu kita punya kewajiban yang tidak boleh tidak mesti kita jalankan apapun situasi dan tanggapannya. Kalaupun ada tanggapan negatif terhadap apa yang kita lakukan, hal ini tidak boleh menyurutkan langkah kita mewujudkan panggilan kita sebagai orang-orang kristen, orang-orang yang hendak menjadikan hidup Yesus sebagai hidup kita sendiri. Apapun situasinya, seperti Yesus, di mana saja kita berada di sana kebaikan mesti dibagikan, keadilan mesti ditegakkan dan kebenaran mesti diserukan. Menghindari adanya soal dan membuat kehadiran kita berarti bagi yang lain, kita mesti bersedia belajar dari Yesus. Pertama; dariNya kita dapat belajar untuk tabah; kebencian dan bahaya tidak boleh memadamkan semangat kita untuk berbuat baik. Kenyataan menun-jukkan bahwa justeru kitalah yang cenderung menghalangi sesama berbuat baik, kita jatuh sakit bila kita melihat mereka melakukan kebaikan. Kedua, dari Dia kita belajar membiarkan apa yang kita lakukan berceritera tentang siapa kita. Di sini kecenderungan kita untuk bicara banyak tentang apa yang kita lakukan perlu diredam. Kita bangga bila semakin banyak orang mengetahui apa yang kita lakukan karena itu kita sendiri berusaha sekuat tenaga mewartakannya. Kita lupa bahwa usaha ini mengurangi nilai aksi kita. Ketiga, dariNya kita belajar menyadari bahwa kita adalah orang-orang pilihan, orang-orang yang berkenan di hati Allah. Kenyatakan menunjukkan bahwa banyak orang bingung dengan kehadiran kita karena pada kita tidak ada tanda-tanda bahwa kita adalah orang pilihan, orang yang berkenan. Kita sendiri yang mengaburkan identitas kita sehingga kehadiran kita sulit diterima. Keempat, seperti Dia, kepada kita pun dicurahkan Roh untuk memaklumkan hukum tetapi kita berada jauh dari posisi ini karena tempat roh ini telah kita gantikan dengan roh-roh kita sendiri yang bukannya mengajar kita untuk mewartakan hukum tetapi melawannya. Kelima, seperti Dia, mestinya kita suka akan suasana damai. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa kita lebih mencintai suasana perang, kita bangga bila ditakuti, kita takut bila kurang populer. Keenam, mestinya seperti Dia, di mana kita hadir di sana ada hidup dan pada kitalah sesama menggantung harapannya. Tetapi keseharian kita menunjukkan suasana sebaliknya, di mana kita hadir yang bersemangat kehilangan gairahnya dan yang kuat jadi tak berdaya karena diperdayai dan yang punya impian jadi frustrasi. Inikah jalan mengartikan hidup kita dalam kebersamaan?

Kita tidak menghendaki berada dalam situasi suram tetapi begitu sering kita membiarkan diri berada dalam situasi suram ini. Kita tidak bersedia belajar dari sesama bagaimana mengartikan hidup dan kehadiran kita dalam kebersa-maan. Tutur kata, tingkah laku dan hidup kita belum menampakan kekhasan kita sebagai orang pilihan, orang yang berkenan karena yang kita lakukan justeru sebaliknya. Seperti kaum Farisi, kita membenci mereka yang berbuat baik dan menggantikan tempat Roh dengan roh-roh ciptaan dan idola kita yang lebih banyak menimbulkan soal ketimbang menyembuhkan situasi. Siapapun kita dalam kebersamaan, kita dipanggil untuk bercermin dan menata hidup dan kehadiran kita di hadapan cermin kehadiran Yesus. Bila hidupNya telah menjadi hidup kita, hidup ini akan lain ceriteranya.

“Jangan pernah membenci sesame anda karena kebaikan yang mereka lakukan, bencilah diri anda bahwa anda tidak dapat melakukan hal yang sama”.
[ back ]