Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 21-07-2010 | 20:14:57
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘BELAJAR DARI YESUS’
Mateus 11:28-30, Kamis, 15 Juli 2010

Dalam syairnya, ‘Me ultimo adios’ Jose Rizal menulis, ‘betapa indah aku jatuh tersungkur agar kau dapat bangkit, betapa manisnya ajal agar kau dapat hidup’. Penggalan syair ini begitu sederhana tetapi dalam kesederhanaan itu, syair ini mengungkapkan rahasia kehidupan ini, bagaimana menjadikan hidup kita berarti bagi orang lain. Nilai kehadiran kita bergantung dari kesediaan kita untuk berkorban demi orang lain, sesama kita. Hidup kita hanya berarti bila kehadiran kita membuat sesama berarti, mereka menemukan kesejatian dirinya dalam dan melalui kehadiran kita. Kata-kata ini juga merupakan kritikan bagi kita yang menghendaki diri kita disanjung tetapi yang kita lakukan justeru sebaliknya; sikap, tingkah laku dan tutur kata kita sendiri merusak arti dari keheadiran kita. Kita memanipulasi situasi hidup sesama demi diri kita sendiri bahkan untuk itu kita tidak segan-segan mengorbankan sesama. Kita begitu mudah mengorbankan sesama ketimbang mengorbankan diri kita sendiri. Atas nama kepentingan untuk, banyak orang menarik keuntungan bagi dirinya sendiri.

Di berbagai media, kita menyaksikan, mendengar ataupun membaca tentang berbagai tindak kekerasan yang bukan saja meresahkan tetapi juga sampai mengorbankan nyawa dan harta. Tidak sedikit orang yang menggunakan cara-cara yang keras untuk menghadapi dan menyelesaikan soal yang mereka hadapi. Hasilnya, soal tidak terselesaikan dan dendam ditumbuhkembangkan. Inilah yang membuat hidup semakin sulit dijalani, apa yang kita impikan rasanya mustahil jadi kenyataan. Kekerasan dan cinta diri yang berlebihan telah merusak kebersamaan kita dan menjauhkan kita dari impian kita. Situasi ini menantang kita bagaimana menemukan dan mengartikan hidup dan kehadiran kita di antara yang lain. Untuk memulihkan situasi suram ini, mengartikan kehadiran kita di antara mereka yang lain, Yesus mengajak kita untuk belajar dari Dia. Kehadiran kita mesti menyerupai kehadiranNya. Lihatlah, di mana Dia hadir di sana banyak mukjizat terjadi; yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengar, yang buta melihat, yang mati dibangkitkan, yang kurang percaya diyakinkan, roti digandakan dan air dirubah jadi anggur. Bercermin pada hidup dan kehadiranNya, kita mesti mengakui kelemahan kita. Kita adalah orang-orang beriman tetapi hidup kita masih jauh dari iman yang kita miliki. Kehadiran kita bukannya memberi nilai tambah tetapi justeru sebaliknya merusak kebersamaan dan menurunkan nilai kehadiran kita. Kehadiran kita bukannya memberi kelegaan tetapi justeru manghadirkan dan memperbesar rasa gelisah; dalam kebersamaan kita bukannya hadir sebagai pemadam kebakaran tetapi sebagai penyulut berkorbannya api kekerasan. Di mana kita hadir di sana yang disaksikan bukannya peristiwa perba-nyakan roti tetapi peristiwa pemiskinan sesama; di mana kita hadir suasana pesta berubah menjadi suasana duka. Hidup kita hanya mungkin berarti dan banyak soal dalam hidup dapat dihindari/dikurangi bila kita membiarkan kelemahlembutan mendapat tempat hidup yang layak dalam hati dan hidup kita. Kekerasan telah merusak tatanan sosial yang ada, hidup bersama tidak lagi menjadi peluang membuat impian kita jadi kenyataan tetapi menjauhkan kita dari apa yang kita impikan. Kekerasan melebarkan wilayah masalah, mempersulit diri, kelemahlembutan mampu meredam kekerasan dan mempersempit area masalah. Hanya saja kita lebih mengandalkan kekerasan ketimbang menumbuhkembang-kan kelemahlembutan dalam diri karena kita bangga bila ditakuti. Padahal kita diciptakan bukan untuk menjadi binatang buas bagi yang lain. Selain itu, hidup kita hanya mungkin berarti bila kita punya sikap rendah hati. Hal ini sulit dijalankan dalam keseharian kita tetapi justeru dalam kesulitan ini kesejatian iman kita diuji. Jangan pernah menganggap remeh sesamamu karena di saat anda meremehkan mereka di saat itu tanpa sengaja anda telah menciptakan jurang pemisah antara kita dengan kita.

Situasi suram hidup ini kian hari kian menakutkan. Ke dalam situasi seperti inilah kita diutus dan dalam situasi seperti inilah senar kehidupan kita digetarkan. Apa yang mesti kita lakukan untuk membangun kembali fisdaus yang hilang? Kita mesti membuat kehadiran kita berarti bagi sesama. Jalan yang ditempuh adalah mengartikan hidup kita sendiri, menjadikan hidup Yesus sebagai hidup kita sendiri, membiarkan kelemahlem-butan menguasai seluruh laku kita dan kerendahan hati menjadi dasar pijak setiap aksi kita saat hendak membuat sejarah. Kekerasan tidak memberi apa-apa selain melukai hati dan membangkitkan dendam; kelemahlembutan punya daya magis yang mampu mencairkan kebekuan sebuah hati dan kerendahan hati adalah jembatan yang mempertemukan segala perbedaan. Mengartikan hidup anda, siaplah belajar dari Yesus sang guru.

“Kekerasan tidak memberi apa-apa selain membuat kita kehilangan banyak hal yang kita kejar dalam hidup”.
[ back ]