Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 21-07-2010 | 20:18:19
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘HIDUP ANDA BUKAN UKURAN’
Mateus 12:1-8, Jumat, 16 Juli 2010

Boleh jadi anda baru saja bangun tidur. Bukalah jendela kamar anda dan pandanglah, pagi yang cerah dan udara yang segar. Dengarlah bebunyian di sekitar rumah anda, mungkn saja suasana hati anda tidak seceria suasana pagi ini. Mengapa? Karena masih ada beban hari kemarin yang belum dituntaskan. Tetapi anda tidak perlu merasa rendah karena anda hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang punya lebih banyak soal. Dan hidup kita sendiri tidak menja-min bahwa kita akan bebas dari soal; hidup hanya menyediakan kemungkinan-kemungkinan bagaimana meredam ataupun mengatasi soal yang ada. Kitapun mesti menyadari bahwa kadang kita mempersoalkan apa yang sebenarnya bukan soal. Kita mempersoalkan keseragaman dan melihatnya begitu positif tanpa menyadari bahwa keseragaman dapat mematikan keunikan setiap pribadi; memberi peluang orang tenggelam dalam masa. Berhubungan dengan kewajiban kita dalam kebersamaan, soal muncul karena kita mau apa yang kita lakukan, dilakukan pula oleh orang lain. Kita tidak melihat manfaat dari aksi kita untuk diri, tetapi kita menggunakannya untuk mengukur kehidupan sesama. Patut dicatat motivasi yang picik merusak luhurnya nilai dari apa yang kita lakukan.

Musim yang tidak bersahabat dan harga pasar yang terus melambung, membuat beban hidup ini rasanya semakin hari semakin bertambah. Banyak orang yang lapar dan tidak sedikit tindakan kejahatan yang terjadi karena orang ingin bertahan hidup walaupun hidup yangakan dijalani tidak seperti yang mereka impikan. Lalu apakah anda sendiri pernah merasa lapar? Mateus berkisah bahwa ketika melintasi ladang gandum, karena rasa lapar yang tidak tertahan, para murid melakukan hal yang tidak diperbolehkan hukum sabath. Di sini kita menemukan kenyataan bahwa kelaparan, kehausan, kekurangan dan penderitaan bisa membuat orang bertindak nekad. Dan tindakan para murid ini memunculkan aksi protes dari kaum Farisi yang melihat bahwa tindakan para murid melanggar adat istiadat Yahudi. Anehnya, tanggapan Yesus justeru biasa-biasa saja ketika ulah para muridNya dilaporkan kepadaNya. Kesempatan ini digunakan Yesus untuk menyadarkan mereka akan makna adat istiadat dan pelaksanaannya dalam kebersamaan. Yesus sepertinya membela para muridNya. Tetapi ini tidak dimaksudkan Yesus. Di satu sisi Ia hendak mengingatkan kita bahwa kekurangan kita tidak boleh dijadikan alasan untuk melanggar hukum. Dan yang terpenting bukan pelaksanaan hukum tetapi kesadaran dan keterbukaan manusia untuk menerima kenyataan bahwa hukum punya nilai bagi diri dan sesama. Pelaksanaan hukum/adat istiadat, apapun bentuknya, harus dilandasi kesadaran bahwa hal itu pertama-tama bermanfaat bagi yang melaksanakannya. Di sisi lain, Yesus mengingatkan bahwa apa yang kita lakukan tidak perlu dijadikan alasan untuk mengukur kehidupan orang lain karena kita tidak punya hak menilai hidup sesama. Di sini motivasi kita menentukan nilai dari tindakan kita. Melakukan sesuatu dengan intensi mengukur kehidupan sesama, merusak, merendahkan luhurnya nilai dari apa yang kita lakukan. Kita tidak perlu banyak bicara tentang apa yang kita lakukan tetapi kita harus memberi waktu kepada apa yang kita lakukan untuk berceritera tentang siapa sebenarnya kita. Banyak soal muncul dalam hidup karena kita cenderung membuang tidak sedikit waktu berbicara tentang apa yang kita kerjakan ketimbang memberi banyak waktu agar apa yang kita kerjakan berbicara tentang kita. Mengapa hal ini perlu kita perhatikan karena bisa saja terjadi apa yang kita katakan melebihkan ataupun mengurangi apa yang kita lakukan. Kita harus membiarkan apa yang kita lakukan dijadikan cermin oleh sesama untuk menata hidupnya. Selain itu hati dan tindakan kita mesti sejalan; apa yang kita katakan ialah apa yang sedang kita hidupi dan apa yang kita hidupi itulah yang mestinya kita katakan.

Melihat kenyataan yang ada kita bertanya, ‘di mana nilai lebih yang kita miliki sebagai orang-orang kristen dalam kehidupan bersama? Apakah hidup kita sudah jauh lebih baik dari pada kaum Farisi ataukah kita adalah kaum Farisi jaman ini bahkan lebih buruk dari mereka? Bila kita jujur, kita harus mengakui bahwa kita baru berada pada tahap mengetahui adat istiadat yang berlaku tetapi belum memahami mengapa kita mentaatinya dan menghidupinya. Mungkinkah kita adalah para murid yang suka melanggar adat yang berlaku entah itu disadari ataupun tidak? Siapapun kita, seperti Yesus, kita pun mesti siap untuk membawa pulang sesama yang kurang memahami bagaimana seharusnya hidup bersama. Yang terpenting adalah biarkan apa yang kita lakukan berbicara tentang kita dan jangan pernah melakukan sesuatu hanya untuk menilai hidup sesama, bila ini terjadi kitalah yang merusak luhurnya nilai dari apa yang kita kerjakan.

“Kita memiliki kelebihan sekaligus kekurangan dan kebersamaan menjadi arena di mana kita bisa saling melengkapi dan saling memperkaya”.
[ back ]